Wali yang Tidak Dikenal


Suatu kali, kemarau panjang yang keras dan getas melanda Mekah. Saat itu Abdullah bin Al-Mubarak, seorang ulama besar, sedang berada di sana. 

Seperti diceritakan sang ulama, para penduduk Mekah pergi ke Arafah guna melakukan salat istisqa’ (salat minta hujan). Tetapi, hujan yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba. Malah terik mentari kian memanas. Bumi meranggas panas. 
Hari Jumat, kembali mereka datang ke Arafah. Mereka berduyun-duyun ke sana usai salat Jumat, lalu melakukan salat istisqa’.
Di antara orang-orang itu ada seorang lelaki kulit hitam yang menarik perhatian Ibnul Mubarak. Badannya kurus, fisiknya lemah. Ibnul Mubarak terus memperhatikan lelaki tersebut. 

Sampai di Arafah, lelaki itu salat sunnah dua rakaat. Kemudian dia berdoa lalu bersujud. Dalam sujudnya dia berkata, “Demi kemuliaan-Mu, aku tidak akan mengangkat kepalaku dari sujud ini sampai Engkau menyiram hamba-hamba-Mu.” 
Tiba-tiba Ibnul Mubarak melihat sekerat awan di langit. Sepotong awan lagi muncul lalu bergabung dengan awan tadi. Begitulah seterusnya hingga awan itu menebal. Dari situ kemudian hujan turun, seperti mulut-mulut kedekatan pada Allah. Lelaki itu mengucap ‘alhamdulillah’ lantas pulang. 
Ibnul Mubarak membuntutinya. Lelaki itu terus berjalan hingga masuk ke rumah pedagang hamba sahaya. Ibnul Mubarak membalikkan badan lantas pulang. 
Esok paginya Ibnul Mubarak mengantongi sejumlah uang dinar dan dirham. Kemudian dia mendatangi rumah pedagang budak kemarin. “Saya mau beli seorang budak,” katanya. Pemilik rumah lantas menyuruh budak-budak beliannya keluar. Ada 30 orang yang ditawarkan. Ibnul Mubarak memperhatikan wajah mereka satu per satu. Tak satu pun berwajah lelaki kemarin.
“Masih ada yang lain?” tanya Ibnul Mubarak. 

“Ada,” jawab si penjual. “Tapi dia seorang lelaki lemah dan pendiam. Tidak pernah mau bicara dengan siapapun.” 
“Suruh dia keluar. Perlihatkan padaku.” 

Si penjual mengeluarkan seorang budak lagi yang tak lain adalah lelaki yang dilihat Ibnul Mubarak di Arafah. “Berapa harganya yang ini,” tanyanya. 
“Dua puluh dinar. Tetapi untuk Anda, saya korting lima puluh persen. Cukup Anda bayar sepuluh dinar saja.” 
“Tidak, aku malah akan menaikkan harganya. Dia saya bayar dengan 27 dinar.” 

Tentu saja si penjual senang. 
Ibnul Mubarak lantas memegang tangan si budak dan membawanya pulang. Sampai di rumah si budak bertanya, “Tuan, mengapa Tuan membeli saya, sedang saya tidak kuat apa-apa? Saya kan tidak bisa melayani Tuan dengan baik.” 
“Justru saya membeli Anda supaya Anda menjadi majikan saya dan saya menjadi pelayan Anda,” jawab Ibnul Mubarak.

“Mengapa Tuan berbuat begitu?” 

“Saya melihat Anda kemarin berdoa kepada Allah dan Allah langsung mengabulkan doa Anda. Dari situ saya tahu karomah Anda.” 

“Anda melihat itu?” tanya si budak. 

“Ya.” 

“Lantas, apakah Tuan akan memerdekakan saya?” 

“Sekarang Anda merdeka karena Allah semata.” 

Tiba-tiba terdengar suara gaib, “Ibnul Mubarak, berbahagialah karena Allah telah mengampuni dosamu.” 
Akan halnya si lelaki, dia mengambil air wudhu’ lalu salat sunnah dua rakaat. Setelah itu dia berkata, “Alhamdulillah, ini adalah pemerdekaan dari majikan kecilku, bagaimana bila mendapat pemerdekaan dari Majikan Besarku?” 
Eh, dia berwudhu’ lagi lalu salat sunnah dua rakaat. Usai itu, dia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, berdoa, “Tuhan, Engkau tahu aku telah beribadah pada-Mu selama 30 tahun, dan bahwa perjanjian di antara aku dan Engkau adalah, Engkau tidak akan membuka tabir rahasiaku. Sekarang Engkau telah menyingkapkan tabir itu, karenanya ambillah aku, cabutlah nyawaku.” 
Seketika itu dia pingsan. Ketika Ibnul Mubarak mendekat, nyawanya telah melayang. Dia berpulang ke rahmatullah. Ibnul Mubarak lalu mengurus jenazahnya. Dari sejak memandikan, mengkafani hingga menguburkannya.  
Selalu ada orang-orang seperti itu ditengah-tengah kita, hanya saja karena kotornya hati kita tidak bisa mengenalinya. 
Semoga Allah membersihkan hati kita, dan memberkahi kita berkat mereka.
Amiiinn Yaa Robbal ‘Alamin.
✒️ Ustadz Muhammad Husein Al Habsyi 

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

Advertisements

Hukum Peringatan 3, 7, 20, 40, 100 Hari Orang Yang Meninggal


​سْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

لا حول ولا قوة إلا بالله

Membahas Peringatan 3, 7, 20, 40, 100 Hari Orang Yang Meningga

Tradisi yang berkembang dikalangan NU, jika ada orang yang meningal, maka akan diadakan acara tahlilan, do’a, dzikir fida dan lain sebagainya. Untuk mendo’akan orang yang meningal dan biasanya dibarengi dengan jamuan makanan sebagai sodaqoh untuk simayit. Dalil yang digunakan hujjah dalam masalah ini yaitu sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Hawi li-Al-Fatawi li as-syuyuti, Juz II, hlm 183
قَالَ طَاوُسِ: اِنَّ اْلمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِىْ قُبُوْرِهِمْ سَعًا فَكَانُوْا يُسْتَحَبُّوْنَ أَنْ يُطْعِمُوْا عَنْهُمْ تِلْكَ اْلاَيَّامِ-اِلَى اَنْ قَالَ-عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرِ قَالَ: يُفْتَنُ رَجُلَانِ مُؤْمِنٍ وَمُنَافِقٍ فَأَمَّا اْلمُؤْمِنُ فَيُفْتَنُ سَبْعًا وَاَمَّا الْمُنَافِقُ يُفْتَنُ اَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا.

Imam Thawus berkata : seorang yang mati akan beroleh ujian dari Alloh dalam kuburnya selama tujuh hari. Untuk itu, sebaiknya mereka (yang masih hidup) mengadakan sebuah jamuan makan (sedekah) untuknya selama hari-hari tersebut. Sampai kata-kata: dari sahabat Ubaid Ibn Umair, dia berkata: seorang mu’min dan seorang munafiq sama-sama akan mengalami ujian dalam kubur. Bagi seorang mu’min akan beroleh ujian selama 7 hari, sedang seorang munafik selama 40 hari diwaktu pagi.

Dalil diatas adalah sebuah atsar yang menurut Imam As-Syuyuty derajatnya sama dengan hadis marfu’ Mursal maka dapat dijadikan hujjah makna penjelasannya:

اِنَّ أَثَرَ طَاوُسَ حُكْمُهُ حُكْمُ اْلحَدِيْثِ الْمَرْفُوْعِ اْلمُرْسَلِ وَاِسْنَادُهُ اِلَى التَّابِعِى صَحِيْحٌ كَانَ حُجَّةً عِنْدَ اْلاَئِمَّةِ الثَّلَاثَةِ اَبِي حَنِيْفَةَ وَمَالِكٍ وَاَحْمَدَ مُطْلَقًا مِنْ غَيْرِ شَرْطٍ وَاَمَّا عِنْدَ الشَّافِعِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَاِنَّهُ يَحْتَجُ بِاْلمُرْسَلِ اِذَا اعْتَضَدَ بِاَحَدِ أُمُوْرٍ مُقَرَّرَةٍ فِى مَحَلِهَا فِيْهَا مَجِيْئِ آخَرَ اَوْ صَحَابِيِّ يُوَافِقُهُ وَالْاِعْتِضَادِ هَهُنَا مَوْجُوْدٌ فَاِنَّهُ رُوِيَ مِثْلُهُ عَنْ مُجَاهْدِ وَعَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرِ وَهُمَا تَابِعِيَانِ اِنْ لَمْ يَكُنْ عُبَيْدٌ صَحَابِيًا.

Jka sudah jadi keputusan, atsar (amal sahabat Thawus) diatas hukumnya sama dengan hadist Marfu’ Mursal dan sanadnya sampai pada tabi’in itu shahih dan telah dijadikan hujjah yang mutlak(tanpa syarat) bagi tiga Imam (Maliki, Hanafi, Hambali). Untuk Imam as-Syafi’i ia mau berhujjah dengan hadis mursal jika dibantu atau dilengkapi dengan salah satu ketetapan yang terkait dengannya, seperti adanya hadis yang lain atau kesepakatan Shahabat. Dan, kelengkapan yang dikehendaki Imam as-Syafi’i itu ada, yaitu hadis serupa riwayat dari Mujahid dan dari ubaid bin Umair yang keduanya dari golongan tabi’in, meski mereka berdua bukan sahabat.
Lebih jauh, Imam al-Syuyuti menilai hal tersebut merupakan perbuatan sunah yang telah dilakukan secara turun temurun sejak masa sahabat. Kesunnahan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan perbuatan yang tetap berlaku hingga sekarang (zaman imam as-Syuyuti, abad x Hijriyah) di mekah dan Madinah. Yang jelas, kebiasaan itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat Nabi Muhammad SAW sampai sekarang ini, dan tradisi itu diambil dari Ulama Salaf sejak generasi pertama (masa Sahabat Nabi Muhammad SAW).” Selanjutnya dalam Hujjah Ahlussunnh Wal jama’ah, juz 1 hlm. 37 dikatakan:
قَوْلُهُ-كَانُوْا يُسْتَحَبُّوْنَ-مِنْ بَابِ قَوْلِ التَّابِعِي كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ-وَفِيْهِ قَوْلَانِ لِاَهْلِ الْحَدِيْثِ وَاْلاُصُوْلِ أَحَدُهُمَا اَنَّهُ اَيْضًا مِنْ بَابِ اْلمَرْفُوْعِ وَأَنَّ مَعْنَاهُ: كَانَ النَّاسُ يَفْعَلُوْنَ فِى عَهْدِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَعْلَمُ بِهِ وَيُقِرُّ عَلَيْهِ.

(Kata-kata Imam thawus), pada bab tentang kata-kata Tabi’in, mereka melaksanakannya. Dalam hal ini ada dua pendapat: pendapat ahli Hadis dan Ahli Ushul yang salah satunya termasuk hadis Marfu’ maksudnya orang-orang dizaman Nabi melaksanakan hal itu, Nabi sendiri tahu dan menyetujuinya. Dalam kitab Nihayah al-Zain, Juz I, halaman 281 juga disebutkan:
وَالتَّصَدُّقُ عَنِ اْلمَيِّتِ بِوَجْهٍ شَرْعِيٍّ مَطْلُوْبٌ وَلَا يُتَقَيَّدُ بِكَوْنِهِ فِيْ سَبْعَةِ اَيَّامٍ اَوْ اَكْثَرَ اَوْ اَقَلَّ وَتَقْيِيْدُهُ بِبَعْضِ اْلاَيَّامِ مِنَ اْلعَوَائِدِ فَقَطْ كَمَا اَفْتَى بِذَلِكَ السَّيِّدِ اَحْمَدء دَحْلَانِ وَقَدْ جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ بِالتَّصَدُّقِ عَنِ اْلمَيِّتِ فِي ثَالِثٍ مِنْ مَوْتِهِ وَفِي سَابِعٍ وَفِيْ تَمَامِ اْلعِشْرِيْنَ وَفِي اْلاَرْبَعِيْنَ وَفِي الِمأَةِ وَبِذَلِكَ يُفْعَلُ كُلَّ سَنَةٍ حَوْلًا فِي اْلمَوْتِ كَمَا اَفَادَهُ شَيْخَنَا يُوْسُفُ السُنْبُلَاوِيْنِيْ.

Di anjurkan oleh syara’ shodaqoh bagi mayit,dan shodaqoh itu tidak di tentukan pada hari ke tujuh sebelumnya maupun sesudahnya.sesungguhnya pelaksanaan shodaqoh pada hari-hari tertentu itu cuma sebagai kebiasaan (adat) saja,sebagaimana fatwa Sayid Akhmad Dahlan yang mengatakan ”Sungguh telah berlaku dimasyarakat adanya kebiasaan bersedekah untuk mayit pada hari ketiga dari kematian, hari ketujuh, dua puluh, dan ketika genap empat puluh hari serta seratus hari. Setelah itu dilakukan setiap tahun pada hari kematiannya. Sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Yusuf Al-Sumbulawini.

Adapun istilah 7 “tujuh hari” dalam acara tahlil bagi orang yang sudah meninggal, hal ini sesuai dengan amal yang dicontohkan sahabat Nabi SAW. Imam Ahmad bin Hanbal RA berkata dalam kitab Al-Zuhd, sebagaimana yang dikutip oleh Imam Suyuthi dalam kitab Al-Hawi li Al-Fatawi:
حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ اْلقَاسِمِ قَالَ حَدَّثَنَا اْلأَشْجَعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ قَالَ: قَالَ طَاوُسُ: إِنَّ اْلمَوْتَ يُفْتَنُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعِمُوْا عَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَيَّامِ (الحاوي للفتاوي,ج:۲,ص:۱۷۸(

“Hasyim bin Al-Qasim meriwayatkan kepada kami, ia berkata, “Al-Asyja’i meriwayatkan kepada kami dari Sufyan, ia berkata, “Imam Thawus berkata, “Orang yang meninggal dunia diuji selama tujuh hari di dalam kubur mereka, maka kemudian para kalangan salaf mensunnahkan bersedekah makanan untuk orang yang meninggal dunia selama tujuh hari itu” (Al-Hawi li Al-Fatawi, juz II, hal 178) Imam Al-Suyuthi berkata:
أَنَّ سُنَّةَ اْلإِطْعَامِ سَبْعَةَ أَيَّامٍ بَلَغَنِي أَنَّهَا مُسْتَمِرَّةٌ إِلَى اءلآنَ بِمَكَّةَ وَاْلمَدِيْنَةَ فَالظَّاهِرُ أَنَّهَا لمَ ْتَتْرُكْ مِنْ عَهْدِ الصَّحَابَةِ إِلَى اْلآنَ وَأَنَّهُمْ أَخَذُوْهَا خَلَفًا عَنْ سَلَفٍ إِلَى الصَّدْرِ اْلأَوَّلِ (الحاوي للفتاوي،ج:۲،ص:۱۹2(

“Kebiasaan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan kebiasaan yang tetap berlaku hingga sekarang (zaman imam Suyuthi, sekitar abad IX Hijriah) di Makkah dan Madinah. Yang jelas, kebiasaan itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat Nabi SAW sampai sekarang ini, dan tradisi itu diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama (masa sahabat SAW)” (Al-Hawi li Al-Fatawi, juz II, hal 194) Dari beberapa dalil diatas dapat disimpulkan bahwa kebiasaan masyarakat NU tentang penentuan hari dalam peringatan kematian itu dapat dibenarkan secara syara’.
#Ustadz Ulinuha Asnawi.

Puncak Agama Adalah Cinta


PUNCAK AGAMA ADALAH CINTA
Dalam Whirling Darwis, tangan kanan menengadah ke atas adalah simbol meminta rahmat dan kenikmatan, sedang tangan kiri menelungkup adalah simbol menebarkan rahmat dan kenikmatan ”cinta” yang telah didapat kepada sekitar kita.

 

Ada sebuah kisah, sewaktu masih kecil, Sayidina Husain (cucu Rasulullah Saw.) bertanya kepada ayahnya, Imam  Ali : “Apakah engkau mencintai Allah?” 
Imam Ali  menjawab, “Ya”. 
Lalu Sayidina Husain bertanya lagi: “Apakah engkau mencintai kakek dari Ibu (Nabi Saw.) ?” 
Imam Ali kembali menjawab, “Ya”. 
Sayidina Husain bertanya lagi: “Apakah engkau mencintai Ibuku?” 
Lagi-lagi Imam Ali menjawab,”Ya”. 
Sayidina Husain kecil kembali bertanya: “Apakah engkau mencintaiku?” 
Imam Ali menjawab, “Ya”. 
Terakhir Sayidina Husain yang masih polos itu bertanya, “Ayahku, bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?” 
Kemudian Sayidina Ali menjelaskan: “Anakku, pertanyaanmu hebat! Cintaku pada kekek dari ibumu (Nabi Saw.), ibumu (Fatimah ra) dan kepada kamu sendiri adalah kerena cinta kepada Allah”. 
Karena sesungguhnya semua cinta itu adalah cabang-cabang cinta kepada Allah Swt. Setelah mendengar jawaban dari ayahnya itu Husain jadi tersenyum mengerti.
Dalam kitab Al-Mahabbah, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa cinta kepada Allah adalah tujuan puncak dari seluruh maqam spiritual dan ia menduduki derajad/level yang tinggi. “(Allah) mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (QS. 5: 54). 
Dalam tasawuf, setelah di raihnya maqam mahabbah ini tidak ada lagi maqam yang lain kecuali buah dari mahabbah itu sendiri. Pengantar-pengantar spiritual seperti sabar, taubat, zuhud, dan lain lain nantinya akan berujung pada mahabatullah (cinta kepada Allah).
Ada seorang murid bertanya kepada Gurunya, “ Guru apakah tanda seseorang itu cinta kepada Allah..?”
Sang Guru menjawab, “Orang tersebut mencintai dan menyayangi makhluk-Nya.”
Dalam kitab Su’bul Iman diterangkan bahwa salah satu cabang dari iman adalah menyingkirkan duri dari jalan, agar secara fisik orang tidak terluka karena duri tersebut. Secara hakikat kita harus menghilangkan duri-duri”penyakit-penyakit” dari hati kita, agar tindakan dan ucapan kita tidak menyakiti orang lain.

-+++++++++++++++++++++++

Suwun..Cahaya Gusti.

Mutiara nasehat Hatim Al Asham


Hatim al Asham adalah salah satu murid al Syaqiq al Balkhi. Suatu hari Syaqiq bertanya kepada dia, “kamu telah bersamaku selama 30 tahun. Lalu apa yang telah kamu dapatkan?”Hatim menjawab, “saya telah mendapatkan 8 faidah dari ilmu, dan it…u sudah cukup bagi saya karena saya mengharap keselamatan pada 8 faidah itu.” Syaqiq bertanya, “8 faidah itu apa saja?” Hatim menjawab, “

(faidah pertama) saya melihat semua makhluk mempunyai sesuatu yang dicintai dan rindui. Sebagian yang dia cintai hanya menemani dia sampai dia sekarat saja. Ada yang hanya menemani sampai pinggir kubur kemudian mereka semua kembali dan meninggalkan dia sendirian tidak ikut masuk kedalam kubur. Lalu saya berpikir, ‘kekasih terbaik seseorang adalah yang ikut masuk kedalam kubur dan membuat dia tentram didalamnya.’ lalu saya tidak menemukannya melainkan amal sholih saja. Kemudian saya menjadikan amal sebagai kekasih supaya dia mjd penerang kubur, penentranku dan tdk meninggalkanku sendirian.

‎(faidah kedua) aku telah melihat orang2 suka mengikuti hawa nafsunya dan cepat2 melakukan keinginan dirinya. Kemudian aku memikirkan firman Allah, “dan adapun orang yang takut pada makam Tuhannya dan mencegah dirinya dari kesenangannya, maka surga adalah tempat dia.” aku yakin kalau Qur’an adalah benar dan haq. Kemudian aku bersegera untuk menentang nafsuku dan aku bersiap2 untuk memerangi dan menghalanginya dari kesenangannya hingga nafsu bisa menjadi ridha untuk taat kepada Allah dan tunduk.

(faidah ketiga) aku melihat masing2 orang berusaha mengumpulkan harta dunia kemudian mereka menimbunnya dg tangannya tergenggam. Kemudian aku memikirkan firman Allah, “apa yang ada pada kalian akan hancur dan apa yg ada disisi Alloh adalah yg kekal.” kemudian aku serahkan harta dunia yg aku peroleh utk keridhaan Allah lalu aku bagikan kpd orang2 miskin supaya harta tsb nanti menjadi simpananku disisi Allah.

Read More

Ibnu Taimiyah ulama rujukan wahabi


MENGENAL SOSOK IBNU TAIMIYAH (661-728 H)
Sejarah Singkat Ibnu Taimiyah

Ahmad ibn Taimiyah lahir di Harran, Syiria, di tengah keluarga berilmu yang bermadzhab Hanbali. Ayahnya adalah seorang yang berperawakan tenang. Beliau dihormati oleh para ulama’ Syam dan para pejabat pemerintah sehingga mereka mempercayakan beberapa jabatan ilmiyah kepadanya untuk membantunya. Setelah ayahnya wafat, Ibnu Taimiyah menggantikan posisinya. Orang-orang yang selama ini mempercayai ayahnya, menghadiri majelisnya guna mendorong dan memotivasinya dalam meneruskan tugas-tugas ayahnya dan memujinya. Namun pujian tersebut ternyata justru membuat Ibnu Taimiyah terlena dan tidak menyadari motif sebenarnya di balik pujian tersebut. Ibnu Taimiyah mulai menyebarkan satu demi satu bid’ah-bid’ahnya hingga para ulama’ dan pejabat yang dulu memujinya tersebut mulai menjauhinya satu persatu.

Komentar ulama’ Ahlussunnah tentang Ibnu Taimiyah

1. Al-Hafizh Ibnu Hajar (W. 852 H) menukil dalam kitab ad-Durar al-Kaminah, juz I, hlm 154-155 bahwa para ulama’ menyebut Ibnu Taimiyah dengan tiga sebutan: Mujassim, Zindiq, Munafiq.

Read More

Mengapa harus Bermazhab Empat dalam bidang Fiqih?


Mengikuti Mazhab Fikih yang empat adalah pilar utama persatuan dan kestabilan sosial umat Islam, dengan beragam budayanya, dari ujung Moritania hingga Indonesia. Hal ini terbukti dalam sejarah panjang umat Islam. 

Benar..! Umat Islam sangat menghormati mazhab-mazhab fikih yang empat dan mengikutinya dalam setiap detail kehidupan, karena mengikutinya mendatangkan kebaikan yang sangat besar, dan meninggalkannya mendatangkan kerusakan yang besar. Hal ini karena dua sebab yang akan kami jelaskan: 
Pertama: Umat Islam sepakat untuk berpegang teguh pada ulama salaf (pendahulu) untuk mengetahui syariat. Para tābiīn berpegang teguh pada para sahabat. Tābi’ tābiīn pada para tābiīn. Begitu seterusnya, setiap generasi berpegang teguh pada generasi sebelumnya. 
Sistem ini sangat logis, karena Syariat Islam hanya bisa diketahui dengan Naql (riwayat) dan Istinbāth (memahami hukum dari dalil). Tidak mungkin ada Naql tanpa riwayat antar generasi. Dan tidak mungkin ada istinbāth tanpa mengetahui pendapat ulama atau mazhab terdahulu, agar mendapat inspirasi atau mengembangkan hasil ijtihad mereka, serta tidak keluar dari ijmā’.
Sesungguhnya semua ilmu, seperti Shorof, Nahw, Kedokteran, Sastra, juga keahlian apapun, tidak akan mungkin didapat dengan mudah kecuali dengan selalu belajar langsung kepada para ahlinya. Biasanya, seseorang tidak mungkin menjadi ahli apapun jika ia tidak menimba pengalaman langsung dari ahlinya dalam waktu yang cukup.  
Jika kita sepakat bahwa kita harus berpegang pada ilmu ulama salaf, maka kita harus memastikan bahwa ilmu atau pendapat mereka haruslah diriwayatkan dengan riwayat terpercaya, atau tertulis di kitab-kitab mereka yang masyhur dan telah mendapat perhatian serta pengabdian ilmiah yang besar oleh ulama setelah mereka. Pengabdian ilmiah pada kitab-kitab ini banyak macamnya, seperti dengan menjelaskan, memilih pendapat yang kuat, mengkhususkan hal yang disebut secara umum, menspesifikasi yang masih abstrak. Tanpa perhatian ilmiah ini kita tidak boleh berpegang pada kitab ulama salaf.  Ya, realitanya tidak ada satupun mazhab pada zaman-zaman ini yang pasti memiliki karekteristik ini kecuali mazhab-mazhab fikih yang empat. 
Kedua: Sesungguhnya mengikuti mazhab-mazhab fikih yang empat ini adalah mengikuti al-Sawād al-A’dzam (Mayoritas Umat Islam) yang merupakan wasiat Nabi Saw. karena Rasulullah Saw bersabda kepada seorang sahabat yang bertanya tentang apa yang harus ia lakukan saat banyak fitnah: “Hendaklah kamu terus mengikuti al-Sawād al-A’dzam”. 

Karena ini semua, umat Islam sangat peduli kepada mazhab-mazhab yang empat ini. Mereka mengikutinya, mempelajarinya, mengajarkannya, berfatwa dengannya, dijadikan sebagai metode belajar fikih dan jalan yang terang dalam menjalankan ibadah, mu’amalat, dan dalam menentukan segala hukum agama dan kehidupan dunia ini. Hal inilah yang menyatukan umat Islam.
• Maulana Syaikh Ali Jum’ah

(Mausû’atu al-Tasyrî’ al-Islâmy, hal: 520-521)

Download Kitab Kuning Gratis

karya yang ada dalam link dari KMNU Library ini juga dilengkapi dengan kitab ke-NU-an, yang membahas amaliyah aswaja hingga politik ala kiai NU. Monggo langsung klik judulnya.


Download Kitab Kuning (Aswaja)

Download PDF E-book ke-NU-an

Download Kitab-Kitab Ulama Nusantara

Download Kitab-Kitab Fiqih PDF

Download PDF Kitab-Kitab Tafsir

Download Kitab-Kitab Hadits Format PDF

Download PDF Kitab-Kitab Nahwu-Shorof

Download PDF Kitab-Kitab Tarikh

Read More

Tentang Valentine’s Day dan Kasih Sayang

VALENTINE’S DAY DAN KASIH SAYANG

Oleh. ustadz Ajir ubaidillah

Pembaca Inspirasi Islam yang baik hati dan keren pula, saat ini kita sudah memasuki Bulan Februari yang mana di dalamnya ada satu hari yang sering disebut oleh beberapa orang sebagai valentine’s day. Hari inilah yang kemudian sering diidentikkan dengan hari Cinta dan Kasih sayang.
Melalui tulisan ini kita tidak akan membahas tentang asal-usul, sejarah ataupun hukum merayakan valentine’s day itu sendiri, barangkali artikel atau tulisan mengenai hal itu bisa dengan mudah kalian temukan dengan googling ataupun sumber lainnya. Namun yang ingin kita bicarakan adalah pantaskah hari tersebut menjadi simbol cinta dan kasih sayang?? Mari kita perbincangkan.
CINTA ITU MENJAGA

Read More

Dibalik Rahasia Bismillah

​Asrār | Rahasia BASMALAH

Perlu saya dan penjenengan ketahui, wahai sahabat-sahabatku yang aku cintai dan dirahmati Allah. “BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM” memiliki asrar yang luar biasa, memiliki rumus yang rumit dan tiada yang mengetahui kecuali dengan hidayah Allah. dengan-nya sedikitpun tiada terbakar dan terlumat kobaran api neraka, serta dibukanya pintu-pintu kebaikan, keberkahan, ketulusan dan tercapainya hakikat keabadian.
Dengannya, bersabda sayyidul anbiya’ wal iamamul mursalin, nabiyuna Muhammd SAW. dengan lisan yang ḣāl, dari sahabat pilihan, seperti Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu wa ardlah.
كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أجذم، وفي رواية فهو أقطع، وفي رواية فهو أبتر، معناه قليل البركة ولا يبارك فيه.

“segala perkara, yang memiliki kebaikan, yang tiada diawali didalamnya dengan BASMALAH, maka perkara itu ajdzam. dalam riwayatlain dengan lafal ‘abtar’ dan ‘aqtha’’, keduanya memiliki padanan makna yang sama, yaitu sedikit keberkahan dan tiada menambah keberkahan”

Read More

Kayu besar Rumahnya Angin

KAYU GUNG SUSUE ANGIN  [Kayu Besar Rumahnya Angin]
Oleh : Cahaya Gusti
Dalam Serat Dewa Ruci dikisahkan ketika Bima akan menjalani proses perjalanan spritual, suatu ketika  Bima berdialog dengan gurunya yaitu Guru Durna.
Rsi Durna berkata kepada Bima, “Hemm, baiklah. Pertama-tama, kamu harus bisa menemukan Kayu Gung Susuhing Angin.”
“Apa maksudnya aku harus menemukan terlebih dahulu Kayu Gung Susuhing Angin itu, Guru?” Jawab Bima.
“Aku sendiri tidak mengetahui persisnya, Ngger. Hal itu merupakan isyarat dari Dewa.” Sahut Guru Durna.
“Kalau begitu tunjukkanlah di mana aku bisa mendapatkannya, Bapa Guru.”
Guru Durna Menjawab, “Lihatlah ke atas sana, Ngger. Yang terlihat jelas dari sini itu adalah puncak Gunung Candramuka. Di sanalah tempat Kayu Gung Susuhing Angin itu berada, anakku.”
Kayu Gung itu berasal dari kata al-Hayyu yaitu Dzat Yang Maha Hidup, sedangkan Gung itu artinya adalah Yang Maha Besar, jadi Kayu Gung di sini adalah Allah Swt. yang Maha Agung atau Allahu Akbar.

Read More

Muhasabah Ulang tahun


Alhamdulillah hari ini ulang tahunku. Dalam kesempatan ini aku hanya ingin melakukan muhasabah dari usia yang telah Allah berikan kepadaku. Secara lahir memang usiaku bertambah, padahal sebenarnya jatah dan kesempatanku untuk hidup dan mendekatkan diri kepada sang Khalik semakin berkurang, sementara dosa dan kesalahan yang aku lakukan dari hari ke hari juga semakin banyak. Maka tak ada yang bisa aku lakukan di hari jadiku ini selain mohon ampun dan berdoa kepada-Nya.

Ya Allah ya Tuhanku, puji dan syukur aku sampaikan kehadirat-Mu, atas segala nikmat dan rahmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Nikmat dan rahmat yang begitu banyak sehingga aku tidak bisa menghitung berapa jumlah dan harganya nikmat-Mu itu Ya Allah.

Ya Allah, dari usia dan umur yang telah Engkau berikan, begitu banyak dosa yang telah hamba-Mu lakukan, begitu besar kesalahan yang telah aku perbuat, begitu jauh aku bergelimang dosa, sehingga aku sering melupakan-Mu ya Allah. Sering aku melalaikan perintah-Mu ya Allah, tidak mendengarkan panggilan-Mu Ya Allah, begitu asyik aku mengarungi kehidupan duniawi, begitu jauh aku menyimpang dari jalan-Mu Ya Allah. Hari ini, di hari Ulang Tahunku ini aku memohon ampunan-Mu ya Allah atas segala kelalaian dan kesalahan yang telah aku lakukan selama ini. Ya Allah, Tuhan yang maha pengasih tolong selamatkanlah aku dari kepedihan azab-Mu.

Read More

Dialog kyai Said dengan Santrinya

​DIALOG  KYAI SAID DENGAN SANTRINYA
Pagi itu beliau dengan santainya memanggil kami semua untuk berbincang-bincang terkait berbagai macam masalah, mulai dari masalah pesantren sampai dengan permasalahan yang sedang viral dimedia sosial.  Tapi menurut saya ada sesuatu yang aneh pada diri beliau pagi itu.  Seperti ada yang serius yang akan beliau sampaikan kepada saya dan teman-teman yang lain, namun entah apa yang akan beliau sampaikan.
Kyai Said : Dunia itu selalu diisi oleh manusia yang suka dan benci. Rasa suka dan benci  terhadap sesuatu itu merupakan sunatullah yang sulit untuk hindari.  Kamu mau kemana saja pasti akan ada yang simpati terhadapmu dan pastinya ada juga yang antipati, namun sikapilah semua itu dengan biasa saja,  Janganlah semua pandanganmu tertutupi oleh rasa suka atau cinta, sehingga tidak ada celah sedikitpun untuk membenci atau murka,  begitu juga sebaliknya.
أحبب حبيبك هونا ما عسى أن يكون بغيضك يوما ما و أبغض بغيضك هونا ما عسى أن يكون حبيبك يوماما
Dan hanya dengan prinsip yang kamu pegang dengan kuat,  Maka hidup kamu tidak akan plin plan, sekalipun engkau dicaci dan dimaki.

Read More

Wirid Fatikhah 100x

​”Thareqat “Syeh Abdul Qodir Jailani dan Imam Ghozali  Tentang Wirid Surat Al-Fatikhah 100 X.
Amalan yang diijazahkan Simbah KH. Abdul Hamid Pasuruan tentang wirid Surat Al-Fatikhah 100X adalah dari “thareqat”nya Syeh Abdul Qodir Jailani. Seperti yang sudah beberapa kali saya tulis dalam status.
Cara mengamalkan ijazah surat Al-Fatikhah, ada dua cara:  (1.)Bisa dicicil sesudah shalat Subuh 30x, sesudah Dluhur 25x, sesudah Asyar 20x, sesudah Maghrib 15x dan sesudah Isya, 10x, sehingga dalam satu hari berjumlah 100x,  (2.) Membaca surat Al-Fatikhah langsung 100x.
Sebelum membaca Surat Al-Fatikah diawali dengan membaca ” Ala niyyatissyeh abdul qadir al-jailani radhiaallahu anhu”..lalu membaca Fatikhah sesuai hitungan. Dan membaca do’a surat Al-Fatikah 3X.
Sedangkan “tharekatnya” Imam Ghozali, seperti yang diterangkan Syeh Muhammad Ali bin Husain Al-Makki Al-Maliki, dalam kitab Inaratut Duja Syarah Tanwirulhija Nadhom Syafinatun Naja di halaman 108.

Read More

​Istri-istri Sholehah

Di Baghdad ada seorang lelaki yg telah menikah dengan putri pamannya, lelaki tsb telah berjanji kpd istrinya utk tidak berpoligami.

suatu hari datang seorang perempuan ke tokonya dan perempuan itu meminta utk dinikahi olehnya.

lelaki itu menolak dan memberitahukan ttg janjinya kpd sang istri.

Perempuan itu tetap memaksanya, dan dia rela walaupun cuman di jatah seminggu sekali pada hari jum’at saja.
Akhirnya mereka menikah, dan hal itu berlanjut sampai 8 bulan lamanya.

Istri pertama mulai curiga, lalu ia mengutus pembantunya utk mengikuti kemana perginya sang juragan setiap hari jum’atnya.
ternyata ia masuk kesebuah rumah, pembantu tsb menanyakan kpd tetangga rumah itu dan para tetangga berkata bahwa keduanya telah menikah.

Read More

​Ijazah “Umum” Surat Al-Fatikhah dari Simbah KH. Abdul Hamid Pasuruan.

​Ijazah “Umum” Surat Al-Fatikhah dari Simbah KH. Abdul Hamid Pasuruan.

Oleh. yai Abi Husna
Beberapa kali saya membuat status tentang ijazah ini, selalu dibagikan ratusan kali, begitu juga denga akun-akun lainnya yang Copas selalu dibagikan banyak sekali, bahkan ada yang menggunggah di Youtube. Oleh karena itu saya berusaha mencari file aslinya yang ditanda tangani pengurus Ahli Thariqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdhiyah (JATMAN) dengan setempel asli. Akhirnya bisa menemukan file aslinya setelah berbulan-bulan mencari diantara ribuan arsip Simbah KH. Mudhoffat Fatkhurrohan Kriyan Kalinyamatan Jepara yang pada waktu itu menjadi sekertaris JATMAN.

Read More

Kisah Waliyullah Menyamar : Mbah Angkling Kusumo

Peristiwa ini terjadi pada tahun 2015, ketika Kiai Amin Budi Harjono akan mengisi acara di daerah Pati, dalam perjalanan beliau tertidur di dalam mobil, tiba-tiba dalam mimpi beliau melihat cahaya terang, seketika beliau bangun dan melihat keluar, melihat seorang “gelangan gila”.
Lalu Kiai Budi menyuruh supir untuk berhenti dan menghampiri gelandangan gila tersebut dan mengajaknya ke PP. Nailun  Najah Kriyan Kalinyamatan Jepara. Sa’at sampai di Pondok, kami kaget dengan orang yang dibawa Kiai Budi, tubuhnya bau, kulitnya penuh debu karena tidak mandi bertahun-tahun, bajunya telah rapuh dan mudah sobek bahkan kaki kanannya bekas luka kecelakaan dengan tulang yang kelihatan, bernanah dan membusuk hanya dibalut dengan sobekan kain sarung yanh kotor.
Ketika gelandangan tersebut saya tanya, Mbah namanya siapa? Di Jawab :” Angkling Kusuma”. Tujuannya kemana Mbah ? Beliau Jawab :” Singapura”. (Mungkin yang di maksud beliau ada “Seng ngapuro” Sang Maha Pengampun.

Read More

Puisi 91 tahun, NU

​91 TAHUN, NU

————

NU, dua huruf yang mendunia,

Nahdlatul Ulama itu kepanjangannya,

Konsepnya adalah kebangkitan Ulamanya,

Dasarnya mengikuti kitab dari sang Pencipta,

Lakunya mengikuti laku Nabi nya,

Ajarannya dibimbing para ulamanya,

Dalam bentuk ijma’ serta qiyasnya,

Walisongo cikal bakal suluknya,

Pesantren kekuatan pendidikannya,

Read More

​NU dan Sulitnya Berada di Tengah

​NU dan Sulitnya Berada di Tengah
Oleh: M. Imaduddin

Saat ini, benturan terbuka antara kelompok (yang mengatasnamakan) Islam dengan kelompok nasionalis sepertinya hanya tinggal menunggu waktu. Bibit-bibitnya sudah tampak, seperti bentrokan antara FPI dengan GMBI, penghadangan tokoh MUI oleh kelompok Dayak di Kalimantan, saling ancam antar dua kubu, saling lapor ke polisi, dan beberapa letupan-letupan kecil lainnya.
Saya khawatir, kain NKRI yang telah dirajut dengan darah dan nyawa oleh para pahlawan dan pendiri bangsa ini akan robek disana sini.
Dua kelompok ini menggunakan isu yang disebarkan secara massal kepada para pengikutnya. Kelompok (yang mengatasnamakan) Islam menggunakan isu PKI untuk menyerang nasionalis, sementara  kelompok nasionalis mengajar kelompok “Islam” dengan teriakan anti kebinekaan dan intoleran.
Timur Tengah telah memberi pelajaran buat kita, bahwa konflik antargolongan telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat di Suriah, Irak, Afghanistan, dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Sekarang, negara-negara mayoritas Muslim tersebut menjadi failed state (negara gagal) dan entah sampai kapan akan berakhir derita rakyat di sana.
Konflik di negara-negara tersebut memang diciptakan oleh negara-negara besar dengan cara mengadu domba kelompok-kelompok di negara-negara tersebut. Sunni diadu domba dengan Syiah, Islam diadu domba dengan nasionalis. Inilah yang dinamakan proxy war. Ketika terjadi perang, maka semakin mudahlah negara-negara besar menguasai negeri yang berkonflik tersebut. Motifnya jelas, hegemoni politik dan ekonomi.
Kembali ke negeri kita. Lalu, NU harus berdiri di posisi mana?

Read More

9 Alasan Kenapa Harus CINTA terhadap NU 


Menyongsong Harlah NU yang Ke-91 (31 Januari 1926-2017)
9 Alasan Kenapa Harus CINTA terhadap NU
1. Karena NU dianugerahkan oleh Allah untuk Indonesia lewat para wali Allah.
2. Kontribusi NU terhadap Kemerdekaan sangat besar bagi Indonesia dan tetap konsisten menjaga kedamaian, menjaga persatuan dan kesatuan seluruh ummat tidak hanya untuk ummat Islam saja tapi semua ummat di Indonesia.
3. Fanatik terhadap NU itu tidak merugikan orang lain, kelompok, golongan, ajaran atau firqah yang lain. Karena NU tidak mudah untuk menyesat-nyesatkan atau mengkafir-kafirkan kelompok atau ajaran yang lain.
4. Karena NU tidak hanya menjunjung tinggi Ukhuwah Islamiyyah tapi juga Ukhuwah Basyariyyah.
5. NU itu sebagai Mayoritas Ummat Islam (Assawadul A’dzam) yang menganut ajaran Ahlussunah wal Jama’ah.
6. Selalu konsisten menjaga tradisi dan amaliah Ulama Salaf yang sanadnya sampai kepada Rasulullah Saw.
7. NU adalah Organisasi Islam yang lahir dari bumi pertiwi. Jadi NU akan selalu bersama Negara “Hubbul wathan minal iman”.

Read More