bismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah, banyak seakali diantara saudara kita yang membid’ahkan acara tahlilan dan yasinan, mempersalahkan acara tahlilan hari ke 7, 40, 100 dan 1000. padahal tahlilan dan yasinan adalah strategi dakwah para wali songo yang begitu paham alquran dan hadist sehingga menuangkan amalan-amalan yang baik dalam wadah yang disebut tahlilan, walisongo orang yang sangat berjasa besar dalam penyebaran islam di indonesia, dakwah mereka melalui kultural dan budaya, mendekati dari hati ke hati sehingga orang berbondong-bondong masuk islam karena keihlasan hatinya bukan sebuah keterpaksaan. untuk itu yang masih mengganggap itu bid’ah sesat dan akan masuk neraka, alangkah baiknya kita kaji dimana sesatnya…? dalilnya? bukan sekedar menafsirkan dan menyomot dalil yang gak jelas. ingat ulama itu pewaris para nabi, ilmu para walisanga jauh lebih tinggi daripada ilmu kita mereka semua hafal alqur’an dan jasa mereka sangat besar , kita pun gak mampu menyamainya bukan? lantas apakah kita serta dengan angkuhnya membid’ahkan apa yang mereka ajarkan? sungguh sombongnya kita, jika demikian.

mari kita kaji bersama, mari buka mata dan hati kita,…

Jangan cuma asal ikut sana, ikut sini, tanpa tahu dari mana asalanya, sepeti mengikuti gerakan Wahabi yang berkembang di Indonesia yg berasal dari Arab Saudi. Tujuan mereka ingin mengajarkan pemurnian Islam versi mereka, ingat versi mereka lho, bukan mengikuti Rosulullah saw maupun maghdab 4, sementara ajaran lain dianggap tidak benar dan harus diperangi. aliran Wahabi cukup berbahaya dan mengancam kelangsungan hidup Islam. Sebab aliran ini banyak menjalakan amalan-amalan yang justru tidak sejalan dengan ajaran Islam.

perlu diingat saja. AL Hafidh adalah Ahli hadits yg hafal lebih dari 100.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya, dan Al Hujjah adalah yg hafal lebih dari 300.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya, sebagaimana Imam Nawawi yg telah melebih derajat Al hujjah sehingga digelari Hujjatul Islam, demikian pula Hujjatul Islam Imam Ghazali, demikian pula Hujjatul Islam Imam Ibn Hajar AL Asqalaniy dan banyak lagi,

dan Imam Ahmad bin Hanbal (hambali) ia hafal 1 juta hadits berikut sanad dan hukum matannya, dan ia adalah Murid Imam Syafi’i, dan ia berkata : “tak kulihat seorangpun lebih menjaga hadits seperti Imam Syafii”
wahabi itu tak satupun yg sampai jadi ahli hadits dan keilmuan mereka tak dipertimbangkan dari kalangan ahli hadist dan ilmu lainya.

mereka juga tak punya sanad, berkata para ahli hadits: “Tiada ilmu tanpa sanad”

kita Ahlussunnah waljamaah tak mau ilmu yg tak ada sanadnya, kita bicara syariah kita punya sanad, kita bicara tauhid kita punya sanad, kita bicara hadits kita punya sanad kepada para ahli hadits, kita punya sanad kepada Imam Bukhari, kita punya sanad kepada Kutubussittah, kita bicara fiqih madzhab kita punya sanad kepada Imam Imam Madzhab.

mereka wahabi itu tak punya sanad, hanya nukil nukil dari buku, lalu mengaku sebagai ahli hadits, padahal dalam pendapat para ahli hadits tidak diterima ucapan nukil nukil, mesti ada sanad periwayatnya, menurut para ahli hadits tak bisa kita shalat lihat dari buku, tapi mesti : “aku rukuk melihat si fulan seperti ini ruku’nya, dan aku tahu dia orang terpercaya, aku tahu dia shalih, aku tahu dia berilmu, aku tahu dia tsiqah, aqil, baligh, dan rasyiid (bisa dipercaya untuk diikuti), dan aku tahu bahwa dia itu ruku’nya mengikuti gurunya, si fulan, yg juga orang mulia, dan gurunya itu rukuk mengikuti gurunya lagi yaitu…., demikian hingga Rasulullah saw.

dengan cara ini baru ruku kita diterima, kalau tak punya riwayat maka dhoif, omongannya tak didengar, fatwanya tertolak, dan ucapannya tak bisa dijadikan rujukan fatwa,

inilah keadaan kita ahlussunnah waljamaah, kita lihat guru kita, bukan nukil dari buku, demikian dalam pelbagai ibadah kita punya guru, berbeda dengan mereka, tak punya guru, hanya nukil nukil dari buku lalu berfatwa,

lalu yg lucu, mereka mengaku merekalah Madzhab ahlul hadits, ini seperti orang yg membuka kursus menjahit padahal ia sendiri tak tahu menjahit itu apa.

maka berhati-hatilah kawan atas dampak ajaran wahabi yangt berada diindonesia.. yang selalu membidahkan segala aspek masalah… mari kita kaji dulu bersama

sebuah kisah menarik bacalah dengan seksama……. semoga kisah ini membuka kekakuan hati kita semua,.

Disebuah desa di daerah Banyuwangi, terdapat seorang Kyai yang cukup disegani dan memiliki lembaga pendidikan dengan jumlah santri yang cukup banyak, sebut saja Kyai Fulan. Kyai Fulan, tampaknya kurang begitu puas dengan ilmu yang diperoleh dari berbagai pondok pesantren yang pernah ia singgahi waktu muda dulu. Dia mempunyai seorang putra yang ia gadang-gadang menjadi penggantinya kelak jika ia sudah menghadap Sang Pencipta.

Sebagai calon pengganti si Anak -sebut saja Gus Zaid– ia ‘titipkan’ pada lembaga-lembaga pendidikan agama yang dibilang favorit di negeri ini. Dikatakan favorit, karena lembaga ini dikelola dengan manajemen yang rapi, dan moderen, juga ditangani oleh guru-guru yang ‘alim’ lulusan universitas-universitas di Arab Saudi, negara tempat Islam dilahirkan.

Saat Gus Zaid masih dalam penyelesaian pendidikannya di lembaga favorit itu, Kyai Fulan wafat. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Gus Zaid pun diminta pulang oleh keluarganya.

Seperti lazimnya adat kalangan NU, upacara pemakaman Kyai Fulan dilakukan dengan tradisi-tradisi yang indentik dengan kalangan nahdliyin. Ketika Gus Zaid sampai di rumah dan melihat acara pemakaman yang sedang berlangsung, ia kaget dan menahan amarah, karena semua acara yang dilaksanakan dianggapnya bid’ah. Tapi saat ini ia mampu bersabar.

Saat seorang Kyai tetangga yang juga teman Kyai Fulan, –sebut saja Kyai Umar— memberikan sambutan atas nama wakil tuan rumah, ketika jenazah akan diberangkatkan, setelah bicara ini dan itu, ia menyampaikan bahwa nanti malam sampai malam ke-7 kematian Kyai Fulan akan diadakan acara tahlilan setelah maghrib. Mendengar hal itu, Gus Zaid yang semenjak kedatangannya sudah memendam amarah dan kebencian, tanpa ba bi bu, ia langsung menyambar mikrofon dari Kyai Umar dan berkata: “Tidak ada tahlil bagi bapakku malam nanti. Tahlil adalah bid’ah dan doa orang yang masih hidup untuk orang yang telah meninggal dunia tidak sampai, wa an laysa lil insani illa ma sa’a. Sekian terima kasih!”. Lalu ia berikan lagi mikrofon itu kepada Kyai Umar.

Para pelayat tersentak kaget. Kyai Umar hanya tersenyum dan melanjutkan sambutannya. “Benar saudara-saudaraku sekalian, wa an laysa lil insani illa ma sa’a. Karena Gus Zaid sudah mengatakan demikian, maka nanti malam dan seterusnya tahlil tidak diadakan. Sekarang mari kita berdoa semoga Kyai Fulan di siksa dalam Kubur!. Semoga dosa-dosa tidak terampuni, semoga dia menjadi bahan bakar api neraka dan tidak pernah dimasukkan ke dalam Surga!”.

Para pelayat serentak meneriakkan, “Amiiiiin!”.

Gus Zaid: “?????”. “Kok mendoakan begitu untuk bapakku”.

Kyai Umar dengan enteng menjawab: “Kan Allah berfirman, Wa an laysa lil insani illa ma sa’a?”.

Gus Zaid : Ya sudah nanti malam tahlilan…..!

NB; maaf, jika orang yang tak paham pasti akan mengklaim kiayi kok mendoakan jelek, bukan itu maksud yg ingin saya sampaikan dan tekankan, disini saya akan menekankan, jika seandenya mendoakan yang baik-baikpun percuma, maka mereka menganggap do’a kita gak sampai ( do’a sampai seribu kalipun gak akan sampai tho, kan mereka menyakini itu), itulah karena kedangkalan pemahaman syariah mereka, ayo do ngaji maleh,...ngaji maleh,…(belajar lagi)

Sampainya Do’a Kepada Orang Yg Sudah Meninggal

Fadhilatusy Syaikh asy-Sya’raawi dalam himpunan fatwanya “al-Fatawa” mukasurat 201-202 menyatakan seperti berikut:-
  • Telah disebut oleh asy-Syaikh al-‘Adawi rhm. dalam Masyaariqul Anwaar bahawasanya:- “Telah sepakat atas sampainya (pahala) sedekah kepada si mati. Tidak ada bezanya sama ada sedekah tersebut dilakukan jauh dari kubur si mati atau dekat. Dan demikian jugalah pada doa dan istighfar.” Dan telah berkata al-Imam al-Qurthubi bahawa telah ijma` sekalian ulama atas sampainya (pahala) sedekah kepada orang-orang mati, dan demikian pula perkataannya pada bacaan al-Quran, doa dan istighfar yang dikuatkannya dengan hadis: ” Dan setiap ma’ruf itu adalah sedekah“. Demikian lagi dikuatkannya dengan hadis Junjungan s.a.w.: ” Orang mati itu di dalam kuburnya seperti orang lemas yang meminta-minta pertolongan. Dia menunggu doa berhubungan dengannya daripada saudaranya atau sahabatnya, maka mendapat doa tersebut adalah lebih baik baginya dari dunia seisinya.” Dan juga dalil atas sampainya pahala tadi ialah hadis Junjungan s.a.w.: “Sesiapa yang melalui perkuburan lalu membaca Suratul Ikhlash 11 kali, kemudian dihadiahkan pahalanya kepada orang-orang mati, dikurniakan pahala baginya sebanyak bilangan orang-orang mati tersebut.” Adalah al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata:- “Apabila kamu memasuki kawasan perkuburan, maka kamu bacalah al-Fatihah dan al-Mu`awwidzatain dan Suratul Ikhlash dan kamu jadikanlah pahala yang sedemikian itu buat ahli kubur tersebut, maka bahawasanya pahala tersebut sampai kepada mereka.”
Tok Syaikh Daud al-Fathani pula dalam “Bughyatuth Thullab” juzuk 2 mukasurat 33 menulis:-
  • (Faedah) Telah datang daripada salaf bahawasanya barangsiapa membaca surah Qul Huwa Allahu Ahad sebelas kali dan dihadiahkan pahalanya bagi ahli kubur , diampun Allah ta`ala dosanya dengan sebilang-bilang orang yang mati di dalam kubur itu dan riwayat yang lain diberi akan dia pahala sebilang orang yang mati padanya.
Sa’ad Azzanjani meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah RA dengan hadits marfu’:
BARANG SIAPA MEMASUKI PEKUBURAN KEMUDIAN MEMBACA FATIHAH,QUL HUWALLOHU AHAD,ALHA KUM ATTAKATSUR KEMUDIAN DIA BERKATA: YA ALLAH AKU MENJADIKAN PAHALA BACAAN KALAMMU INI  UNTUK AHLI KUBUR DARI ORANG-ORANG MU’MIN,MAKA AHLI KUBUR ITU AKAN MENJADI PENOLONGNYA NANTI DI HADAPAN ALLAH SWT…..
Abdul Azizi Shahib Al-kholllal meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas dalam hadits  marfu’:
NABI SAW BERSABDA:
BARANGSIAPA YANG MEMASUKI PEKUBURAN KEMUDIAN DIA MEMBACA YASIN, MAKA ALLAH AKAN MERINGANKAN SIKSAAN MEREKA, DAN DIA AKAN MENDAPATKAN PAHALA AHLI KUBUR TERSEBUT…...
Sahabatku semua yang baik yang dirahmati Allah,..
ada orang yang bertanya kepada habieb lutfi pekalongan. Saya pernah membaca buku yang menyatakan sesatnya tarekat dan mengharamkan membaca sholawat. Saya bingung, bagaimana mungkin sebuah komunitas zikir disebut sesat. Alasannya, tak ada tuntunan Rasulullah. Saya semakin bingung lagi. Pertanyaan saya, begitu sempitkah ajaran Islam itu sehingga semuanya harus mengikuti Rasulullah? Menurut saya, tarekat juga membaca wirid yang diajarkan Rasulullah. Dan menurut sebuah hadist, Allah swt dan malaikat pun bersholawat kepada Rasulullah saw. Hanya karena dikelompokkan dan kemudian berzikir secara bersamaan dalam sebuah kelompok disebut sesat dan bid’ah? Mohon penjelasan, apa batasan bid’ah itu? Apakah juga untuk semua hal, termasuk wirid secara bersama-sama? Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jabir Ibnu Hayyan
jawaban habieb lutfi :
Islam adalah agama yang universal. Ini dapat dibuktikan dengan keuniversalan Al-Qur’an. Orang yang mempelajari Al-Qur’an atas dasar keuniversalannya justru akan selalu melihat bahwa manusia perlu dimodernisasikan. Untuk itu paling tidak diperlukan dan dibekali ilmu yang cukup dalam mempelajari Al-Qur’an.
Islam itu luwes. Sebab kejadian yang tidak terjadi di zaman Rasulullah bisa saja terjadi di zaman para sahabat. Demikian pula, kejadian yang tidak terjadi di zaman sahabat, bisa terjadi di zaman tabi’in yaitu orang-orang yang hidup pada generasi setelah para sahabat Nabi (saw), dan begitupun seterusnya.
Mestinya para ulama itu dapat memberikan jawaban sesuai dengan generasinya karena adanya sebuah perkembangan zaman. Namun itu bukan berarti bahwa Al-Qur’an tidak bisa menjawab persoalan. Al-Qur’an siap menjawab persoalan sepanjang masa. Tapi siapakah yang sanggup memberi penjelasan jika tanpa dibekali ilmu Al-Qur’an yang cukup.
Misalnya saja, pada zaman Rasulullah, pencangkokan mata, ginjal dan sebagainya belum terjadi. Namun, kemungkinan ilmu-ilmu untuk mencangkok sudah ada. Tapi peristiwa itu secara syariat di zaman Rasul belum ada. Mungkin saja terjadi di suatu zaman, contohnya ada seseorang memerlukan kornea mata, dan ahli medis siap untuk melakukannya sebagai sebuah ikhtiar. Untuk orang yang bersangkutan, apakah ini tidak dibenarkan?
Untuk masalah zikir, siapa yang bilang tidak ada ajaran tentang zikir dari Rasulullah. Misalnya, satu Hadist Qudsi -Hadist yang diyakini sebagai firman Allah, bukan ucapan Nabi (saw)- menyebutkan, diriwayatkan oleh Imam Ali Ridha, “Kalimat La ilaha Illallah itu benteng-Ku. Barang siapa mengucapkan kalimat La ilaha Illallah berarti orang itu masuk ke dalam pengayoman-Ku (dalam benteng-Ku). Dan barang siapa yang masuk ke dalam benteng-Ku, berarti amanlah mereka dari siksa-Ku.” Apakah ini tidak bisa dianggap sebagai tuntunan?
Selanjutnya, mohon maaf, sebelum Anda ikut-ikutan mengatakan bahwa tarekat itu sesuatu yang bid’ah, ada baiknya Anda mempelajari dulu perihal tarekat. Setelah itu melaksanakan ajaran dalam tarekat tersebut dalam kehidupan Anda sehari-hari. Jadi bukan hanya bersumberkan pada pertanyaan tadi. Lebih dari itu, melaksanakan tarekat sesuai ajaran dan kaidah yang ada dalam tarekat. Nanti Anda akan langsung mengetahui, termasuk siapa ulama-ulama itu, tepat atau tidak bila seorang ulama itu telah mengatakannya sebagai bid’ah.
Apakah sejauh itu prasangka kita pada ulama-ulama? Seolah-olah ulama-ulama itu tidak mengerti dosa, dan hanya kita sendiri yang mengerti bid’ah?
Harap diingat, melihat figur jangan sampai dijadikan ukuran. Sebab sebuah figur belum merupakan orang yang alim. Makanya syarat orang yang mengikuti tarekat itu, haruslah mengetahui arkan al-iman (rukun iman) dan Islam. Mengetahui batalnya shalat, rukun shalat, rukun wudhu, batalnya wudhu, dan sebagainya. Juga mengetahui sifat-sifat Allah yang wajib dan yang jaiz, juga tahu sifat para rasul, membedakan barang halal dan haram. Setelah itu baru dipersilahkan mengikuti tarekat. Itulah dasar kita masuk tarekat. Bukan suatu yang bersifat ikut-ikutan. Sedangkan orang yang masuk terkadang tertarik oleh sebuah ritus, termasuk mendekatkan diri pada ulama. Tetapi di dalam dirinya masih ada banyak kekurangan, sehingga apa yang sebenarnya bukan merupakan ajaran sebuah tarekat, terpaksa dilakukan. Seperti, kita menjalankan tarekatnya namun justru meninggalkan yang wajib. Sekali lagi harus diingat, tarekat adalah buah shalat. Bukan sebaliknya.
 
Sahabatku semua yang baik yang dicintai Allah,.
Imam Syafi’i rahimahullah, seorang ‘ulama besar pendiri madzhab syaafi’iyyah,mendefinisikan, bid’ah sbb,
ما أحدث يخالف كتابا أو سنة اأو أثرا أو اجماعا, فهذه البدعة الضلالة. وما أحدث من الخير, لا خلاف فيه لواحد من هذه الأصول, فهذه محدثة غير مذمومة.
“ Bid’ah adalah apa-apa yang diadakan yang menyelisihi kitab Allah dan sunah-NYA, atsar, atau ijma’ maka inilah bid’ah yang sesat. Adapun perkara baik yang diadakan, yang tidak menyelisihi salah satu pun prinsip-prinsip ini maka tidaklah termasuk perkara baru yang tercela.”
Imam Ibnu Rojab rahimahullah dalam kitabnya yang berjudul “ Jami’ul Ulum wal Hikam “ mengatakan bahwa bid’ah adalah,
ما أُحْدِثَ ممَّا لا أصل له في الشريعة يدلُّ عليه ، فأمَّا ما كان له أصلٌ مِنَ الشَّرع يدلُّ عليه ، فليس ببدعةٍ شرعاً ، وإنْ كان بدعةً لغةً ،“ Bid’ah adalah apa saja yang dibuat tanpa landasan syari’at. Jika punya landasan hukum dalam syari’at, maka bukan bid’ah secara syari’at, walaupun termasuk bid’ah dalam tinjauan bahasa.”lalu apa maksud dari tahlilan dan esensesinya terhadap bid’ah ?

Tahlil telah menjadi perdebatan yang sampai sekarang belum belum mencapai kesepakatan bagi mereka yang gemar menyelisihinya. Tanpa ikut berpolemik, sedikit kita uraikan permasalahan tahlil dan tawassul yang menurut sebagian orang dianggap bid’ah dan syirik.

Arti tahlil secara lafdzi adalah bacaan kalimat Thayyibah (لااله الا الله). Namun kemudian kalimat tahlil menjadi sebuah istilah dari rangkaian bacaan beberapa dzikir, alqur’an dan do’a tertentu yang dibaca untuk mendo’akan orang yang sudah mati. Ketika diucapkan kata-kata tahlil pengertiannya berubah seperti itu.

Tahlil pada mulanya ditradisikan sebagai metode dakwah oleh Wali Sanga. Seperti yang telah kita ketahui, yang paling berjasa menyebarkan ajaran Islam di indonesia adalah Wali Sanga. keberhasilan da’wah Wali Sanga ini tidak lepas dari cara dakwahnya yang mengedepankan metode kultural atau budaya. Wali Sanga mengajarkan nilai-nilai Islam secara luwes mereka tidak secara frontal menentang tradisi tradisi hindu yang telah mengakar kuat di masyarakat, namun membiarkan tradisi itu berjalan hanya saja isinya diganti dengan nilai nilai islam, tradisi dulu bila ada orang mati maka sanak famili dan tetangga berkumpul dirumah duka yang dilakukan bukannya mendo’akan simati malah bergadang dengan bermain judi atau mabuk mabukan.

Wali Sanga tidak serta merta membubarkan tradisi tersebut, masyarakat dibiarkan tetap berkumpul namun acaranya diganti dengan mendoakan pada mayit, jadi tahlil dengan pengertian diatas sebelum Wali Sanga tidak dikenal.

apa yang dipermasahkan saat ini oleh sebagian orang ?

1. Tahlil itu bid’ah! Setiap perbuatan bid’ah sesat ! setiap sesat masuk neraka?

Tunggu dulu, anda berada didepan Komputer ini juga bid’ah sebab tidak pernah di kerjakan oleh nabi S A W kalau begitu anda sesat dan masuk neraka? Akal sesat pasti menolak logika seperti ini. jangan salah menafsirkan bid’ah….kawan !!!

Ulama membagi bid’ah menjadi dua , bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah , sedangkan bid’ah hasanah sama sekali tidak sesat meskipun tidak pernah dikerjakan oleh nabi jadi ukurannya bukan pernah dikerjakan oleh nabi atau tidak , namun lebih luas dari itu, apakah sesuai dengan syariat atau tidak ! yang dimaksudkan syariat disini tentu saja dalil dalil alquran sunnah ,atsarus shahabah , Ijma’ dan qiyas . jika melakukan sesuatu yang bertentangan dengan dalail dalil tersebut maka sesat.

Sekarang kita lihat apakah dalam tahlil ada yang bertentangan dengan syari’at ? tidak ada, tahlil adalah serangkaian kalimat yang berisi dzikir, bacaan alqur’an, yang disusun untuk sekedar mudah untuk di ingat, biasanya dibaca secara berjemaah yang pahalanya dihadiahkan pada mayit , rangkaian bacaan yang ada mempunyai keutamaan yang mempunyai dasar yang kuat, dari sisi ini jelas tahlil tidak ada yang bertentangan dengan syariat.

Jika yang dipermasalahkan adalah sampai dan tidaknya pahala maka perdebatan tidak akan menemui ujung usai, sebab itu masalah khilafiyah dengan argumen masing masing ada yang mengatakan pahalanya bisa sampai ada yang mengatakan tidak, pendeknya ulama’ sepakat, untuk tidak sepakat  ya sudah jangan dipermasalahkan lagi. itu urusanmu…. gitu aja kok repot,. !~! dan bukan ranah pembahasanmu,

Hemat kita urusan pahala adalah hak prerogatif Allah yang tidak bisa di interfensi oleh siapapun. Kita yang membaca tahlil esensinya  berdo’a semoga pahala bacaan kita disampaikan kepada mayit.

Lepas dari Khilafiyah itu KH. Sahal Mahfud Allahuyarham (Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan ketua MUI 2014), kajen-pati jawatengah.  berpendapat bahwa acara tahlilan yang sudah mentradisi hendaknya terus dilestarikan sebagai salah satu budaya yang bernilai islami dalam rangka melaksanakan ibadah sosial sekaligus meningkatkan dzikir kepada Allah.

2. Hukum memberi jamuan dalam tahlilan

Memberi jamuan yang biasa diadakan ketika ada orang mati, itu diperbolehkan. Banyak dari kalangan ulama’ yang mengatakan bahwa semacam itu termasuk ibadah yang terpuji dan, memang, dianjurkan dengan berbagai alasan. Karena hal itu, kalau ditilik dari segi jamuannya adalah termasuk sadaqah”yang, memang, dianjurkan oleh agama menurut kesepakatan ulama’. — yang pahalanya dihadiyahkan pada orang telah mati. Dan lebih dari itu, ada tujuan lain yang ada di balik jamuan tersebut, yaitu,
(1) ikramud dlaif (memulyakan tamu)
(2) bersabar menghadapi musibah.
(3) tidak menampakkan rasa susah dan gelisah kepada orang lain. Ketiga masalah tersebut, semuanaya, termasuk ibadah dan perbuatan taat yang diridlai oleh Allah AWT serta pelakunya akan mendapatkan pahala yang besar.

Dengan catatan biaya jamuan tersebut tidak diambilkan dari harta ahli waris yang berstatus mahjuralaih. Apabila biaya jamuan tersebut diambilakan harta ahli waris yang berstatus mahjuralaih.(seperti anak yatim), maka hukumnya tidak boleh.

jika harus jual barang berharga dan segala macemnya gimana ,?

bukan tahlilanya yang salah, cara orang tersebut menyikapi hakekat tahlilan yang harus diluruskan, itulah yang menjadi polemik masyarakat saat ini. banyak kok didaerah saya juga pernah, hanya menyediakan makanan ala kadarnya saja, sohibul musibah adalah orang yang tidak punya ( beliau meminta maaf sebelumnya karena tidak bisa menghormati tamu lebih baik dari yang biasa mereka sediakan ) para masyarakatpun memaklumi dan memahami acara yang mulia inipun tetap berlangsung dengan baik, ini harusnya bisa dijadikan contoh ditempat lain.

Namun demikian shadakah itu sama sekali tidak mengurangi nilai pahala sedekah yang pahalanya dihadiahkan pada mayit seperti penjelasan diatas. ada beberapa ulama seperti Syaikh nawawi syaikh ismail dan lain lain menyatakan, bersedekah untuk orang yang telah meninggal dunia itu sunnah (matlub) Cuma hal itu tidak boleh disengaja dikaitkan dengan hari hari yang telah mentradisi di suatu komunitas masyarakat. Malah jika acara tersebut dimaksudkan untuk meratapi mayit, maka haram.

Nihayatuz zain(281) , Ianatut talibin 11/166

والتصدق عن الميت بوجو شرعي مطلوب ولا يتقيد بكونه فى سبعة ايام او اكثر او اقل وتقييد بعض الايام من العوائد فقط كما افتى بذلك السيد احمد دحلان وقد جرت عادة الناس بالتصدق عن الميت فىثالث من موته وفىسابع وفى تمام العشرين وفى الاربعين وفى المائة وبعد ذلك يفعل كل سنة حولا فى يوم الموت كما افاده شيخنا يوسف السنبلاوى اما الطعام الذى يجتمع عليه الناس ليلة دفن الميت المسمى بالوحشة فهو مكروه مالم يكن من مال اليتام والا فيحرم كذافى كشف اللثام

نهاية الزين 33 281

ومنها مسألة مهمة ولأجلها كانت هذه الرسالة. وهي ما يصنعه أهل الميت من الوليمة ودعاء الناس اليها للأكل. فان ذلك جائز كما يدل عليه الحديث المذكور بل هو قربة من القرب لأنه اما أن يكون بقصد جصول الأجر والثواب للميت وذلك من أفضل القربات التي تلجق الميت باتفاق. واما أن يكون بقصد اكرام الصيف والتسلي عن المصاب وبعدا عن اطظهار الحزن وذلك أيصا من القربات والطعاب التي يرضاها رب العالمين وثيب فاعلها ثوابها عظيما وسواء كان ذلك يوم الوفات عقب الدفن كما فعلته زوجة الميت المذكورة فى الحديث أو بعد ذلك وفى الحديث نص صريح فى مشروعية ذلك. الى قوله

وهذا كله كما هو ظاهر فيما اذا لم يوص الميت باتخاذ الطعام واطعامه للمعزين الحاضرين والا فيجب ذلك عملا بوصيته وتطون الوصية معتبرة من الثلث أي ثلث تركة الميت قال فى التحفة-ج 3 ص 208.

قرة العين بفتاوى الشيخ اسماعيل الزين 175 -181

sahabatku yang dirahmati Allah,

kata “tahlilan “ memang didalam masa rosul tidak ada, tapi apa yang dibaca didalam tahlilan rosul mencontohkannya, inilah tuntunan, istilahnya memang belum ada, tapi isinya sudah dari dulu Rosul menyuruh kita mengerjakannya, itulah karena pandai dan cerdasnya para ulama dalam menyusun suatu isitlah (tahlilan) kemudian mengumpulkan bacaan Al Qur’an, Dzikir, Tasbih, Tahmid, Tahlil, Shalawat dan bacaan lainnya dalam wadah tahlilan. Dengan kata lain mengadakan acara Tahlilan dengan tujuan untuk memohon kepada Allah SWT., agar kerabat atau keluarga yang telah dipanggil kehadirat-Nya mendapatkan ampunan dan tempat yang layak disisi-Nya, serta berbahagia di alam kubur sana.

lihatlah satu isinya, secara dzahir saja isi daripada tahlilan tersebut sangat baik, karena berisi bacaan-bacaan dari Al Qur’an dan surat-surat yang sudah terkenal tentang fadhilah atau keutamaan surat tersebut, contohnya surat alfatihah..

diriwayatkan oleh sayyidina Ibnu Abbas dalam kitab Shahih Muslim :

أَبْشِرْ بِنُوْرَيْنِ اُوْتِيْتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِىٌ قَبْلَكَ فَاتِحَةُ الْكِتَابِ وَخَوَاتِيْمُ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا اِلاأَعْطَيْتُه

“Bergembiralah engkau (Muhammad SAW) dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu dan beleum pernah diterima oleh nabi sebelummu yakni surat Al Fatihah dan beberapa ayat terakhir surat Al Baqarah. Tidaklah kamu membaca satu huruf dari keduanya kecuali engkau akan diberi imbalannya. (Shahih Muslim, 1339)

Selain dari surat Al Fatihah masih banyak lagi surat-surat dalam bacaan tahlil yang terkenal akan fadhilah atau keutamaan surat tersebut, seperti surat Al Ikhlas, Al Falaq, Annas dan juga surat Yasin. Disamping itu tahlilan juga memuat do’a-do’a yang diajarkan oleh Rasulullah,

dalam hal ini, siapa yang cerdas jawabnya jelas para ulama, yang lebih paham tentang alquran dan hadist, yang karena kecerdasaan ingin memudahkan bagi orang awam agar selalu mengerjakan amalan baik yang dirangkum dalam wadah tahlilan yang isinya semua dicontohkan rosul saw. mulane yuk do ngaji, ngilangke kebodohan, ngerisiki ati, golek ridhane gusti illahi robby. setuju ya…

dahulu ketika ada salah seorang meninggal dunia, maka yang dilakukan oleh keluarga, kerabat dan para tetangga adalah meratapi si mayit dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak baik, seperti bermain kartu, judi dan minum-minuman. Setelah para muballegh datang secara berangsur-angsur, kemudian mereka berusaha dengan sabar dan perlahan-lahan diajak membaca atau mengucapkan kalimah thayyibah dan bacaan-bacaan lainnya. apakah ini tidak baik, jelas ini baik sekali, bagaimana jika tradisi meratapi si mayit dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak baik, seperti bermain kartu, judi dan minum-minuman tidak diganti dengan membaca kalimat thayyibah dan doa-doa yang baik?, bisa dipastikan tradisi buruk itu akan diteruskan sampai generasi sekarang, tak bisa membayangkan.. astagfirullah,

kita ulang lagi biar ingat, Apa sih tahlilan itu ?

Kata tahlil atau tahlilan secara bahasa berasal dari bahasa arab dengan fiil madhi هلل ، يهلل ، تهليلا yang artinya mengucapkan kalimah thayyibah لا اله الا الله .  dengan kata lain yaitu “pengakuan seorang hamba yang mengi’tikadkan bahwa tiada tuhan yang wajib di sembah kecuali Allah semata” Sedangkan menurut istilah tahlilan artinya “bersama-sama mengucapkan kalimah thayyibah dan berdo’a bagi orang yang sudah meninggal dunia

Dalam uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa tahlil adalah bersama-sama melakukan do’a bagi orang yang sudah meninggal dunia yang dilakukan di rumah-rumah, musholla, surau atau majlis-majlis dengan harapan semoga diterima amalnya dan diampuni dosanya oleh Allah SWT. yang sebelumnya diucapkan beberapa kalimah thayyibah, tahmid, tasbih, tahlil dan ayat-ayat suci Al Qur’an.

Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki bermacam-macam budaya, salah satunya adalah tahlilan. Hal tersebut yang telah dipaparkan oleh almarhum KH. Muchit Muzadi, yang mengatakan petikan hadits, “Waladun Shalihun Yad’u lahu” (anak shaleh yang mendoakan orang tuanya) ini dirangkaikan atau direalisasikan dengan tradisi yang ada di Indonesia. Khususnya di daerah Jawa apabila ada tetangga, kerabat atau saudara yang meninggal dunia, maka para tetangga atau kerabat biasanya “jagongan” (berbincang-bincang). Dengan jagongan itu mereka membicarakan orang, terus “keademen” (kedinginan), mereka cari minuman yang hangat-hangat sambil main kartu dan lain-lain. Tradisi itu berlangsung lama, hingga ketika para mubaligh Islam, Walisongo atau kyai, menerapkan “yad’u lahu” ini dirangkaikan dengan jagongan dan “mele’an” (begadang), yang memang prosesnya lama. Kemudian yang dulunya melean dilakukan dengan minum-minuman dan main kartu kemudian diganti dengan bacaan-bacaan Al Qur’an dan do’a-do’a hingga kemudian muncul apa yang dikenal saat ini dengan istilah tradisi ritual tahlilan, subhanallah…

kecerdasan para mubaligh dan keahlian dalam berdialog dan negosiasi dengan agama dan tradisi lokal. Sehingga Islam mudah diterima di Indonesia dengan baik dan bertahan lama, tidak seperti di sebagian Negara eropa yang perkembangan Islam dilakukan dengan cara peperangan, walaupun hasilnya cepat atau maksimal tapi kekuasaan Islam didaerah tersebut tidak berlangsung lama. Seperti di Spanyol, Turki dan lain-lain

memangs eringkali terjadi ekses (berlebih-lebihan) di dalam pelaksanaan tahlilan, baik mengenai “frekuensi”-nya maupun suguhannya atau ekses dalam sikap batinnya (seperti merasa sudah pasti amal orang yang ditahlili diterima Allah SWT dan segala dosanya sudah diampuni oleh-Nya, kalau sudah ditahlili atau dihauli). Sikap “memastikan” inilah yang bertentangan dengan syari’at agama. Ekses-ekses inilah yang harus menjadi garapan wajib para pemimpin umat, untuk meluruskannya. Memang masih banyak amalan-amalan kaum muslimin yang belum sesuai benar dengan ajaran Islam. Sedangkan agama Islam sudah sempurna, tetapi dalam kenyataanya kebanyakan pengamalan kaum muslimin tidak sesempurna Islam itu. Maka dari itulah tahlilan sering jadi bahan perdebatan bagi kelompok yang tidak setuju dengan tahlilan ataupun kelompok pembaharu yang sengaja ingin membumi hanguskan acara ritual tahlilan karena dianggap sesat, bid’ah dan tidak mempunyai landasan-landasan yang kuat. astaqfirullah,

3. polemik 7 hari, 40 hari, 100 hari 1000 hari 

Dalam Artikel karangan Drs. KH. Ahmad Masduqi yang berjudul “Ahlu Sunnah Wal Jama’ah dan Ijtihad” Ritual Tahlilan atau upacara selametan (orang jawa bilang begitu) untuk orang yang meninggal, biasanya dilakukan pada hari pertama kematian sampai hari ke-tujuh atau bahasa jawanya mitung dina, selanjutnya dilakukan pada hari ke-40, ke-100, ke-satu tahun pertama, kedua, ketiga dan seterusnya, dan ada juga yang melakukan pada hari 1000. Dalam upacara dihari-hari tersebut, keluarga si mayyit mengundang orang untuk membaca beberapa ayat dan surat Al Qur’an, dan zikir seperti : tahlil, tasbih, tahmid, shalawat dan do’a-do’a, pahala bacaan Al Qur’an dan dzikir tersebut dihadiahkan kepada si mayit. Menurut penyelidikan para ahli, upacara tersebut diadopsi oleh para da’I terdahulu dari upacara kepercayaan animisme, agama budha dan hindu yang kemudian diganti dengan ritual yang diambil dari Al Qur’an dan Hadits.

Menurut kepercayaan Animisme, Hinduisme dan Budhisme bila seseorang meninggal dunia, maka ruhnya akan datang kerumah pada malam hari mengunjungi keluarganya. Jika dalam rumah tadi tidak ada orang ramai yang berkumpul-kumpul mengadakan upacara-upacara sesaji, seperti membakar kemenyan, dan sesaji kepada yang ghaib atau ruh-ruh ghaib, maka ruh orang mati tadi akan marah dan masuk (sumerup) kedalam jasad orang yang masih hidup dari keluarga si mayyit. Maka untuk itu semalaman para tetangga dan kawan-kawan atau masyarakat tidak tidur, membaca mantera-mantera atau sekedar berkumpul-kumpul. Hal seperti itu dilakukan pada malam pertama kematian, selanjutnya malam ketiaga, ketujuh, ke-100, satu tahun, dua tahun dan malam ke-1000. ٍSetelah orang-orang yang mempunyai kepercayaan tersebut masuk islam, mereka tetap melakukan upacara-upacara tersebut. Sebagai langkah awal, para da’I terdahulu tidak memberantasnya tetapi mengalihkan dari upacara yang bersipat Hindu dan Budha itu menjadi upacara yang bernafaskan islam. Sesaji diganti dengan nasi dan lauk-pauk untuk shadaqah. Mantera-mantera diganti dengan dzikir, do’a dan bacaan-bacaan Al Qur’an. Upacara seperti ini kemudian dinamakan Tahlilan yang sekarang telah membudaya pada sebagian besar masyaraka

Sebelum agama Hindu, Budha dan Islam masuk ke Indonesia, kepercayaan yang dianut bangsa Indonesia antara lain adalah paham animisme. Menurut paham ini ruh dari orang-orang yang sudah mati itu sangat menentukan bagi kebahagiaan dan kecelakaan orang-orang yang masih hidup di dunia ini. Disamping itu bangsa-bangsa yang menganut paham Animisme ini juga berkeyakinan bahwa ruh orang yang sedang mengalami kematian itu tidak senang untuk meninggalkan alam dunia ini sendirian tanpa teman, dan ingin mengajak anggota keluarganya yang lain.

Untuk itu agar anggota keluarga yang mati itu tidak mengajak keluarga yang lain, maka anggota keluarga yang ditinggal mati itu melakukan hal-hal yang antara lain sebagai berikut:

1. Menyembelih binatang ternak seperti : kerbau, sapi, kambing, babi atau ayam milik si mayyit, agar nyawa binatang tersebut menemani ruh si mayyit, agar ruh si mayyit tidak marah kepada anggota keluarganya.

2. Setelah tiga hari dari kematian, yaitu saat si mayyit yang sudah ditanam di dalam kubur mulai membengkak, di tempat tidur orang yang mati bagi orang jawa di atas buffet yang telah dipasang fotto dari orang yang mati bagi orang cina, diberikan sesaji agar ruh dari orang yang mati tidak marah, demikian pula pada hari ketujuh, keempat puluh, keseratus, satu tahun, dua tahun dan keseribu dari hari kematian.

3. Bagi orang cina, anggota keluarga yang mati itu diinapkan di rumah duka beberapa hari lamanya dan selama itu papan nama dari rumahnya disilang dengan kertas hitam atau lainya untuk mengenalkan kepada ruh si mayyit bahwa rumahnya adalah yang papan namanya diberi silang. Dan setelah si mayyit dikubur, maka tanda silang tersebut di buang, dengan maksud agar apabila ruh si mayyit tersebut pulang kerumahnya, ruh itu tersesat tidak dapat masuk kedalam rumahnya, sehingga tidak dapat menggangu anggota keluarganya.

4. Bagi orang jawa ada yang menyebarkan beras kuning dan uang logam di depan mayyit sewaktu mayyit dibawa ke pekuburan dengan maksud untuk memberitahukan kepada si mayyit bahwa jalanya dari rumah sampai ke pekuburan adalah yang ada beras kuning dan uang logam. Sehingga jika ruh si mayyit ingin pulang kerumah untuk menggangu anggota keluarganya dia tersesat, sebab beras kuning dan uang logam di jalan yang dilaluinya sudah tidak ada lagi Karena beras kuningnya sudah di makan oleh ayam atau burung, sedang uang sudah diambil oleh anak-anak. Adapula yang mengeluarkan jenazah dari rumah tidak boleh melalui pintu rumah, tetapi harus dibobolkan pagar rumah yang segera ditutup kembali setelah jenazah dibawa ke kubur dan lainnya lagi dengan maksud agar ruh si mayyit tidak dapat lagi kembali ke rumah.

Pada waktu agama Hindu dan Budha masuk di Indonesia, kedua agama ini tidak dapat merubah tradisi yang telah dilakukan oleh bangsa Indonesia yang berpaham animisme tersebut, sehingga tradisi tersebut berlangsung terus sampai saat agama Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para penganjur Islam yang kemudian terkenal dengan nama Wali Songo.

Pada saat Wali Songo datang, tradisi bangsa Indonesia yang telah berurat berakar setelah ratusan dan bahkan mungkin ribuan tahun lamanya, tidak diberantas, tapi hanya diarahkan dan dibimbing sedemikian rupa, sehingga tidak bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam.

Dengan demikian dakwah dengan metode Tahlilan khususnya yang ada di Indonesia, adalah hasil dari negosiasi antara agama pribumi dengan agama Islam yang datang kemudian, yang dilakukan oleh para ulama dan wali songo, dan mereka tentunya mengerti akan kondisi bangsa Indonesia. karena manusia dimanapun selalu dipengaruhi oleh lingkunganya.

dan tentunya walisongo adalah orang yang betul-betul paham alquran dan hadist secara mendalam, mereka semua hafal alquran, dan mereka membuat suatu amalan pasti bukan karena nafsunya semata, untuk itulah yang sering membidahkan,

4. tahlilan tasyabbuh dengan orang-orang Hindu. Mereka orang kafir. Tasyabbuh dengan kafir berarti kafir pula

Owh, tunggu dulu, itu karena Anda baru belajar ilmu agama. Coba Anda belajar di pesantren Ahlussunnah Wal-Jama’ah, Anda tidak akan bertindak sekasar ini. Anda pasti malu dengan tindakan Anda yang kasar, dan sangat tidak Islami. Ingat, Islam itu mengedepankan akhlaqul karimah, budi pekerti yang mulia. Bukan sikap kasar seperti Anda.” Justru acara dzikir Tahlilan pada hari-hari tersebut hukumnya sunnah, agar kita berbeda dengan Hindu, dalilnya..

“Justru karena pada hari-hari tersebut, orang Hindu melakukan kesyirikan dan kemaksiatan, kita lawan mereka dengan melakukan kebajikan, dzikir bersama kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dengan Tahlilan. Tasyabbuh itu bisa terjadi, apabila perbuatan yang dilakukan oleh kaum Muslimin pada hari-hari tersebut persis dengan apa yang dilakukan oleh orang Hindu. Kaum Muslimin Tahlilan. Orang Hindu jelas tidak Tahlilan. Ini kan beda.”Dalam kitab-kitab hadits diterangkan:

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم:ذَاكِرُ اللهِ فِي الْغَافِلِيْنَ بِمَنْزِلَةِ الصَّابِرِ فِي الْفَارِّيْنَ. (رواه الطبراني في الكبير والأوسط، وصححه الحافظ السيوطي في الجامع الصغير).

“Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang berdzikir kepada Allah di antara kaum yang lalai kepada Allah, sederajat dengan orang yang sabar di antara kaum yang melarikan diri dari medan peperangan.” (HR. al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir [9797] dan al-Mu’jam al-Ausath [271]. Al-Hafizh al-Suyuthi menilai hadits tersebut shahih dalam al-Jami’ al-Shaghir [4310]).

Dalam acara tahlilan selama tujuh hari kematian, kaum Muslimin berdzikir kepada Allah, ketika pada hari-hari tersebut orang Hindu melakukan sekian banyak kemungkaran. Betapa indah dan mulianya tradisi tahlilan itu.

5. bagaimana soal penentuan waktunya ?

kesamaan waktu itu tidak menjadi masalah, selama perbuatannya beda. Coba Anda perhatikan hadits ini:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ يَوْمَ السَّبْتِ وَيَوْمَ اْلأَحَدِ أَكْثَرَ مِمَّا يَصُومُ مِنْ اْلأَيَّامِ وَيَقُولُ إِنَّهُمَا عِيدَا الْمُشْرِكِينَ فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أُخَالِفَهُمْ. (رواه أحمد والنسائي وصححه ابن خزيمة وابن حبان).

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berpuasa pada hari Sabtu dan Ahad, melebihi puasa pada hari-hari yang lain. Beliau bersabda: “Dua hari itu adalah hari raya orang-orang Musyrik, aku senang menyelisihi mereka.” (HR. Ahmad [26750], al-Nasa’i juz 2 hlm 146, dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Dalam hadits di atas jelas sekali, karena pada hari Sabtu dan Ahad, kaum Musyrik menjadikannya hari raya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menyelisihi mereka dengan berpuasa. Sama dengan kaum Muslimin Indonesia. Karena orang Hindu mengisi hari-hari yang Anda sebutkan dengan kesyirikan dan kemaksiatan, yang merupakan penghinaan kepada si mati, maka kaum Muslimin mengisinya dengan dzikir Tahlilan, sebagai penghormatan kepada si mati.

Pemilihan waktu dalam dzikir, doa maupun tilawah adalah sesuatu yang mubah saja karena dzikir, doa dan tilawah bisa dilakukan kapan pun. Memang ada waktu-waktu yang lebih dianjurkan semisal berdoa setelah shalat, membaca Al-Kahfi di malam Jum’ah, berdzikir di akhir malam dsb, namun hal itu tidak berarti bahwa dzikir di waktu lain itu tidak dianjurkan atau malah dilarang. Demikian pula menentukan dzikir di hari ke 1, 5, 7, 8, 15 dsb adalah hal mubah sepanjang tidak dijadikan pandangan keharusan karena memang tidak ada kewajiban ataupun anjuran untuk menetapkan jumlah hari tertentu. Penetapan hari 3, 7, 40, 100, 1000 hari dst sebetulnya tidak begitu saja ditetapkan, namun berdasarkan pada riwayat-riwayat meskipun memang dha’if sanadnya. Tetapi kedha’ifan tersebut tidak lantas mengubah hukum penetapan hari yang mubah menjadi makruh atau haram kecuali dianggap suatu keharusan.
Memang tidak dipungkiri bahwa sebagian masyarakat kita memahami penetapan jumlah hari ini sebagai keharusan akibat faktor gengsi atau pengajaran yang keliru dari para tokoh agama setempat. Hal ini harus diperbaiki agar tidak menimbulkan madharat apalagi jika dikaitkan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk membuat acara, padahal tujuan dari penetapan waktu-waktu tsb lebih pada upaya untuk secara konsisten mendoakan orang tua yang telah meninggal sebagai salah satu jalan pahala yang tetap mengalir setelah seseorang wafat. Bisa kita saksikan di masyarakat kita ada keluarga yang sampai harus menjual harta hanya untuk membuat acara 40 hari padahal kehidupan mereka sendiri compang-camping penuh kekurangan. Imbas-imbas buruk ini harus dikikis tanpa perlu menggeneralisasikan bahwa penetapan waktu itu membawa madharat bagi keluarga si mayyit.

Hukum dalam fiqh itu sarat dengan perbedaan pendapat (ikhtilaf) dan perbedaan ini juga ditemui dalam hukum membaca Alquran bagi wanita haid. Adapun fatwa keharaman membaca Alqur’an saat haid adalah fatwa yang masyhur dalam madzhab Syafi’i. Sedang fatwa dalam madzhab Hanafi, Maliki dan Hanbali bercabang dalam 2 pandangan, ada yang mengharamkan dan sebagian menganggapnya boleh.
Telah berkata Ibnu ‘Umar, sabda Nabi s.a.w. : „Tidak boleh membaca Qur’an orang yang junub dan tidak boleh (pula) perempuan yang berhaidl”. (H.R. Abu Dawud, Turmudzi dan Ibnu Majah). Hadits ini dishahihkan Imam Turmudzi namun dianggap dhaif oleh kebanyakan ahli hadits.
Namun pandangan yang menetapkan hukum haram bagi wanita haid untuk membaca Alquran disamping mempertimbangkan hadits di atas juga mengambil qiyas dengan keharaman membaca Quran saat junub yang keharamannya lebih disepakati para ulama. Mengingat tingkat hadats saat haid dan nifas lebih tinggi dari junub maka sudah sewajarnya hal yang diharamkan bagi orang junub lebih kuat keharamannya bagi wanita haid.
Meski demikian, fatwa yang mengharamkan membaca Alquran pun memberikan pengecualian untuk hal-hal tertentu, a.l. :
1. Bacaan Alquran yang sudah lazim tidak dianggap Alquran karena berfungsi sebagai dzikir atau doa. Misalnya bacaan basmalah sebelum makan, istirja’ (innaa lillaahi dst) saat ada musibah, doa sapu jagad (rabbanaa aatinaa fiddunyya dst).
2. Bacaan Alquran untuk kepentingan dirasah (pembelajaran) yang sifatnya dharury (wajib dikuasai segera) semisal bacaan fatihah untuk kepentingan shalat.

Karenanya untuk kasus belajar membaca Alquran yang sifatnya tidak dharury menurut hemat saya lebih baik dihentikan sementara. Dengan pertimbangan bahwa meskipun tidak mengesampingkan adanya pendapat bolehnya membaca Quran bagi wanita haid, khuruj minal khilaf (keluar dari perbedaan) dengan mengambil fatwa yang lebih berhati-hati layak untuk diutamakan. Apalagi belajar dalam hal ini sifatnya anjuran sehingga wajar dikalahkan demi menghindari keharaman.

Bisa dikatakan demikian, namun budaya yang bermaterikan nilai ibadah semisal bacaan Alquran dan dzikir tentu merupakan kebaikan sesuai dengan perintah untuk melazimkan (membiasakan) ibadah meskipun hanya sesuatu yang kecil. Hanya pemahaman yang banyak dikelirukan adalah anggapan bahwa 100 hari atau setahun, dll itulah yang dianggap ibadah padahal ibadah yang sesungguhnya adalah tilawah, dzikir dan doa. Sering di kampung kalau ditanya : bikin acara apa? maka jawabannya nyatus (100 hari) atau haul (setahun) dengan anggapan bahwa nyatus dan haul itulah yang bernilai ibadah. Padahal itu hanya penetapan momen/waktu yang mubah, sedang ibadah sesungguhnya adalah dzikir, doa, dsb yang pelaksanaannya tidak mesti menunggu momen tertentu tetapi selayaknya dilakukan secara istiqamah setiap saat.

Sahabatku yang baik, cara mudah untuk memahami islam adalah berfikir,

cobalah engkau berfikir sejenak, isi tahlilan ini, dimana letak tercelanya….

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

اّلتَّهْلِيْل

إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمِ وَأَلِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَأَوْلادِهِ وَذُرِّيَاتِهِ. الفاتحة………..

ثُمَّ إلِىَ حَضْرَةِ إِخْوَانِهِ مِنَ الانبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ وَالاوْلِيَاءِ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابعِيْنَ وَالْعُلَمَاءِ الْعَامِلِيْنَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَالْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ خُصُوْصًا سَيِّدِنَا الشَّيْخ عَبْدُالْقَادِرْ الَجَيْلانِى. الفاتحة………………………

ثُمَّ إِلَى جَمِيْعِ أَهْلِ الْقُبُوْرِمِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسلِمَاتِ وَِالمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الارْضِ إلى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وََبَحْرِهَا خُصْوُصًا إلى أبَائِنَا وَأُمَهَاتِنَا وَأَجْدَادِنَا وَجَدَاتِنَا وَمَشِّايَخِنَا وَمَشَايِخِ مَشَايِخِنَا وَأَسَاتِذَاتِنَا وَأَسَاتِذَةِ أَسَاتِذَتِنَا وَلِمَنْ إِجْتِمَعِنَا هَاهُنَا بِسَبَبِهِ. الفاتحة……………………

Dan ada juga yang setelah membaca surat Al Fatihah dilanjutkan dengan membaca Surat Yasin kemudian dilanjutkan dengan surat yang ada dibawah ini.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4) لأإله إلاالله X 1

لأإلَهَ إلااللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلِلَهِ الْحَمْدُ بِسْمِ اللهِ الْرَّحْمَنِ الْرَّحِيْمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)

لأإلَهَ إلااللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلِلَهِ الْحَمْدُ بِسْمِ اللهِ الْرَّحْمَنِ الْرَّحِيْمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)

لأإلَهَ إلااللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلِلَهِ الْحَمْدُ بِسْمِ اللهِ الْرَّحْمَنِ الْرَّحِيْمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (1) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (2) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (3) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (4) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (5) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ (6) غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)

الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5) وَإِلَهُكُمْ إِلَهُ وَّاحِدْ, لَااِلَهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمَنِ الْرَّحِيْمِ

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (255) لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (284) آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285) لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286)

إِرْحَمْنَا يَاأَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهَ عَلَيْكُم أهْلَ الْبَيْتِ إنَّهُ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. إنَمَا يُرِيْدُ اللهِ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهَّرُكُمْ تَطْهِيْرَا.إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (56)اَللَّهُمَّ صَلِّى أَفْضَلَ الصَلَاةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوقَاتِكَ نُوْرِ الْهُدَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. عَدَدَ مَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُوْنَ. وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغاَفِلُوْنَ . اَللَّهُمَّ صَلىِّ اَفْضَلَ الصَّلَاةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوْقَاتِكَ شَمْسِ الضُّحَى سَيِّدِنَا وَمَوْلانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَدَدَمَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَكَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَاكِرُوْنَ. وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ اَللهَّمَ صَلِّى أَفْضَلَ الصَّلَاةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوْقَاتِكَ بَدْرِ الدُّجَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَاكِرُوْنَ . وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ . وَسَلَِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَعََالىَ عَنْ سَادَاتِنَا أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ . حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكيِلْ. نِعْمَ الَموْلَى وَنِعْمَ النَّصِير. وَلَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إلابِاللهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ . أَسْتَغْفِرُاللهَ العَظِيْمِ .3X

أَفْضَلُ الذِكْرِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ :

لاإله إلاألله ……..حَيٌّ مَوْجُوْد

لاإله إلاألله ……..حَيٌّ مَعْبُوْد

لاإله إلاألله ……..حَيٌّ باَق

لاإله إلاألله ….. X 100

لاإله إلاألله محمد رسولالله

أللهم صلى على سيدنا محمد, أللهم صلى عليه وسلم X 3

أللهم صلى على سيدنا محمد يارب صل عليه وسلم X1

سبحان الله وبحمده . سبحان الله العظيم …….. X7

سبحان الله وبحمده . سبحان الله العظيم وبحمده ….. X3. أللهم صل على حبيبك سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم ……… X 3

. أللهم صل على حبيبك سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وبرك وسلم أجمعين . الفاتحة ………….

دعا الفاتحة

بِسْمِ اللهَِ الرَحْمَنِ الرَحيْمِ الَحَمْدُ لِلَهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ . اَلَّلهُمَّ صَلِّى عَلَى سَيِّدِنّا مُحَمَّدٍ فِي الاَوَّلِيْنَ . وَصَلِّ وَسَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي الاَخِرِيْنَ. . وَصَلِّ وَسَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي المَلَاءاِلاَعْلَى إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ . اَللَّهُمَّ اجْعَلْ وَاَوْصِلْ ثَوَابَ مَاقَرَأْنَاهُ مِنَ القُرْأَنِ العَظِيْمِ . وَمَا قُلْنَا مِنْ قَوْلِ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَمَا سَبَّحْنَاهُ وَبِحَمْدِهِ . وَمَا صَلَّيْنَاُه عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم فِى هَذَا المَجْلِسِ المُبَارَك , هَدِيَّةً وَاصِلَةً , وَرَحْمَةً نَازِلَةً , وَبَرَكَةََ شَامِلَةً , وَصَدَقَةً مُتَقَبَّلَةً , نُقَدِّمَ ذَلِكَ وَنُهْدِيْهِ اِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِيْنَا وَقُرَّةِ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدٍ صَلَى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . ثُمَّ إِلَى أَرْوَاحِ أَبَائِهِ وَإِخْوَانِهِ مِنَ الاَنِبيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ . صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَمُهَُ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ .وَإِلَى رُوْحِ أَلِ كُلِّ وَالصَحَابَةِ وَالقَرَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَّابِعِ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَاِن إِلَى يَوْمِ الدَّيْنِ . ثُمَّ إِلَى جَمِيْعِ أَهْلِ القُبُوَْرِ مِنَ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمًؤْمِنَاتِ الاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالَامْوَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الاَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَابَرِّهَا وَبَحْرِهَا خُصُوصًا إِلَى أَبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَسَاتِذَتِنَا وَأَسَاتِذَةِ أَسَاتِذَتِنَا وَلِمَنِ اجْتَمَعْنَا هَاهُنَا بِسَبَبِهِ وَلِاَجْلِهِ اَللَّهُمَّ اغْفِرْلَهُ (لها / لهم ) وَارْحَمْهُ (لها / لهم ) وَعَافِهِ (لها/ لهم ) وَعْفُ عَنْهُ (لها / لهم ) وَوَالِدِيْنَا وَوَالِدِيْهِمْ وَأُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ . اَللَّهُمَّ اجْبُرْانكِسَارَنَا وَاقْبَلِ اعتِذَارَنَا واَخْتِمْ باِلصَّالِحَاتِ أَعْمَالَنَا وَعَلَى الاِيْمَانِ وَالاِسْلَامِ جَمِيْعًا تَوَفنَّاَ . وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا . وَلَاتُخَيِّبْنَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ . وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ . سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمِّا يَصِفُوْنَ . وَسَلَامٌ عَلَى المُْرسَلِيْنَ وَ الْحَمْدُ لِلَهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ . الفاتحة…………………

Dalam uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa tahlil adalah perkara yang baik (khair) bukan perkara yang buruk (sayyiah) karena berisikan shalawat, tasbih, tahmid, tahlil dan do’a-do’a yang bagus serta tahlil juga bisa melatih lisan untuk selalu berdzikir kepada Allah

Sahabatku, kutunjukkan beberapa keutamaan kandungan tahlilan yang populer

1. Surat Al Fatihah

روى مسلم في (صحيحه) سنده, عن ابن عباس رضى الله عنهما قال: بينما جبريل قاعد عند النبي صلى الله عليه وسلم سمع نقيضا من فرقه , فرفع رأسه فقال : ((هذا باب من السماء فتح اليوم لم يفتح قط الا اليوم . فنزل منه ملك فقال: هذا ملك نزل الى الارض لم ينزل قط الا اليوم . فسلم وقال: أبشر بنورين أوتتهما لم يؤتهما نبي قبلك , فاتحة الكتاب وخواتيم سورة البقرة . لن تقرأ بحرف منهما الا أعطيتها)).[52]

“Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, ketika Malaikat Jibril duduk bersama Nabi SAW, beliau mendengae suara pintu terbuka dari atasnya. Kemudian Nabi SAW menengadahkan kepala. Malikat Jibril AS lalu berkata, pada hari ini pintu langit dibuka dan belum pernah dibuka sebelumnya. Malaikat turun kebumi yang tidak pernah turun kecuali hari ini. Ia kemudian mengucapakan salam kepana Nabi SAW seraya berkata, bergembiralah engakau (Muhammad SAW) dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu dan belum pernah diterima oelh Nabi sebelumnya, yakni surat Al Fatehah dan beberapa ayat terakhir Surat Al Baqarah. Tidaklah kamu membaca satu huruf dari keduanya kecuali engkau akan diberi imbalanya.”

وروى البخري في (صحيحه) بسنده, عن أبي سعيد ابن المعلى رضي الله عنه قال : كنت أصلى, فدعانى النبي صلى الله عليه وسلم فلم أجبه, قلت: يارسول الله إني كنت أصلى, قال : ألم يقل الله (استجيبوا لله وللرسول إذا دعاكم) ثم قال : الا أعلمك أعظم سورة في القرأن قبل أن تخرج من المسجد. فأخذ بيذي, فلما أردنا أن تخرج قلت: يا رسول الله . إنك قلت :لأعلمنك أعلم سورة في القرأن , قال: (الحمد لله رب العالمين) هي السبع المثاني والقرأن العظيم اللذي أوتيته)[54]

“Diriwayatkan dari Abi Sa’id Bin Ma’ali RA, ia berkata, ketika saya sedang shalat, kemudian Nabi SAW memanggil saya kemudian saya tidak menemui Nabi, kemudian saya berkata, ya Rasulallah sesungguhnya saya telah melakukan shalat, kemudian Nabi berkata, bukankah Allah telah berfirman “Istajibu lillahi Wa lirrosuli ida dakum” kemudian Nabi Berkata, maukah kamu saya ajarkan surat yang agung yang ada dalam Al Qur’an sebelum kamu keluar dari masjid”, sambil memegangi tanganku. Kemudian ketika saya hendak keluar maka saya berkata kepada rosul bahwa engakau mau mengajarkan surat kepada saya, maka rasul menjawab, yaitu “Al Hamdu lillahi Rabbil Alamin”. Dia adalah tuju ayat yang diulang-ulang dan juga Al Qur’an yang paling agung yang diberikan kepadaku”.

  1. Surat Al Ikhlas

روى البخرى فى (صحيحه) بسنده عن أبى سعيد الخذرى رضي الله عنه أن رجلا سمع رجلا يقرأ : (قل هو الله أحد) يرددها فلما أصبح جاء إلى النبي صلى الله عليه وسلم فذكر له ذلك وكأن الرجل يتقالها . فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم (والذي نفسي بيده إنها لتعدل ثلث القرأن)[55]

Ada seorang laki-laki mendengar seseoarang laki-laki lain yang sedang membaca surat Al Ikhlas dengan berulang-ulang, tatkala pagi hari, laki yang mendengar itu mendatangi rosul dan menyebutkan demikian seakan-akan laki-laki tersebut menganggap remeh terhadap surat Al Ikhlas maka Rasul menjawab Demi Dzat yang jiwaku dalam kekuasaanya, sesungguhnya Al Ikhlas dapat membandingi sepertiga Al Qur’an.”

3. Surat Al Falaq dan Surat An Nas

وروي الترمذي بسنده عن عقبه بن عامر الجهنى رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (قد أنزل علي أيات لم ير مثلهن : قل أعوذ برب الناس. إلى أخر السورة . و قل أعوذ برب الفلق. إلى أخر السورة)[56]

Imam At Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya dari Uqbah Bin Amir Al Juhni RA. dari Nabi SAW. Nabi bersabda : Sesungguhnya Allah telah menurunkan kepadaku beberapa Ayat yang Nabi belum melihat yang menyerupainya (yang menyamainya ) yaitu: Surat Annas dan Surat Al Falaq”.

4. Bacaan Laa Ilaaha Il lallah

bacaan Tahlil sudah sedikit disinggung tentang keutamaan kalimah Thayyibah, bahwa kalimat tersebut adalah sebaik baiknya dzikir seperti yang diriwayatkan oleh Shahbat Jabir Bin Abdillah. Selain dari pada keutamaan tersebut, Kalimah Thayyibah juga memiliki keutamaan yang lain diantaranya; Hadis yang diriwayatkan oleh shahabat Abu Hurairah ra.

وروى الترمذي بسنده عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَا قَالَ عَبْدٌ لا إله إلا الله قَطٌّ مُْحلِصًا إلا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ حَتَّى تُفْضِي إلى العرشِ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرَ. [57]

“Tidaklah seorang hamba mengucapkan Laa Ilaa Ha Illallah dengan penuh keikhlasan melainkan akan dibukakan baginya pintu-pintu langit sehingga Laa Ilaa Ha Illallah dilaporkan keatas selama ia menjauhi dosa-dosa besar.”

Dan masih bnyak lagi keutaman daripada kalimah Thayyibah tersebut.

Dalil alquran dan hadist

DALIL DARI ALQURAN

Seperti yang tersebut didalam Al Qur’an:

1. Qs. Muhammad 19

وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“dan mohonlah ampunnan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.”

Dari ayat tersebut menerangkan bahwa orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan mendapatkan manfaat dari istighfar orang mukmin lainnya.

2. Qs. Al Nuh 28

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا

“Ya tuhanku ampunilah aku. Ibu bapakku, orang yang masuk kerumahku dengan beriman, serta semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zhalim itu selain kebinasaan.”

3. Qs. Ibrohim 40-41

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (40) رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (41)

“Ya tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya tuhan kami, perkenankanlah do’aku . Ya tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab.”

4. Qs. Al Hasyr 10

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan anshar), mereka berdo’a, ya tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya tuhan kami, sesungguhnya Engkau MahaPenyantun lagi Maha Penyayang.”

5. Qs. At Tur 21

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“dan orang-orang yang beriman, serta anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap mausia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

Mengenai ayat ini Syekh ‘Alauddin Ali Bin Muhammad Bin Ibrahim Al Baghdadi memberikan penjelasan sebagai berikut:

“kami menyamakan anak-anak mereka yang kecil dan yang dewasa dengan keimanan orang tua mereka. Yang dewasa dengan keimanan mereka sendiri, sementara yang kecil dengan keimanan orang tuanya. Keislaman seorang anak yang masih kecil diikutkan pada salah satu dari kedua orang tuanya. (kami menyamakan kepada mereka keturunan mereka) artinya menyamakan orang-orang mukmin di surga sesuai dengan derajat orang tua mereka, meskipun amal-amal mereka tidak sesuai dengan derajat orang tua mereka, meskipun amal-amal mereka tidak sampai pada derajat amal orang tua mereka. Hal itu sebagai penghormatan kepada orang tua mereka agar mereka senang. Keterangan ini diriwayatkan dari Ibn Abbas ra.”

6. Al-Baqarah : 186

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (186)

“dan apabila hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memnuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran .“[72]

Beberapa ayat dan keterangan tersebut menjadi bukti nyata bahwa orang yang beriman tidak hanya memperoleh pahala dari perbuatannya sendiri. Mereka juga dapat merasakan manfaat amaliyah orang lain.

DALIL DARI HADIST

Selain dalil dari Al Qur’an yang menerangkan bahwa, orang yang sudah meninggal dunia dapat merasakan manfaat amaliyah orang lain, dalam hadispun tedapat keterangan yang menyatakan hal tersebut. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Shahabat Abu Hurairah ra.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى الْمَيِّتِ فَأَخْلِصُوْا لَهُ الدُّعَاَء (سنن الترمذى رقم 2784)

“Dari Abu Hurairah RA, Aku mendengar Rosulullah SAW bersabda, Jika kamu semua menshalati mayit, maka berdo’alah dengan ikhlas untuknya. (Sunan Al Tirmidzi, 2784)”

Hadist tersebut secara jelas menerangkan bahwa Rosulullah SAW memerintahkan kepada umat islam untuk mendo’akan orang yang sudah meninggal dunia dengan tulus ikhlas. Hal ini berarti bahwa do’a yang dibaca dengan ikhlas dapat bermanfaat bagi mayit yang dimaksud. Juga hadits lain menerangkan bahwa Rosul pernah mendo’akan orang yang sudah mati seperti hadits yang diriwayatkan oleh Auf bin Malik ra.

عَنْ عَوْفٍ بْنٍ مَالِكِ رَضِيَ اللهُ عَنْهَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلًّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى جَنَازَةٍ فَحَفِظْتُ مِنْ دُعَائِهِ وَهُوَ يَقُوْلُ اَللَّهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُرُلَهُ وَوَسِعْ مَدْخَلَهُ وَاَغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالْثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْاَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةًَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ (صحيح مسلم, رقم ..16)

“Diriwayatkan dari Auf bin Malik RA, ia berkata, Rasulullah SAW pernah menshalati jenazah dan saya hafal do’a Rasulullah SAW tersebut. Do’a yang beliau baca adalah, Ya Allah, ampunillah dosanya, kasihanilah dia, selamatkanlah dan maafkanlah dia. Ya Allah, baguskanlah tempat kembalinya, luaskanlah kediamanya, bersihkanlah ia dengan air dan embun, bersihkanlah ia dari dosa-dosanya, sebagaimana Engkau membersihkan baju putih nan suci dari kotoran. Berilah ia rumah yang lebih bagus, karuniakanlah isteri yang lebih baik dari isterinya (ketika di dunia), masukanlah ia kedalam surga, dan selamatkanlah ia dari siksa kubur dan siksa api neraka.”

Hadits tersebut menerangkan bahwa Rasulullah SAW pernah mendo’akan orang yang sudah mati dan memohon agar dosanya diampuni. Maka semakin jelaslah orang yang sudah meninggal dunia dapat memperoleh manfaat dari amal orang-orang yang masih hidup.

اَنَّ عَائِسَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا سَأَلَتِ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ أَقُوْلُ إِذَا اسْتَغْفَرْتُ لِاَهْلِ الْقُبُوْرِقَالَ قُوْلِى اَلسَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الْدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ وَإنَّا إنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُوْنَ (صحيح مسلم, رقم 1619)

“Sesungguhnya ‘Aisyah RA bertanya kepada Rasulullah SAW, apa yang harus dibaca ketika kami memohon ampun bagi ahli kubur? Rasulullah SAW menjawab, Ucapkanlah, Salam sejahtera atas engkau semua wahai ahli kubur dari golongan mukminin dan muslimin, semoga Allah SWT melimpahkan Rahmat-Nya bagi orang-orang yang mendahului serta orang-orang yang datang kemudian dari kami. Dan Insya Allah kami akan menyusul kalian.”

Hadits diatas menerangkan bahwa Rasulullah menganjurkan untuk ziarah kubur dan mengucapkan salam kepada ahli kubur serta mendo’akannya dan ada juga hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah SAW sering ziarah kemaqam baqi’. Bisa dipahami dari penjelasan tersebut, bahwa ahli kubur dapat mendengar salam dari orang yang mengucapkan salam kepada ahli kubur tersebut dan memperoleh manfaat dari do’a tersebut.

عن عثمان بن عفان رضي الله عنه قال كان النبي صلى الله عليه وسلم إذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اِسْتَغْفِرُوا لاَخِيْكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالْتَّثْبِيْتِ فَاِءنَّهُ الآنَ يُسْأَلُ (سنن ابي داود, رقم 2804 )

“Dari Usman bin Affan, ia berkata jika Nabi Muhammad SAW selesai menguburkan jenazah, beliau berdiri didekat kubur lalu bersabda, hendaklah kamu sekalian memintakan ampunan bagi saudaramu (yang meninggal ini) baginya karena saat ini dia sedang ditanya oleh malaikat.”

عَنْ عَائِسَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ رَجُلا أَتَى النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ أُمِّىْ أُفْتُلِتَتْ َنفْسُهَا وَلَمْ تُوْصِ وَأَظَنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ (صحيح مسلم , رقم 1672 )

“Dari ‘Aisyah RA, seseorang laki-laki bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, Ibu saya meninggal dunia secara mendadak dan tidak sempat berwasiat. Saya menduga seandenya dia dapat berwasiat, tentu ia akan bersedekah. Apakah ia akan mendapat pahala jika saya bersedekah atas namanya ? Nabi Muhammad SAW menjawab, “Ya”.”[77]

عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيْرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لا يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ وَأَمَّا الاخَرُ فَكَانَ يَمْشِى بِالنَّمِيْمَةِ ثُمَّ أَخَذَ جَرِيْدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةٍ , قَالُوا يَا رَسُولُ الله لِمَ فَعَلْتَ هَذَا ؟ قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَالَمْ يَيْبَسَا (صحيح البخارى, رقم 209)

“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, suatu hari Nabi SAW berjalan melewati dua pemakaman. Kemudian beliau bersabda, kedua orang yang berada dalam kuburan ini sekarang sedang disiksa. Namun keduanya disiksa bukan karena dosa besar. Yang satu disiksa karena ia kencing dan tidak menutup auratnya. Dan yang lain disiksa karena suka mengadu domba. Lalu Nabi SAW mengambil pelapah kurma dan membelahnya menjadi dua, kemudian menancapkanya diatas kubur masing-masing. Para shahabat bertanya, mengapa engkau melakukan hal tersebut ? Nabi SAW menjawab, semoga keduanya mendapatkan keringanan siksa selama pelepah kurma ini belum kering.”

عَنْ مَعْقِلٍ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَيس قَلْبُ اٍلقُرْأَنِ لا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيْدُ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَالدَّارَ الاخِيْرَةَ إلا غُفِرَ لَهُ وَاقْرَؤُهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ (مسند احمد بن حنبل , رقم 1941 )

“Diriwayatkan dari Ma’kil bin Yasar RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, surat yasin adalah intisari Al Qur’an. Tidaklah seseorang membacanya dengan mengharap rahmat Allah SWT kecuali Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya. Maka bacalah surat Yasin atas orang-orang yang telah meninggal diantara kamu sekalian.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ . قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ دَخَلَ الْمَقَابِرَ ثُمَّ قَرَأَ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدْ وَأِلَهُكُمُ الْتَكَاثُرُ ثُمَّ قَالَ إِنِّي جَعَلْتُ ثَوَابَ مَا قَرَأْتُ مِنْ كَلَامِكَ لاَهْلِ الْمَقَابِرِ مِنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَانُوْا شُفَعَاءَ لَهُ إِلَى اللهِ تَعَالَى (أخرجه أبو القاسم الزنجاني , حول خصائص القرأن : 46 )

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, barang siapa memasuki pemakaman lalu membaca sura Al Fatihah, Al Ikhlas dan At Takatsur, lalu berdo’a, Aku hadiahkan bacaan yang aku baca dari firman-Mu untuk semua Ahli Qubur dari kalangan mukmiin dan mukminat, maka semua ahli qubur itu akan memberikan syafa’at (pertolongan) kepada orang yang membaca surat tersebut.”

كَانَتِ الاَنْصَارُ إِذَا مَاتَ لَهُمُ الْمَيِّتُ اخْتَلَفُوْا عَلَى قَبْرِهِ يَقْرَؤُنَ عِنْدَهُ الْقُرْأَنَ (الروح: 11 )

“Jika ada shahabat dikalangan Anshar meninggal dunia, mereka berkumpul di depan kuburnya sambil membaca Al Qur’an.”

Demikianlah beberapa Hadits yang bisa Disebutkan dalam penulisan risalah ini, tentunya masih banyak sekali dalil-dalil dari hadits yang menjelaskan bahwa amaliyah orang yang masih hidup dapat bermanfaat bagi orang yang sudah meninggal dunia, dan dengan disebutkannya beberapa dalil dari hadits yang tersebut diatas penulis berharap bagi para pembaca ketika melakukan ritual tahlil tidak lagi mersa bimbang dan khawatir kalau-kalau perbuatan tersebut sia-sia.
sungguh hanya orang-orang yang paham mendalam alquran dan hadist sajalah yang bisa demikian, itulah hebatnya para ulama, maka telitilah kawan, kajilah, maka engkau kan dapatkan kebenaran-kebenaran.. jangan gunakan nafsumu, maupun kebodohan-kebodohanmu…

6. beberapa pendapat ulama tentang tahlilan ;

  1. Pendapat Almarhum KH. Muchit Muzadi dalam artikelnya yang berjudul “Tidak Mungkin Agama Terlepas dari Tradisi Lokal” yang termuat dalam majalah Afkar sebagai berikut: “bagaimana sebenarnya pandangan Nahdlatul Ulama terhadap tradisi local ? NU termasuk organisasi Islam yang bisa menerima tradisi lokal. Bahkan bisa dikatakan lebih bisa menerima tradisi lokal ketimbang beberapa organisasi islam yang lain. “Agama apa sih yang bisa diterapkan tanpa pengaruh dan percampuran dengan tradisi lokal ? itu tidak mungkin. Karena agama itu untuk manusia dan manusia dimanapun selalu dipengaruhi oleh lingkungannya”.Dengan dicontohkan “waladun shalihun ya’du lahu” di Indonesia waladun shalihun dirangkaikan dengan cara ritual tahlilan.
  2. Imam Al Syaukani mengatakan bahwa setiap perkumpulan yang didalamnya dilaksanakan kebaikan, misalnya membaca Al Qur’an, Dzikir dan Do’a, itu adalah perbuatan yang dibenarkan meskipun tidak pernah dilaksanakan pada masa Rosulullah. Begitupula tidak ada larangan untuk menghadiahkan pahala bacaan Al Qur’an atau lainnya kepada orang yang sudah meninggal dunia.
  3. Imam Ibnu Taymiah Syaikhul Islamnya Salafiyyin (Wahabi) suatu ketika pernah ditanya, apakah bacaan keluarga mayyit, tasbih, tahmid, takbir, tahlil jika dihadiahkan pahalanya untuk si mayyit akan sampai atau tidak? Maka beliau menjawab: “akan sampai bacaan keluarga si mayyit seperti bacaan tasbih, tahmid, tahlil dan seluruh jenis dzikir kepada Allah jika dihadiahkan kepada mayyit akan sampai”
  4. dan masih banyak lagi…

Sahabatku semua yang dirahmati Allah,..

Saya ulang lagi, Pada hakikatnya majelis tahlil atau tahlilan adalah hanya nama atau sebutan untuk sebuah acara di dalam berdzikir dan berdoa atau bermunajat bersama.sudah jelas…. hanya sebuah nama...

Yaitu berkumpulnya sejumlah orang untuk berdoa atau bermunajat kepada Allah SWT dengan cara membaca kalimat-kalimat thayyibah seperti tahmid, takbir, tahlil, tasbih, Asma’ul husna, shalawat dan lain-lain. apakah itu salah? apakah itu bidah?  ya, bid’ah hasanah tentunya, jika engkau menggangap bid’ah yang sesat, etss nanti dulu,…

Maka sangat jelas bahwa majelis tahlil sama dengan majelis dzikir, hanya istilah atau namanya saja yang berbeda namun hakikatnya sama. (Tahlil artinya adalah lafadh Laa ilaaha illallah) Lalu bagaimana hukumnya mengadakan acara tahlilan atau dzikir dan berdoa bersama yang berkaitan dengan acara kematian untuk mendoakan dan memberikan hadiah pahala kepada orang yang telah meninggal dunia ? Dan apakah hal itu bermanfaat atau tersampaikan bagi si mayyit ?

Menghadiahkan Fatihah, atau Yaasiin, atau dzikir, Tahlil, atau shadaqah, atau Qadha puasanya dan lain lain, itu semua sampai kepada Mayyit, dengan Nash yang Jelas dalam Shahih Muslim hadits no.1149, bahwa “seorang wanita bersedekah untuk Ibunya yang telah wafat dan diperbolehkan oleh Rasul saw”, dan adapula riwayat Shahihain Bukhari dan Muslim bahwa “seorang sahabat menghajikan untuk Ibunya yang telah wafat”, dan Rasulullah SAW pun menghadiahkan Sembelihan Beliau SAW saat Idul Adha untuk dirinya dan untuk ummatnya, “Wahai Allah terimalah sembelihan ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari Ummat Muhammad” (Shahih Muslim hadits no.1967).

Dan hal ini (pengiriman amal untuk mayyit itu sampai kepada mayyit) merupakan Jumhur (kesepakatan) Ulama seluruh madzhab dan tak ada yang memungkirinya apalagi mengharamkannya, dan perselisihan pendapat hanya terdapat pada madzhab Imam Syafi’i, bila si pembaca tak mengucapkan lafadz : “Kuhadiahkan”, atau wahai Allah kuhadiahkan sedekah ini, atau dzikir ini, atau ayat ini..”, bila hal ini tidak disebutkan maka sebagian Ulama Syafi’iy mengatakan pahalanya tak sampai.

Jadi tak satupun ulama ikhtilaf dalam sampai atau tidaknya pengiriman amal untuk mayiit, tapi berikhtilaf adalah pada Lafadznya. Demikian pula Ibn Taimiyyah yang menyebutkan 21 hujjah (dua puluh satu dalil) tentang Intifa’ min ‘amalilghair (mendapat manfaat dari amal selainnya). Mengenai ayat : “DAN TIADALAH BAGI SESEORANG KECUALI APA YG DIPERBUATNYA, maka Ibn Abbas ra menyatakan bahwa ayat ini telah mansukh dengan ayat “DAN ORANG ORANG YG BERIMAN YG DIIKUTI KETURUNAN MEREKA DENGAN KEIMANAN”,
Mengenai hadits yang mengatakan bahwa bila wafat keturunan adam, maka terputuslah amalnya terkecuali 3 (tiga), shadaqah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anaknya yang berdoa untuknya, maka orang orang lain yang mengirim amal, dzikir dll untuknya ini jelas jelas bukanlah amal perbuatan si mayyit, karena Rasulullah SAW menjelaskan terputusnya amal si mayyit, bukan amal orang lain yang dihadiahkan untuk si mayyit, dan juga sebagai hujjah bahwa Allah memerintahkan di dalam Al Qur’an untuk mendoakan orang yang telah wafat : “WAHAI TUHAN KAMI AMPUNILAH DOSA-DOSA KAMI DAN BAGI SAUDARA-SAUDARA KAMI YG MENDAHULUI KAMI DALAM KEIMANAN”, (QS Al Hasyr-10).

Mengenai rangkuman tahlilan itu, tak satupun Ulama dan Imam Imam yang memungkirinya, siapa pula yang memungkiri muslimin berkumpul dan berdzikir?, hanya syaitan yang tak suka dengan dzikir. Didalam acara Tahlil itu terdapat ucapan Laa ilaah illallah, tasbih, shalawat, ayat qur’an, dirangkai sedemikian rupa dalam satu paket dengan tujuan agar semua orang awam bisa mengikutinya dengan mudah, ini sama saja dengan merangkum Al Qur’an dalam disket atau CD, lalu ditambah pula bila ingin ayat Fulani, silahkan Klik awal ayat, bila anda ingin ayat azab, klik a, ayat rahmat klik b, maka ini semua dibuat buat untuk mempermudah muslimin terutama yang awam. Atau dikumpulkannya hadits Bukhari, Muslim, dan Kutubussittah, Alqur’an dengan Tafsir Baghawi, Jalalain dan Ilmu Musthalah, Nahwu dll, dalam sebuah CD atau disket, atau sekumpulan kitab, bila mereka melarangnya maka mana dalilnya ?, Munculkan satu dalil yang mengharamkan acara Tahlil?, (acara berkumpulnya muslimin untuk mendoakan yang wafat) tidak di Al Qur’an, tidak pula di Hadits, tidak pula di Qaul Sahabat, tidak pula di kalam Imamulmadzahib, hanya mereka saja yang mengada ada dari kesempitan pemahamannya.

Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan tiap hari, tak ada dalil yang melarangnya, itu adalah Bid’ah hasanah yang sudah diperbolehkan , justru kita perlu bertanya, ajaran muslimkah mereka yang melarang orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, siapa yang alergi dengan suara Laa ilaaha illallah kalau bukan syaitan dan pengikutnya ?, siapa yang membatasi orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, muslimkah?, semoga Allah memberi hidayah pada muslimin, tak ada larangan untuk menyebut Laa ilaaha illallah, tak pula ada larangan untuk melarang yang berdzikir pada hari ke 40, hari ke 100 atau kapanpun, pelarangan atas hal ini adalah kemungkaran yang nyata.

Bila hal ini dikatakan merupakan adat orang hindu, maka bagaimana dengan computer, handphone, mikrofon, dan lainnya yang merupakan adat orang kafir, bahkan mimbar yang ada di masjid masjid pun adalah adat istiadat gereja, namun selama hal itu bermanfaat dan tak melanggar syariah maka boleh boleh saja mengikutinya, sebagaimana Rasul saw meniru adat yahudi yang berpuasa pada hari 10 muharram, bahwa Rasul saw menemukan orang yahudi puasa dihari 10 muharram karena mereka tasyakkur atas selamatnya Musa as, dan Rasul saw bersabda : Kami lebih berhak dari kalian atas Musa as, lalu beliau saw memerintahkan muslimin agar berpuasa pula” (HR Shahih Bukhari hadits no.3726, 3727).

Sebagaimana pula diriwayatkan bahwa Imam Masjid Quba di zaman Nabi saw, selalu membaca surat Al Ikhlas pada setiap kali membaca fatihah, maka setelah fatihah maka ia membaca AL Ikhlas, lalu surat lainnya, dan ia tak mau meninggalkan surat al ikhlas setiap rakaatnya, ia jadikan Al Ikhlas sama dengan Fatihah hingga selalu berdampingan disetiap rakaat, maka orang mengadukannya pada Rasul saw, dan ia ditanya oleh Rasul saw : Mengapa kau melakukan hal itu?, maka ia menjawab : Aku mencintai surat Al Ikhlas. Maka Rasul saw bersabda : Cintamu pada surat Al ikhlas akan membuatmu masuk sorga” (Shahih Bukhari).

Maka tentunya orang itu tak melakukan hal tsb dari ajaran Rasul saw, ia membuat buatnya sendiri karena cintanya pada surat Al Ikhlas, maka Rasul saw tak melarangnya bahkan memujinya. Kita bisa melihat bagaimana para Huffadh (Huffadh adalah Jamak dari Al hafidh, yaitu ahli hadits yang telah hafal 100.000 hadits (seratus ribu) hadits berikut sanad dan hukum matannya) dan para Imam imam mengirim hadiah pada Rasul saw :

Berkata Imam Alhafidh Al Muhaddits Ali bin Almuwaffiq rahimahullah : “aku 60 kali melaksanakan haji dengan berjalan kaki, dan kuhadiahkan pahala dari itu 30 haji untuk Rasulullah saw”.

Berkata Al Imam Alhafidh Al Muhaddits Abul Abbas Muhammad bin Ishaq Atssaqafiy Assiraaj : “aku mengikuti Ali bin Almuwaffiq, aku lakukan 7X haji yang pahalanya untuk Rasulullah saw dan aku menyembelih Qurban 12.000 ekor untuk Rasulullah saw, dan aku khatamkan 12.000 kali khatam Alqur’an untuk Rasulullah saw, dan kujadikan seluruh amalku untuk Rasulullah saw”.

Ia adalah murid dari Imam Bukhari rahimahullah, dan ia menyimpan 70 ribu masalah yang dijawab oleh Imam Malik, beliau lahir pada 218 H dan wafat pada 313H

Berkata Al Imam Al Hafidh Abu Ishaq Almuzakkiy, aku mengikuti Abul Abbas dan aku haji pula 7X untuk rasulullah saw, dan aku mengkhatamkan Alqur’an 700 kali khatam untuk Rasulullah saw. (Tarikh Baghdad Juz 12 hal 111).

sahabatku yang aku sayangi karena Allah,

seseorang bertanya kepada habieb munzir Almusyawwa

Mohon habib memberikan penjelasan mengenai kutipan al Umm imam Syafi’i ini,

Imam Asy Syafi’I, yakni seorang imamnya para ulama’, mujtahid mutlak, lautan ilmu, pembela sunnah dan yang khususnya di Indonesia ini banyak yang mengaku bermadzhab beliau, telah berkata dalam kitabnya Al Um (I/318) :
” Aku benci al ma’tam yaitu berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan .”

Dari pernyataan Imam Syafi’i di atas, beliau menerangkan bahwa berkumpul di rumah ahli mayit (meskipun menurut kebiasaan) akan memperbaharui kesedihan (dengan kata lain, si pemilik rumah, yg anggota keluarganya wafat, akan merasa sedih lagi, meskipun tidak mesti menangis). JANGAN SALAH, ini bukan berarti kalau tidak sedih boleh dilakukan. Sama sekali tidak! Perkataan Imam Syafi’I diatas tidak menerima pemahaman terbalik atau mafhum mukhalafah.

Dari beberapa sumber referensi, aku dapatkan pengertian bahwa : ” beliau (imam Syafi’i) dengan tegas MENGHARAMKAN berkumpul-kumpul di rumah keluarga/ahli mayit. Ini baru berkumpul saja, bagaimana kalau di sertai dengan apa yang kita namakan disini sebagai Tahlilan ?”

Sementara itu, Imam Ibnul Qayyim, di kitabnya Zaadul Ma’aad (I/527-528) menegaskan bahwa berkumpul-kumpul ( dirumah ahli mayit ) dengan alasan untuk ta’ziyah dan membacakan Qur’an untuk mayit adalah ” Bid’ah ” yang tidak ada petunjuknya dari Nabi SAW.

Bahkan para ulama/imam empat (Imam Malik, Syafi’i, Hanafi dan Hambali) sepakat dengan melarang hal tersebut (tahlilan). Mereka berempat tidak berselisih/berbeda pendapat tentang larangan hal tersebut melainkan dalam masalah tingkatannya, haram atau makruh saja. Dan tidak ada seorangpun dari mereka yang mengatakan bolehnya tahlilan. Bahkan para sahabat g menggolongkan hal tersebut sebagai niyahah/ratapan terhadap si mayit. Dan ulama telah sepakatkan keharaman niyahah.

Dengan demikian, TAHLILAN BUKANLAH AJARAN ISLAM…melainkan adopsi dari agama Hindu. Aku yakin para Wali Sanga mempunyai alasan tertentu mengapa beliau2 tidak menghapus budaya ini. Salah satu alasan yg aku ketahui adalah untuk memudahkan penyebaran agama Islam. Sebagaimana diketahui, masyarakat Indonesia (terutama Jawa) sangat mencintai budayanya (bahkan cintanya berlebihan).
Wallahu a’lam

jawaban habieb munzir atas pertanyaannya itu..

Anugerah dan Cahaya Rahmat Nya semoga selalu menerangi hari hari anda,

Saudaraku yg kumuliakan,
sebenarnya sudah jelas, bahwa ucapan Imam Syafii itu diselewengkan maknanya oleh mereka, “Ma’tam” adalah perkumpulan ratapan dan tangisan, orang orang Jahiliyah jika ada yg mati di keluarga mereka maka mereka membayar para “penangis” untuk meratap dirumah mereka, semacam adat istiadat mereka seperti itu, memang sudah ada orangnya, sebagaimana masa kini ada group Band penghibur, dimasa lalu juga ada Group penangis, khusus untuk meratap dirumah duka.

ini yg tidak disukai oleh Imam Syafii, dan tentunya Imam syafii mengetahui bahwa hal itu buruk dan dimasa beliau masih ada sisa sisanya yaitu tidak meratap dan menjerit2, tapi disebut perkumpulan Duka,

namun beliau tak menjatuhkan hukum haram, akan tetapi makruh, karena Ma’tam yg ada dimasa beliau sudah jauh berbeda dg Ma’tam yg dimasa Jahiliyah,

karena jika Ma’tam yg dimasa jahiliyah sudah jelas jelas haram, dan beliau melihat dimasa beliau masih ada sisa sisa perkumpulan tangisan dirumah duka, maka beliau memakruhkannya.

kalimat “benci/membenci” pada lafadh para muhadditsin yg dimaksud adala “Kariha/yakrahu/Karhan” yg berarti Makruh.,

Makruh mempunyai dua makna, yaitu : makna bahasa dan makna syariah.
makna makruh secara bahasa adalah benci,
makna makruh dalam syariah adalah hal hal yg jika dikerjakan tidak mendapat dosa, dan jika ditinggalkan mendapat pahala.

sang penulis menyelewengkan ucapan Imam Syafii yg mengatakan bahwa hal itu Makruh, justru Imam syafii tidak menjatuhkan hukum haram, karena jika haram maka beliau tak akan menyebut membenci, tapi haram secara mutlak,

sebab dalam istilah para ahli hadits jika bicara tentang suatu hukum, maka tak ada istilah kalimat benci, senang, ngga suka, hal itu tak ada dalam fatwa hukum, namun yg ada adalah keputusan hukum, yaitu haram, makruh, mubah, sunnah, wajib

maka jika ada fatwa para Imam dalam hukum, tidak ada istilah benci/suka, tapi hukumlah yg disampaikan, maka jelas sudah makna ucapan imam syafii itu adalah hukumnya, yaitu makruh, bukan haram

karena menurut kaidah ushul bahwa semua imam dan ulama dan siapapun, tak berhak memberi pendapat pada suatu hukum dg perasaan, tapi mereka jika berhadapan dg hukum mestilah fatwa syariah yg disampaikan, bukan perasaan benci, senang dll, karena hal itu bukan dalil.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

KENDURI ARWAH, TAHLILAN & YASINAN MENURUT ULAMA 

Hal itu merupakan pendapat orang orang yg kalap dan gerasa gerusu tanpa ilmu, kok ribut sekali dengan urusan orang yg mau bersedekah pada muslimin?,

عن عائشة أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال ثم يا رسول الله إن أمي افتلتت نفسها ولم توص وأظنها لو تكلمت تصدقت أفلها أجر إن تصدقت عنها قال نعم

Dari Aisyah ra bahwa sungguh telah datang seorang lelaki pada nabi saw seraya berkata : Wahai Rasulullah, sungguh ibuku telah meninggal mendadak sebelum berwasiat, kukira bila ia sempat bicara mestilah ia akan bersedekah, bolehkah aku bersedekah atas namanya?, Rasul saw menjawab : “Boleh” (Shahih Muslim hadits no.1004).

Berkata Al Hafidh Al Imam Nawawi rahimahullah :

وفي هذا الحديث أن الصدقة عن الميت تنفع الميت ويصله ثوابها وهو كذلك باجماع العلماء وكذا أجمعوا على وصول الدعاء

“Dan dalam hadits ini (hadits riwayat shahih muslim diatas) menjelaskan bahwa shadaqah untuk mayit bermanfaat bagi mayit, dan pahalanya disampaikan pada mayyit, demikian pula menurut Ijma (sepakat) para ulama, dan demikian pula mereka bersepakat atas sampainya doa doa” (syarh Imam Nawawi ala shahih muslim juz 7 hal 90)

Maka bila keluarga rumah duka menyediakan makanan dengan maksud bersedekah maka hal itu sunnah, apalagi bila diniatkan pahala sedekahnya untuk mayyit, demikian kebanyakan orang orang yg kematian, mereka menjamu tamu2 dengan sedekah yg pahalanya untuk si mayyit, maka hal ini sunnah.

7. Lalu mana dalilnya yg mengharamkan makan dirumah duka?

Mengenai ucapan para Imam itu, yg dimaksud adalah membuat jamuan khusus untuk mendatangkan tamu yg banyak, dan mereka tak mengharamkan itu :
Perlu diketahui bahwa Makruh adalah jika dihindari mendapat pahala dan jika dilakukan tidak mendapat dosa.

1. Ucapan Imam nawawi yg anda jelaskan itu, beliau mengatakannya tidak disukai (ghairu Mustahibbah), bukan haram, tapi orang wahabi mencapnya haram padahal Imam Nawawi mengatakan ghairu mustahibbah, berarti bukan hal yg dicintai, ini berarti hukumnya mubah, dan tidak sampai makruh apalagi haram, dan yg dimaksud adalah mengundang orang dengan mengadakan jamuan makanan (ittikhaadzuddhiyafah), beda dengan tahlilan masa kini bukanlah jamuan makan, namun sekedar makanan ala kadarnya saja, bukan Jamuan, hal ini berbeda dalam syariah, jamuan adalah makan besar semacam pesta yg menyajikan bermacam makanan, ini tidak terjadi pada tahlilan manapun dimuka bumi, yg ada adalah sekedar besek atau sekantung kardus kecil berisi aqua dan kue kue atau nasi sederhana sekedar sedekah pada pengunjung, maka sedekah pada pengunjung hukumnya sunnah.

2. Imam Ibnu Hajar Al Haitsamiy menjelaskan adalah :

من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه بدعة منكرة مكروهة

“mereka yg keluarga duka yg membuat makanan demi mengundang orang adalah hal Bid’ah Munkarah yg makruh” (bukan haram)

semoga anda mengerti bahasa, bahwa jauh beda dengan rumah duka yg menyuguhkan makanan untuk tamu yg mengucapkan bela sungkawa, jauh berbeda dengan membuat makanan demi mengundang orang agar datang, yg dilarang (Makruh) adalah membuat makanan untuk mengundang orang agar datang dan meramaikan rumah, lihat ucapan beliau, bid;ah buruk yg makruh.., bukan haram, jika haram maka ia akan menyebutnya : Bid’ah munkarah muharramah, atau cukup dengan ucapan Bid’ah munkarah, maka itu sudah mengandung makna haram, tapi tambahan kalimat makruh, berarti memunculkan hukum sebagai penjelas bahwa hal itu bukan haram,

Entahlah para wahabi itu tak faham bahasa atau memang sengaja menyelewengkan makna, sebab keduanya sering mereka lakukan, yaitu tak faham hadits dan menyelewengkan makna.

Dalam istilah istilah pada hukum syariah, sungguh satu kalimat menyimpan banyak makna, apalagi ucapan para Muhaddits dan para Imam, dam hal semacam ini sering tak difahami oleh mereka yg dangkal dalam pemahaman syariahnya,

3. Ucapan Imam Ibnu Abidin Al-Hanafy menjelaskan “Ittikhadzuddhiyafah”, ini maknanya “membuat perjamuan besar”, misalnya begini : Gubernur menjadikan selamatan kemenangannya dalam pilkada dengan “Ittikhadzuddhiyafah” yaitu mengadakan perjamuan. Inilah yg dikatakan Makruh oleh Imam Ibn Abidin dan beliau tak mengatakannya haram, kebiasaan ini sering dilakukan dimasa jahiliyah

4. Imam Ad-Dasuqi Al-Maliki berkata berkumpulnya orang dalam hidangan makan makan dirumah mayit hukumnya Bid’ah yg makruh. (Bukan haram tentunya), dan maksudnya pun sama dg ucapan diatas, yaitu mengumpulkan orang dengan jamuan makanan, namun beliau mengatakannya makruh, tidak sampai mengharamkannya. Orang orang wahabi menafsirkan kaliamt “makruh”adalah hal yg dibenci, tentu mereka salah besar, karena imam imam ini berbicara hukum syariah bukan bicara dicintai atau dibenci.

5. Syaikh An-Nawawi Al-Banteni rahimahullah menjelaskan adat istiadat baru berupa “Wahsyah” yaitu adat berkumpul dimalam pertama saat mayyit wafat dengan hidangan makanan macam macam, hal ini makruh, (bukan haram).

dan mengenai ucapan secara keseluruhan, yg dimaksud makruh adalah sengaja membuat acara “jamuan makan” demi mengundang tamu tamu, ini yg ikhtilaf ulama antara mubah dan makruh, tapi kalau justru diniatkan sedekah dengan pahalanya untuk mayyit maka justru Nash Shahih Bukhari dan Shahih Muslim diatas telah memperbolehkannya bahkan sunnah.

Dan tentunya bila mereka (keluarga mayyit) meniatkan untuk sedekah yg pahalanya untuk mereka sendiripun maka tak ada pula yg memakruhkannya bahkan mendapat pahala jika dilakukan.

Yg lebih baik adalah datang dan makan tanpa bermuka masam dan merengut sambil berkata haram..haram… dirumah duka (padahal makruh), tapi bawalah uang atau hadiah untuk membantu mereka.

dan pelarangan / pengharaman untuk tak menghidangkan makanan dirumah duka adalah menambah kesusahan keluarga duka, bagaimana tidak?, bila keluarga anda wafat lalu anda melihat orang banyak datang maka anda tak suguhkan apa2..?, datang dari Luar kota misalnya, dari bandara atau dari stasion luar kota datang dg lelah dan peluh demi hadir jenazah, lalu mereka dibiarkan tanpa seteguk airpun..???, tentunya hal ini sangat berat bagi mereka, dan akan sangat membuat mereka malu.

didalam Ushul dijelaskan bahwa Mandub, hasan, annafl, sunnah, Mustahab fiih (mustahibbah), Muragghab fiih, ini semua satu makna, yaitu yutsab ala fi’lihi walaa yu’aqabu alaa tarkihi (diberi pahala bila dilakukan dan tidak berdosa jika ditinggalkan).
imam Nawawi mengatakan hal itu ghairu mustahibbah, yaitu bukan hal yg bila dilakukan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak mendapat dosa, maka jatuhlah derajatnya antara mubah dan makruh,

Imam Nawawi tidak mengucapkan haram, karena bila haram beliau tak payah payah menaruh kata ghairu mustahibbah dlsb, beliau akan berkata haram mutlaqan (haram secara mutlak), namun beliau tak mengatakannya,

Dan mengenai kata “Bid’ah” sebagaimana mereka menukil ucapan Imam Nawawi, fahamilah bahwa Bid;ah menurut WAHABI sangat jauh berbeda dengan BID’AH menurut Imam Nawawi, Imam Nawawi berpendapat Bid’ah terbagi lima bagian, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram (rujuk Syarh Nawawi ala Shahih Muslim Juz 6 hal 164-165),

maka sebelum mengambil dan menggunting Ucapan Imam Nawawi, fahami dulu apa maksud bid’ah dalam ta’rif Imam Nawawi, barulah bicara fatwa Bid’ah oleh Imam Nawawi,

bila Imam Nawawi menjelaskan bahwa dalam Bid’ah itu ada yg Mubah dan yg makruh, maka ucapan “Bid’ah Ghairu Mustahibbah” bermakna Bid’ah yg mubah atau yg makruh,

kecuali bila Imam Nawawi berkata “Bid’ah Muharramah” (Bid’ah yg haram).

Namun kenyataannya Imam Nawawi tidak mengatakannya haram, maka hukumnya antara Mubah dan makruh.

Untuk Ucapan Imam Ibn Hajar inipun jelas, beliau berkata Bid’ah Munkarah Makruhah, (Bid’ah tercela yg makruh), karena Bid;ah tercela itu tidak semuanya haram, sebagaimana masa kini sajadah yg padanya terdapat hiasan hiasan warna warni membentuk pemandangan atau istana istana dan burung burung misalnya, ini adalah Bid’ah buruk (munkarah) yg makruh, tidak haram untuk memakainya shalat, tidak batal shalat kita menggunakan sajadah semacam itu, namun Bid;ah buruk yg makruh, tidak haram, karena shalatnya tetap sah.

Hukum darimana makruh dibilang haram?, makruh sudah jelas makruh, hukumnya yutsab ala tarkihi wala yu’aqabu ala fi’lihi (mendapat pahala bila ditinggalkan dan tidak mendapat dosa bila dilakukan),

Dan yg dimakruhkan adalah menyiapkan makanan untuk mengundang orang, beda dengan orang datang lalu shohibul bait menyuguhi.

Berkata Shohibul Mughniy :

فأما صنع أهل الميت طعاما للناس فمكروه لأن فيه زيادة على مصيبتهم وشغلا لهم إلى شغلهم وتشبها بصنع أهل الجاهلية

Bila keluarga mayyit membuat makanan untuk orang, maka makruh, karena hal itu menambah atas musibah mereka dan menyibukkan, dan meniru niru perbuatan jahiliyah.
(Almughniy Juz 2 hal 215)

Lalu shohibul Mughniy menjelaskan kemudian :

وإن دعت الحاجة إلى ذلك جاز فإنه ربما جاءهم من يحضر ميتهم من القرى والأماكن البعيدة ويبيت عندهم ولا يمكنهم إلا أن يضيفوه

Bila mereka melakukannya karena ada sebab/hajat, maka hal itu diperbolehkan, karena barangkali diantara yg hadir mayyit mereka ada yg berdatangan dari pedesaan, dan tempat tempat yg jauh, dan menginap dirumah mereka, maka tak bisa tidak terkecuali mereka mesti dijamu (Almughniy Juz 2 hal 215)

(disini hukumnya berubah, yg asalnya makruh, menjadi Mubah bahkan hal yg mulia, karena tamu yg berdatangan dari jauh, maka jelaslah kita memahami bahwa pokok permasalahan adalah pada keluarga duka dan kebutuhan tamu,

Dijelaskan bahwa yg dimaksud adat jahiliyyah ini adalah membuat jamuan besar, mereka menyembelih sapi atau kambing demi mengundang tamu setelah ada kematian, ini makruh hukumnya, sebagian ulama mengharamkannya, namun beda dengan orang datang karena ingin menjenguk, lalu sohibulbait menyuguhi ala kadarnya, Bukan kebuli dan menyembelih kerbau, hanya besek sekedar hadiahan dan sedekah.

baiklah jika sebagian saudara kita masih belum tenang maka riwayat dibawah ini semoga dapat menenangkan mereka :

dari Ahnaf bin Qeis ra berkata : “Ketika Umar ra ditusuk dan terluka parah, ia memerintahkan Shuhaib untuk membuat makanan untuk orang orang” (AL Hafidh Al Imam Ibn Hajar pd Mathalibul ‘Aliyah Juz 1 hal 199 no.709, dan ia berkata sanadnya Hasan)

dari Thaawus ra : “Sungguh mayyit tersulitkan di kubur selama 7 hari, maka merupakan sebaiknya mereka memberi makan orang orang selama hari hari itu” (Diriwayatkan Oleh Al Hafidh Imam Ibn Hajar pd Mathalibul ‘Aliyah Juz 1 hal 199 dan berkata sanad nya Kuat

mengenai pengadaan makanan dan jamuan makanan pada rumah duka telah kuat dalilnya sebagaimana sabda Rasul saw : “Buatlah untuk keluarga Jakfar makanan sungguh mereka telah ditimpa hal yg membuat mereka sibuk” (diriwayatkan oleh Al Imam Tirmidziy no.998 dg sanad hasan, dan di Shahih kan oleh Imam Hakim Juz 1/372)

demikian pula riwayat shahih dibawah ini ;

فلما احتضرعمر أمر صهيبا أن يصلي بالناس ثلاثة أيام ، وأمر أن يجعل للناس طعام فيطعموا حتى يستخلفوا إنسانا ، فلما رجعوا من الجنازة جئ بالطعام ووضعت الموائد ، فأمسك الناس عنها للحزن الذي هم فيه ، فقال العباس بن عبد المطلب : أيها الناس ! إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قد مات فأكلنا بعده وشربنا ومات أبو بكر فأكلنا بعده وشربنا وإنه لابد من الاجل فكلوا من هذا الطعام ، ثم مد
العباس يده فأكل ومد الناس أيديهم فأكلوا

Ketika Umar ra terluka sebelum wafatnya, ia memerintahkan pada Shuhaib untuk memimpin shalat, dan memberi makan para tamu selama 3 hari hingga mereka memilih seseorang, maka ketikan hidangan hidangan ditaruhkan, orang orang tak mau makan karena sedihnya, maka berkatalah Abbas bin Abdulmuttalib ra : Wahai hadirin.., sungguh telah wafat Rasulullah saw dan kita makan dan minum setelahnya, lalu wafat Abubakar ra dan kita makan dan minum sesudahnya, dan ajal itu adalah hal yg mesti, maka makanlah makanan ini..!”, lalu beliau ra mengulurkan tangannya dan makan, maka orang orang pun mengulurkan tangannya masing masing dan makan.
(Al fawaidussyahiir Li Abi Bakar Assyafii juz 1 hal 288, Kanzul ummaal fii sunanil aqwaal wal af’al Juz 13 hal 309, Thabaqatul Kubra Li Ibn Sa’d Juz 4 hal 29, Tarikh Dimasyq juz 26 hal 373, Al Makrifah wattaarikh Juz 1 hal 110)

Kini saya ulas dengan kesimpulan :
1. membuat jamuan untuk mengundang orang banyak dg masakan yg dibuat oleh keluarga mayyit hukumnya makruh, walaupun ada yg mengatakan haram namun Jumhur Imam dan Muhadditsin mengatakannya Makruh.

2. membuat jamuan dengan tujuan sedekah dan pahalanya untuk mayyit hukumnya sunnah, sebagaimana riwayat Shahih Bukhari seorang wanita mengatakan pada Nabi saw bahwa ibuku wafat, dan apakah ibuku mendapat pahala bila aku bersedekah untuknya?, Rasul saw menjawab : Betul (Shahih Bukhari hadits no.1322), bukankah wanita ini mengeluarkan uangnya untuk bersedekah..?,

3. menghidangkan makanan seadanya untuk tamu yg datang saat kematian adalah hal yg mubah, bukan makruh, misalnya sekedar air putih, teh, atau kopi sederhana.

4. Sunnah Muakkadah bagi masyarakat dan keluarga tidak datang begitu saja dg tangan kosong, namun bawalah sesuatu, berupa buah, atau uang, atau makanan.

5. makan makanan yg dihidangkan oleh mereka tidak haram, karena tak ada yg mengharamkannya, bahkan sebagaimana riwayat yg akan saya sebutkan bahwa Umar bin Khattab ra memerintahkan tuk menjamu tamunya jika ia wafat

6. boleh saja jika keluarga mayyit membeli makanan dari luar atau ketring untuk menyambut tamu tamu, karena pelarangan akan hal itulah yg akan menyusahkan keluarga mayyit, yaitu memasak dan merepotkan mereka.

7. makruh jika membuat hidangan besar seperti hidangan pernikahan demi menyambut tamu dirumah duka

mengenai fatwa Imam Syafii didalam kitab I’anatutthaalibin, yg diharamkan adalah Ittikhadzuddhiyafah, (mengadakan jamuan besar), sebagaimana dijelaskan “Syara’a lissurur”, yaitu jamuan makan untuk kegembiraan,

namun bila diniatkan untuk sedekah, walau menyembelih seribu ekor kerbau selama 40 hari 40 malam atau menyembelih 1.000 ekor kambing selama 100 hari atau bahkan tiap hari sekalipun, hal itu tidak ada larangannya, bahkan mendapat pahala.

8. MENGIRIM PAHALA DAN BACA’AN KEPADA MAYIT

1. Ucapan Imam Nawawi dalam Syarah Nawawi Ala shahih Muslim Juz 1 hal 90 menjelaskan :

من أراد بر والديه فليتصدق عنهما فان الصدقة تصل الى الميت وينتفع بها بلا خلاف بين المسلمين وهذا هو الصواب وأما ما حكاه أقضى القضاة أبو الحسن الماوردى البصرى الفقيه
الشافعى فى كتابه الحاوى عن بعض أصحاب الكلام من أن الميت لا يلحقه بعد موته ثواب فهو مذهب باطل قطعيا وخطأ بين مخالف لنصوص الكتاب والسنة واجماع الامة فلا التفات اليه ولا تعريج عليه وأما الصلاة والصوم فمذهب الشافعى وجماهير العلماء أنه لا يصل ثوابها الى الميت الا اذا كان الصوم واجبا على الميت فقضاه عنه وليه أو من أذن له الولي فان فيه قولين للشافعى أشهرهما عنه أنه لا يصلح وأصحهما ثم محققى متأخرى أصحابه أنه يصح وستأتى المسألة فى كتاب الصيام ان شاء الله تعالى
وأما قراءة القرآن فالمشهور من مذهب الشافعى أنه لا يصل ثوابها الى الميت وقال بعض أصحابه يصل ثوابها الى الميت وذهب جماعات من العلماء الى أنه يصل الى الميت ثواب جميع العبادات من الصلاة والصوم والقراءة وغير ذلك وفى صحيح البخارى فى باب من مات وعليه نذر أن ابن عمر أمر من ماتت أمها وعليها صلاة أن تصلى عنها وحكى صاحب الحاوى عن عطاء بن أبى رباح واسحاق بن راهويه أنهما قالا بجواز الصلاة عن الميت وقال الشيخ أبو سعد عبد الله بن محمد بن هبة الله بن أبى عصرون من أصحابنا المتأخرين فى كتابه الانتصار الى اختيار هذا وقال الامام أبو محمد البغوى من أصحابنا فى كتابه التهذيب لا يبعد أن يطعم عن كل صلاة مد من طعام وكل هذه إذنه كمال ودليلهم القياس على الدعاء والصدقة والحج فانها تصل

Berkata Imam Nawawi : “Barangsiapa yg ingin berbakti pada ayah ibunya maka ia boleh bersedekah atas nama mereka (kirim amal sedekah untuk mereka), dan sungguh pahala shadaqah itu sampai pada mayyit dan akan membawa manfaat atasnya tanpa ada ikhtilaf diantara muslimin, inilah pendapat terbaik, mengenai apa apa yg diceritakan pimpinan Qadhiy Abul Hasan Almawardiy Albashriy Alfaqiihi Assyafii mengenai ucapan beberapa Ahli Bicara (semacam wahabiy yg hanya bisa bicara tanpa ilmu) bahwa mayyit setelah wafatnya tak bisa menerima pahala, maka pemahaman ini Batil secara jelas dan kesalahan yg diperbuat oleh mereka yg mengingkari nash nash dari Alqur’an dan Alhadits dan Ijma ummat ini, maka tak perlu ditolelir dan tak perlu diperdulikan.
Namun mengenai pengiriman pahala shalat dan puasa, maka madzhab Syafii dan sebagian ulama mengatakannya tidak sampai kecuali shalat dan puasa yg wajib bagi mayyit, maka boleh di Qadha oleh wali nya atau orang lain yg diizinkan oleh walinya, maka dalam hal ini ada dua pendapat dalam Madzhab Syafii, yg lebih masyhur hal ini tak sampai, namun pendapat kedua yg lebih shahih mengatakan hal itu sampai, dan akan kuperjelas nanti di Bab Puasa Insya Allah Ta’ala.

Mengenai pahala Alqur’an menurut pendapat yg masyhur dalam madzhab Syafii bahwa tak sampai pada mayyit, namun adapula pendapat dari sahabat sahabat Syafii yg mengatakannya sampai, dan sebagian besar ulama mengambil pendapat bahwa sampainya pahala semua macam ibadah, berupa shalat, puasa, bacaan Alqur’an, ibadah dan yg lainnya, sebagaimana diriwayatkan dalam shahih Bukhari pada Bab : “Barangsiapa yg wafat dan atasnya nadzar” bahwa Ibn Umar memerintahkan seorang wanita yg wafat ibunya yg masih punya hutang shalat agar wanita itu membayar(meng qadha) shalatnya, dan dihikayatkan oleh Penulis kitab Al Hawiy, bahwa Atha bin Abi Ribah dan Ishaq bin Rahawayh bahwa mereka berdua mengatakan bolehnya shalat dikirim untuk mayyit,
telah berkata Syeikh Abu Sa’ad Abdullah bin Muhammad bin Hibatullah bin Abi Ishruun dari kalangan kita (berkata Imam nawawi dengan ucapan : “kalangan kita” maksudnya dari madzhab syafii) yg muta’akhir (dimasa Imam Nawawi) dalam kitabnya Al Intishar ilaa Ikhtiyar bahwa hal ini seperti ini. (sebagaimana pembahasan diatas), berkata Imam Abu Muhammad Al Baghawiy dari kalangan kita dalam kitabnya At Tahdzib : Tidak jauh bagi mereka untuk memberi satu Mudd untuk membayar satu shalat (shalat mayyit yg tertinggal) dan ini semua izinnya sempurna, dan dalil mereka adalah Qiyas atas Doa dan sedekah dan haji (sebagaimana riwayat hadist2 shahih) bahwa itu semua sampai dengan pendapat yg sepakat para ulama. (Syarh Nawawi Ala Shahih Muslim Juz 1 hal 90)

Maka jelaslah sudah bahwa Imam Nawawi menjelaskan dalam hal ini ada dua pendapat, dan yg lebih masyhur adalah yg mengatakan tak sampai, namun yg lebih shahih mengatakannya sampai,
tentunya kita mesti memilih yg lebih shahih, bukan yg lebih masyhur, Imam nawawi menjelaskan bahwa yg shahih adalah yg mengatakan sampai, walaupun yg masyhur mengatakan tak sampai, berarti yg masyhur itu dhoif, dan yg shahih adalah yg mengatakan sampai, dan Imam Nawawi menjelaskan pula bahwa sebagian besar ulama mengatakan semua amal apahal sampai.

Inilah liciknya orang orang wahabi, mereka bersiasat dengan “gunting tambal”, mereka menggunting gunting ucapan para imam lalu ditampilkan di web web, inilah bukti kelicikan mereka, Saya akan buktikan kelicikan mereka :

Lalu berkata pula Imam Nawawi :

أن الصدقة عن الميت تنفع الميت ويصله ثوابها وهو كذلك باجماع العلماء وكذا أجمعوا على وصول الدعاء وقضاء الدين بالنصوص الواردة في الجميع ويصح الحج عن الميت اذا كان حج الاسلام وكذا اذا وصى بحج التطوع على الأصح عندنا واختلف العلماء في الصوم اذا مات وعليه صوم فالراجح جوازه عنه للأحاديث الصحيحة فيه
والمشهور في مذهبنا أن قراءة القرآن لا يصله ثوابها وقال جماعة من أصحابنا يصله ثوابها وبه قال أحمد بن حنبل

“Sungguh sedekah untuk dikirimkan pada mayyit akan membawa manfaat bagi mayyit dan akan disampaikan padanya pahalanya, demikian ini pula menurut Ijma (sepakat) para ulama, demikian pula mereka telah sepakat atas sampainya doa doa, dan pembayaran hutang (untuk mayyit) dengan nash2 yg teriwayatkan masing masing, dan sah pula haji untuk mayyit bila haji muslim,
demikian pula bila ia berwasiat untuk dihajikan dengan haji yg sunnah, demikian pendapat yg lebih shahih dalam madzhab kita (Syafii), namun berbeda pendapat para ulama mengenai puasa, dan yg lebih benar adalah yg membolehkannya sebagaimana hadits hadits shahih yg menjelaskannya,
dan yg masyhur dikalangan madzhab kita bahwa bacaan Alqur’an tidak sampai pada mayyit pahalanya, namun telah berpendapat sebagian dari ulama madzhab kita bahwa sampai pahalanya, dan Imam Ahmad bin Hanbal berpegang pada yg membolehkannya” (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 7 hal 90)

Dan dijelaskan pula dalam Almughniy :

ولا بأس بالقراءة ثم القبر وقد روي عن أحمد أنه قال إذا دخلتم المقابر اقرؤوا آية الكرسي وثلاث مرار قل هو الله أحد الإخلاص ثم قال اللهم إن فضله لأهل المقابر وروي عنه أنه قال القراءة ثم القبر بدعة وروي ذلك عن هشيم قال أبو بكر نقل ذلك عن أحمد جماعة ثم رجع رجوعا أبان به عن نفسه فروى جماعة أن أحمد نهى ضريرا أن يقرأ ثم القبر وقال له إن القراءة ثم القبر بدعة فقال له محمد بن قدامة الجوهري يا أبا عبد الله ما تقول في مبشر فلهذا قال ثقة قال فأخبرني مبشر عن أبيه أنه أوصى إذا دفن يقرأ عنده بفاتحة البقرة وخاتمتها وقال سمعت ابن عمر يوصي بذلك قال أحمد بن حنبل فارجع فقل للرجل يقرأ

“Tidak ada larangannya membaca Alqur’an dikuburan , dan telah diriwayatkan dari Ahmad bahwa bila kalian masuk pekuburan bacalah ayat alkursiy, lalu Al Ikhlas 3X, lalu katakanlah : Wahai Allah, sungguh pahalanya untuk ahli kubur”.
Dan diriwayatkan pula bahwa bacaan Alqur’an di kuburan adalah Bid’ah, dan hal itu adalah ucapan Imam Ahmad bin hanbal, lalu muncul riwayat lain bahwa Imam Ahmad melarang keras hal itu, maka berkatalah padanya Muhammad bin Qudaamah : Wahai Abu Abdillah (nama panggilan Imam Ahmad), apa pendapatmu tentang Mubasyir (seorang perawi hadits), Imam Ahmad menjawab : Ia Tsiqah (kuat dan terpercaya riwayatnya), maka berkata Muhammad bin Qudaamah sungguh Mubasyir telah meriwayatkan padaku dari ayahnya bahwa bila wafat agar dibacakan awal surat Baqarah dan penutupnya, dan bahwa Ibn Umar berwasiat demikian pula!”, maka berkata Imam Ahmad :”katakana pada orang yg tadi kularang membaca ALqur’an dikuburan agar ia terus membacanya lagi..”.
(Al Mughniy Juz 2 hal : 225)

Dan dikatakan dalam Syarh AL Kanz :

وقال في شرح الكنز إن للإنسان أن يجعل ثواب عمله لغيره صلاة كان أو صوما أو حجا أو صدقة أو قراءة قرآن ذلك من جميع أنواع البر ويصل ذلك إلى الميت وينفعه ثم أهل السنة انتهى والمشهور من مذهب الشافعي وجماعة من أصحابه أنه لا يصل إلى الميت ثواب قراءة القرآن وذهب أحمد بن حنبل وجماعة من العلماء وجماعة من أصحاب الشافعي إلى أنه يصل كذا ذكره النووي في الأذكار وفي شرح المنهاج لابن النحوي لا يصل إلى الميت عندنا ثواب القراءة على المشهور والمختار الوصول إذا سأل الله إيصال ثواب قراءته وينبغي الجزم به لأنه دعاء فإذا جاز الدعاء للميت بما ليس للداعي فلأن يجوز بما هو له أولى ويبقى الأمر فيه موقوفا على استجابة الدعاء وهذا المعنى لا يختص بالقراءة بل يجري في سائر الأعمال والظاهر أن الدعاء متفق عليه أنه ينفع الميت والحي القريب والبعيد بوصية وغيرها وعلى ذلك أحاديث كثيرة

“sungguh boleh bagi seseorang untuk mengirim pahala amal kepada orang lain, shalat kah, atau puasa, atau haji, atau shadaqah, atau Bacaan Alqur’an, dan seluruh amal ibadah lainnya, dan itu boleh untuk mayyit dan itu sudah disepakati dalam Ahlussunnah waljamaah.
Namun hal yg terkenal bahwa Imam Syafii dan sebagian ulamanya mengatakan pahala pembacaan Alqur’an tidak sampai, namun Imam Ahmad bin hanbal, dan kelompok besar dari para ulama, dan kelompok besar dari ulama syafii mengatakannya pahalanya sampai, demikian dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al Adzkar,
dan dijelaskan dalam Syarh Al Minhaj oleh Ibn Annahwiy : “tidak sampai pahala bacaan Alqur’an dalam pendapat kami yg masyhur, dan maka sebaiknya adalah pasti sampai bila berdoa kepada Allah untuk memohon penyampaian pahalanya itu,
dan selayaknya ia meyakini hal itu karena merupakan doa, karena bila dibolehkan doa tuk mayyit, maka menyertakan semua amal itu dalam doa tuk dikirmkan merupakan hal yg lebih baik, dan ini boleh tuk seluruh amal,
dan doa itu sudah Muttafaq alaih (tak ada ikhtilaf) bahwa doa itu sampai dan bermanfaat pada mayyit bahkan pada yg hidup, keluarga dekat atau yg jauh, dengan wasiat atau tanpa wasiat, dan dalil ini dengan hadits yg sangat banyak” (Naylul Awthar lil Imam Assyaukaniy Juz 4 hal 142, Al majmu’ Syarh Muhadzab lil Imam Nawawiy Juz 15 hal 522).

Kesimpulannya bahwa hal ini merupakan ikhtilaf ulama, ada yg mengatakan pengiriman amal pada mayyit sampai secara keseluruhan, ada yg mengatakan bahwa pengiriman bacaan Alqur’an tidak sampai, namun kesemua itu bila dirangkul dalam doa kepada Allah untuk disampaikan maka tak ada ikhtilaf lagi.

Dan kita semua dalam tahlilan itu pastilah ada ucapan : Allahumma awshil, tsawabaa maa qaraa’naa minalqur’anilkarim… dst (Wahai Allah, sampaikanlah pahala apa apa yg kami baca, dari alqur’anulkarim…dst). Maka jelaslah sudah bahwa Imam Syafii dan seluruh Imam Ahlussunnah waljamaah tak ada yg mengingkarinya dan tak adapula yg mengatakannya tak sampai.

kita ahlussunnah waljamaah mempunyai sanad, bila saya bicara fatwa Imam Bukhari, saya mempunyai sanad guru kepada Imam Bukhari,

bila saya berbicara fatwa Imam Nawawi, saya mempunyai sanad guru kepada Imam Nawawi, bila saya berbicara fatwa Imam Syafii, maka saya mempunyai sanad Guru kepada Imam Syafii.

demikianlah kita ahlussunnah waljamaah, kita tak bersanad kepada buku, kita mempunyai sanad guru, boleh saja dibantu oleh Buku buku, namun acuan utama adalah pada guru yg mempunyai sanad.
kasihan mereka mereka yg keluar dari ahlussunnah waljamaah karena berimamkan buku,
agama mereka sebatas buku buku, iman mereka tergantung buku, dan akidah mereka adalah pada buku buku.

jauh berbeda dengan ahlussunnah waljamaah, kita tahu siapa Imam Nawawi, Imam Nawawi bertawassul pada nabi saw, Imam nawawi mengagungkan Rasul saw, beliau membuat shalawat yg dipenuhi salam pada nabi Muhammad saw,
ia memperbolehkan tabarruk dan ziarah kubur, demikianlah para ulama ahlussunnah waljamaah.

Sabda Rasulullah saw : “Sungguh sebesar besar kejahatan muslimin pada muslimin lainnya, adalah yg bertanya tentang hal yg tidak diharamkan atas muslimin, menjadi diharamkan atas mereka karena ia mempermasalahkannya” (shahih Muslim hadits no.2358)

(jawaban oleh habieb munzir almusyawa)

9. bagaimana hukum Membaca yasin atau surah tertentu ?

Membaca Alquran sama halnya dengan dzikir, ia sunnah dibaca kapan saja di mana saja dengan sedikit pembatasan, semisal haram bagi wanita haid/nifas atau orang sedang junub (hadats besar), makruh dibaca di tempat yang sering kotor seperti WC. Selebihnya tidak ada pembatasan waktu maupun tempat. Yasin adalah bagian dari Alquran yang tentunya hukum membacanya sama dengan membaca Alquran.
Kaitannya dengan bacaan yasin untuk jenazah, sunnahnya adalah saat ada seseorang menjelang skaratul maut, keluarga/handai taulan hendaknya membacakannya surah yasin bukan saat sudah meninggal, akan tetapi apabila surah yasin dibaca saat seseorang sudah meninggal itu juga tidak mengapa dan hukum sunnahnya mengikuti kesunnahan umum membaca Alquran meski tidak mendapatkan sunnah khusus bacaan saat orang sakaratul maut.
Kalau ada yang berkata membaca tahlil/yasin bid’ah karena tidak dilakukan Rasulullah maka pernyataan tersebut terhapuskan oleh perintah berdzikir/tilawah Quran yang bersifat umum. Artinya membaca Alquran (termasuk yasin) dan dzikir (termasuk tahlil) selamanya adalah sunnah, kapan saja dan dimana saja kecuali ada dalil qath’i tentang pelarangannya dari Quran atau hadits seperti larangan bagi wanita haid.
Adapun mengkhususkan yasin atau surat yang dibaca memang tidak dianjurkan dan makruh jika memang hanya surat tertentu itu saja yang dibaca tanpa pernah membaca surah lain dalam Alquran. Perlu digarisbawahi bahwa hukum makruh tersebut bukan dalam bacaan yasinnya namun pada tindakan “pengkhususannya”. Sedang bacaan yasinnya tetap sunnah sebagaimana hukum umum membaca Alquran. Karena itu pengkhususan yang biasa dilakukan di wilayah kita bukanlah hal terlarang, apalagi hal itu dilakukan dengan pertimbangan bahwa masyarakat yang belum mampu membaca surah lain sebaik yasin. Tentu tetap perlu mengembangkan pembelajaran kepada masyarakat namun hal tersebut bisa saja dilakukan dengan jalur lain semisal melalui kajian-2 tajwid dan qira’ah.

tambahan catatan kecil :

  • Tahlilan adalah bersama-sama melakukan do’a bagi orang yang sudah meninggal dunia yang dilakukan di rumah-rumah, musholla, surau atau majlis-majlis dengan harapan semoga diterima amalnya dan diampuni dosanya oleh Allah SWT. yang sebelumnya diucapkan beberapa kalimah thayyibah, tahmid, tasbih, tahlil dan ayat-ayat suci Al Qur’an
  • Tahlilan bukanlah bid’ah yg sesat, karena tahlil sebenarnya do’a yang bisa dilakukan oleh semua kalangan baik secara perindividu ataupun jama’ah, tetapi karena di Indonesia tahlilan terbiasa dilakukan secara berjama’ah, maka menjadi kebiasaan atau adat. Seperti dalam ushul fiqhnya “Al Adatu Muhkamatun” kebiasaan bisa dijadikan hukum.
  • Tahlilan juga merupakan wahana silaturrahmi yang bisa mengeratkan tali persaudaraan antara sesama ummat islam.
  • Tahlilan juga bisa menjadi pelipur hati bagi keluarga yang sedang terkena musibah.

sedikit saran bagi yang sering menyelisih tentang tahlilan

  1. selalu mengintropeksi diri, apakah sudah benar perbuatan kita sesuai dengan tuntutan Rosulullah ataukah belum sesuai, karena tidak dibenarkan kita selalu mencari-cari kesalahan orang lain atau golongan lain.
  2. telitilah, kajialah, belajarlah lagi dan lagi, sehingga kebenaran itu menyentuh hatimu, coba telitilah tahlilan secara adil dan menyeluruh, agar engkau menjadi paham
  3. Biasakanlah lisan kita untuk selalu berdzikir dengan kalimat Tahlil, Tahmid, Tasbih dan Takbir. karena lisan yang terbiasa digunakan untuk berdzikir dapat mencerminkan hati yang bersih. Dan dengan harapan ketika ruh terlepas dari jasad kita kata yang terakhir diucapkan adalah kalimat tahlil.
  4. yuk podo ngaji bareng-bareng, maring para kyai, para ulama untuk memantapkan iman dan aqidah kita,
  5. jangan merasa paling benar, sehingga sering menghujat dan menyalahkan yang lain. bahkan begitu gampangnya membid”ahkan, mencap kafir muslim lainnya, astaqfirullah,..
  6. “Jika amalan yang tidak ada dalil perintahnya disebut bid’ah, maka melarang suatau amalan tanpa menggunakan dalil larangan juga termasuk bid’ah”. Sebab, perintah dan larangan dalam islam telah jelas. Adapun amalan yang tidak ada perintah ataupun larangannya, maka amalan ini termasuk mahalul ijtihad (Tempat ijtihad).Untuk amalan yang seperti ini, boleh dikerjakan jika tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, Hadits dan ijma’. Maksudnya sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Zahro dalam kitab Ushul Fiqh : “Amalan tersebut tidak menghalalkan apa yg telah diharamkan atau mengharamkan apa yang telah dihalalkan.”Walhasil, untuk melarang suatu amalan yang tidak memiliki dalil perintahnya, kita harus memiliki dalil larangannya. Dalam kitab Ushul Fiqh terdapat kaidah: “Tidak ada dalil,bukan lah dalil untuk melarang.”
  7. islam itu cahaya, maka jadikanlah ia cahaya penerang untuk didunia dan akheratmu, dekatilah selalu para ulama

bagaimana kawan, masih ada yang membidahkah sesat tahlilan dan yasinan maupun maulidan… padahal banyak sekali manfaatnya…semoga Allah ilhamkan pemahaman yg dalam bagi yang masih dangkal pemahaman ilmunya…

mari kita terus mengkaji ilmu Allah untuk mengkuatkan iman dan akidah kita,

masih kurang jelas…silahkan download ini saja..

Download Ebook dalil tahlilan (PDF, 727.21 KB) :
Baru versi CHM :

semoga dapat membuka hati orang-orang yang seringnya keras hatinya….

tak ada satu dalil yg mengharamkan acara Tahlil, (acara berkumpulnya muslimin untuk mendoakan yg wafat) tidak di Al Quran, tidak pula di Hadits, tidak pula di Qaul Sahabat, tidak pula di kalam Imamulmadzahib, hanya mereka saja yg mengada ngada dari kesempitan pemahamannya.

( Kalam Alhabib munzir almusyawwa)

jangan hanya dalil tentang bid’ah saja yang diperdebatkan, sedangkan dirinya sendiri tidak paham apa maksud dari bid’ah

semoga bermanfaat,

untuk guru-guruku, ya Allah lapangkan kuburnya..karena ilmunya, ya Allah angkat derajat mereka karena kesholehanya dan ya Allah terima semua Amalnya…karena keiklasanya.. ya Allah tempatkan mereka pada syurgaMu karena tawaakkalnya,…

– KH.Masrukhan Shodiq

-KH.Munawir Irsyad

-Bpk. Muhammad Subadrin

-Bpk. Muhammad Rujikan

” Selamat jalan wahai guruku. Selamat menikmati kehidupan baru dalam taman surga. Air mata penuh cinta mengiringi senyumanmu menghadap Tuhanmu. Engkau rawat kami dengan teladan yg indah. Mohon maaf jika kami tdk tumbuh seindah yg engkau bayangkan….Canda tawamu akan selalu terkenang. Istirahatlah senyaman pengantin… Semoga Allah selalu menyayangimu.

biridhoillah wabisyafa’ati rosulillah saw lahumul fatikhah………!!!!!!

 

Ya Allah mudahkan kami memahami isi Al-Qur-an dan hadist yang telah engkau turunkan sebagai pegangan hidup kami, Ya Allah tetapkanlah iman kami, sebagaimana iman para nabi dan rasulmu,

Ya Allah, kami telah berusaha dan akan terus berusaha untuk meyakini kebenaran Al Quran, bimbing terus kami ya Allah agar keyakinan kami terhadap Al Quran tidak hanya sebatas ucapan, dan agar kami memiliki kemampuan untuk menterjemahkan keyakinan tersebut dalam bentuk perbuatan

Ya Allah, permudahkanlah usaha-usaha kami untuk kami jadikan Al Qur’an sebagai panduan dan rujukan dalam kehidupan kami. Bantulah kami supaya kami dapat melaksanakan wasilah-wasilah penting yang akan mengembalikan kami mendapatkan sebesar-besar manfaat dari isi-isi Al-Qur’an serta merubah hidup kami mengikut sistem dan kehendakMu.

Ya Allah, jadikanlah Al Quran peringatan bagi kami, ingatkan kami dengannya bila kami khilaf dan salah, serta bimbing kami agar mampu keluar dari berbagai kekhilafan dan kesalahan tersebut, sehingga kami selamat meniti di jalan-Mu.

Ya Allah bantulah umat Islam seluruh alam,ringankan penderitaan mereka, lapangkan hati mereka, dan muddahkalah urusan mereka semua,

Ya Allah satukanlah hati kami,dalam naungan ukhuwah islamiah yang mulia ini yang engkau ridhoi yang engkau berkahi, yg engkau restui,

Ya Allah jadikanlah anak kami , cucu kami, saudara kami soleh dan soleha, matikanlah kami dalam keadaan beriman kepada-Mu,kabulka ya Allah,

Ya Allah Ampunilah kami atas kesalahan kami baik yang sengaja ataupun yang tidak disengaja, baik yang terlihat maupun yang tidak kami ketahui,

Ya Allah Kami tidak pandai berdo’a ampunilah kami, apa yang nabi pinta itu yang kami pinta, apa yang nabi tolak itulah yang kami tolak,

Ya Allah yang Maha Suci, Engkau telah titipkan kepada kami kesucian, bantulah kami agar dapat memelihara kesucian itu dan kelak ketika kami kembali kehadirat-Mu tetap berada dalam kesucian. Anugerahkan pula kepada kami ya Allah kekuatan agar kami mampu mensyukuri nikmat-nikmat-Mu. Sehingga kami menjadi termasuk dari hamba-hamba-Mu yang pandai bersyukur.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang Engkau kehendaki untuk diberi petunjuk, yang dengan petunjuk-Mu itu kami akan terhindar dari neraka Jahannam.

ya Rabb, hanya kepadamulah kami meminta dan hanya kepadamulah kami berserah diri,

semoga Allah swt meluhurkan setiap nafas kita dg cahaya istiqamah, dan selalu dibimbing untuk mudah mencapai tangga tangga keluhuran istiqamah, dan wafat dalam keadaan istiqamah, dan berkumpul dihari kiamat bersama ahlul istiqamah

robbana atina fiddunya hasana wafil akhiroti hasanah wakina azabbannar.
Amin yarobbal alamin.

semoga bermanfaat.

parawali

Advertisements

109 thoughts on “Tahlilan, Maulidan, Yasinan Dianggap “Bid’ah” Kenapa, Alasanya, Dalilnya ?

  1. mau sekedar share sesama penuntut ilmu :

    ditempat ane ada beberapa kawan yang melakukan tahlilan kematian 7 hari, 14 hari dan sebagainya dengan terkadang berhutang ke sna dan kemari dan menyelipkan beberapa amplop dalam besek. Bukankah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menyuruh membantu orang yang terkena musibah (kematian).

    Mau tanya :
    1.Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian
    2.Setiap bid’ah adalah sesat

    kenapa point 1 tidak dibagi lagi seperti halnya bid’ah ,..kullu di sini kan berarti semuanya,seluruhnya, setiap hal? CMIIW

    Bid’ah itu yang ane fahami hanya dalam ibadah,..kalo TV, Komputer, Telepon, Mobil dll itu bukanlah ibadah tapi benda yang pastinya tidak ada saat zaman nabi Shalallau ‘Alaihi Wasallam.

    Membaca Yasin pun tidak masalah dan tidak dilarang oleh para ulama, yang masalah adalah “pengkhususan” membaca Yasin pada waktu2 tertentu semisal malam Jum’at.

    Sholawat kepada Nabi Shalallau ‘Alaihi Wasallam adalah sebuah anjuran dan keagungan, memuji para Sahabat Rhadyallahu ‘Anhum adalah sebuah keagungan pula,..memuji para ulama, dan imam 4 mazhab Rahimahullah Ta’ala adalah sebuah keagungan.

    Tapi kenapa kawanku ini di setiap penulisan Nabi,Sahabat, Para imam tidak mendo’akannya? bahkan Shalawat nabi pun ditulis (maaf) SAW, padahal hal kecil tersebut sangatlah mulia dan lebih jelas daripada membahas sesuatu yang masuk wilayah khilafiyah ulama yang mana masing2 memiliki pemahamannya/pegangannya sesuai ilmu Al Qur’an dan As Sunnah serta ijma para Sahabat Rhadiallahu ‘Anhum.

    Maaf saudaraku bukannya ane lancang,..tapi kita disibukkan dengan urusan khilafiyah yang mestinya dibahas terperinci oleh para ahli ilmu, dan debat yang baik antara para ahli ilmu pula,..kalo ane yg masih belajar ini sangatlah kurang dari segala2nya.

    Wassalam

    • mas ikhwan sekeluarga yang dirahmati Allah.
      saya jawab sebisa saya.. maaf lama tadi sudah saya jawab, malah mozilla firefoxnya tertutup sebelum tak kirim jwbnnya..

      1. ditempat ane ada beberapa kawan yang melakukan tahlilan kematian 7 hari, 14 hari dan sebagainya dengan terkadang berhutang ke sna dan kemari dan menyelipkan beberapa amplop dalam besek

      mungkin yang paling krusial dalam masalah tahlilan karena praktek yang ada di masyarakat memang kadang berlebihan dan sifatnya yang lahiriah lebih mudah diidentifikasi. Menyediakan makanan di rumah ahli mayit tidaklah dilarang sepanjang tidak membuat repot keluarga jenazah kan niat awalnya untuk shadaqa yang pahalanya untuk yg telah meneninggal. Apalagi sudah semestinya keluarga mayit tetap membutuhkan makan dan keluarga yang jauh juga perlu untuk dilayani. Di sinilah peran tetangga dan kerabat untuk membantu dalam berbagai kesibukan termasuk menyediakan makanan bagi keluarga mayit dan hidangan bagi para tetamu. Tentu sewajarnya hidangan buat para tamu tidaklah berlebihan mengingat kondisi sedang berkabung. Apa yang banyak dipraktekkan masyarakat dengan membuat makanan yang cenderung berlebihan bahkan seperti sedang ada acara resepsi jelas bukan sesuatu yang baik dan termasuk kebiasaan buruk yang seharusnya ditinggalkan. Disamping merepotkan keluarga mayit, kegiatan makan-makan selayaknya tidak sesuai dengan kondisi berkabung yang dialami keluarga yang memperoleh musibah.

      2. Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian
      “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan” [al-‘Ankabût/29:57]

      Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata: “Maksud ayat ini adalah setiap orang akan menemui ajalnya. Ini tidak bisa dipungkiri, baik bagi yang pergi berperang maupun yang tidak, dan tidak ada sesuatupun yang bisa menyelamatkan manusia dari kematian, karena sesungguhnya ajal sudah ditentukan”[6]

      Jadi, setiap yang bernyawa di muka bumi ini baik manusia, jin maupun hewan, akan mati dan tidak ada yang dijadikan hidup abadi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

      3. kalo TV, Komputer, Telepon, Mobil dll itu bukanlah ibadah tapi benda yang pastinya tidak ada saat zaman nabi Shalallau ‘Alaihi Wasallam.

      Bid‘ah (Bahasa Arab: بدعة) dalam agama Islam berarti sebuah perbuatan yang tidak pernah diperintahkan maupun dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW tetapi banyak dilakukan oleh masyarakat sekarang ini. Hukum dari bidaah ini adalah haram. Perbuatan dimaksud ialah perbuatan baru atau penambahan dalam hubungannya dengan peribadatan dalam arti sempit (ibadah mahdhah), yaitu ibadah yang tertentu syarat dan rukunnya.
      semua yang diatas masih relevan jika dikaitkan dengan hal-hal baru selama itu berupa urusan keduniawian murni misal dulu orang berpergian dengan unta sekarang dengan mobil, maka mobil ini adalah bid’ah namun bid’ah secara bahasa bukan definisi bid’ah secara istilah syariat dan contoh penggunaan sendok makan, mobil, mikrofon, pesawat terbang pada masa kini yang dulunya tidak ada inilah yang hakekatnya bid’ah hasanah. Dan contoh-contoh perkara ini tiada lain merupakan bagian dari perkara Ijtihadiyah…
      Jadi, berdasarkan definisi bid’ah secara istilah ini menunjukkan kepada kita semua bahwa perkara dunia (yang tidak tercampur dengan ibadah) tidaklah tergolong bid’ah walaupun perkara tersebut adalah perkara yang baru.

      Perhatikanlah perkataan Asy Syatibi,

      “Perkara non ibadah (‘adat) yang murni tidak ada unsur ibadah, maka dia bukanlah bid’ah.

      Namun jika perkara non ibadah tersebut dijadikan ibadah atau diposisikan sebagai ibadah, maka dia bisa termasuk dalam bid’ah” (Al I’tishom).

      Oleh karena itu, komputer, HP, pesawat, pabrik-pabrik kimia, berbagai macam kendaraan, dan teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini, itu semua adalah perkara yang dibolehkan dan tidak termasuk dalam bid’ah yang tercela.

      Kalau mau kita katakan bid’ah, itu hanyalah bid’ah secara bahasa yaitu perkara baru yang belum ada contoh sebelumnya.

      4. “pengkhususan” membaca Yasin pada waktu2 tertentu semisal malam Jum’at.

      ini sebenarnya ada kultural yang salah. namun tidak boleh disalahkan maksudnya.. apa yang dilakukan itu baik, tapi ada yang lebih baik karena ada dalil shohih yang menerangkannya..Membaca surat Yasin pada malam Jum’at menjadi tradisi yang melekat pada masyarakat Melayu, seperti Indonesia dan Malaysia. Selepas Maghrib, rumah-rumah, masjid, dan mushalla ramai dengan lantunan surat Yasin baik dengan sendiri-sendiri maupun berjamaah.

      “Ini tidak shahih. Dan disebutkan riwayat:

      مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ يس فِي لَيْلَةِ الْجُمعَةِ غُفِرَ لَهُ

      “Siapa yang membaca surat (Yasin) pada malam Jum’at diampuni dosanya.”
      ini adalah hadist yang dhoif (lemah) dan juga hadist yang hasan yaitu
      Abu Sa’id al-Khudri radliyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

      مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ

      “Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dia dan Baitul ‘atiq.” (Sunan Ad-Darimi, no. 3273. Juga diriwayatkan al-Nasai dan Al-Hakim serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, no. 736)

      namun terlepas dari itu semua, tidak serta merta kita mensalahkan yang membca yasin malam jumat, toh membaca quran itu baik, bagi yang sudah tahu silahkan amalkan hadist hasanya, bagi yang mau mengingatkan maka ingatkan mereka secara baik.. misal gini. jika saya di ijayahkan guru saya membaca surat tertentu setiap malam apakah saya tidak boleh melakukannya… kan itu juga dalm kontek waktu tertentu juga berulang2..

      5.Tapi kenapa kawanku ini di setiap penulisan Nabi,Sahabat, Para imam tidak mendo’akannya? bahkan Shalawat nabi pun ditulis (maaf) SAW,

      dalam konteks apa mas para imam tidak mendoakan nabi.. apakah mereka tidak pernah membaca sholawat?
      Selawat atau Shalawat (bahasa Arab: صلوات) adalah bentuk jamak dari kata salat yang berarti doa atau seruan kepada Allah. Membaca selawat untuk Nabi, memiliki maksud mendoakan atau memohonkan berkah kepada Allah swt untuk Nabi dengan ucapan, pernyataan serta pengharapan, semoga beliau (Nabi) sejahtera (beruntung, tak kurang suatu apapun, keadaannya tetap baik dan sehat).

      Salam berarti damai, sejahtera, aman sentosa dan selamat. Jadi saat seorang muslim membaca selawat untuk Nabi, dimaksudkan mendoakan beliau semoga tetap damai, sejahtera, aman sentosa dan selalu mendapatkan keselamatan.
      padahal saya tahu mereka hafal alquarn luar dalam
      AL-AHZAB : 56

      “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi (1). Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (2).”

      (1) Bersalawat artinya: kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan:Allahuma shalli ala Muhammad. (2) dengan mengucapkan perkataan seperti:Assalamu’alaika ayyuhan nabi artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu hai nabi.

      hadist pun jelas ada tuntunannya..
      Siti Aisyah ra. berkata : “Barangsiapa cinta kepada Allah Ta’ala, maka dia banyak menyebutnya dan buahnya ialah Allah akan mengingat dia, juga memberi rahmat dan ampunan kepadanya, serta memasukannya ke surga bersama para Nabi dan para wali. Dan Allah memberi kehormatan pula kepadanya dengan melihat keindahan-Nya. Dan barang siapa cinta kepada Nabi saw., maka hendaklah ia banyak membaca selawat untuk Nabi saw., dan buahnya ialah ia akan mendapat syafaat dan akan bersama beliau di surga.”

      Selanjutnya Nabi saw., bersabda : Barang siapa membaca selawat untukku karena memuliakanku, maka Allah Ta’ala menciptakan dari kalimat (selawat) itu satu malaikat yang mempunyai dua sayap, yang satu di timur dan satunya lagi di barat. Sedangkan kedua kakinya di bawah bumi sedangkan lehernya memanjang sampai ke Arasy. Allah Ta’ala berfirman kepadanya :”Bacalah selawat untuk hamba-Ku, sebagaimana dia telah membaca selawat untuk Nabi-Ku. Maka Malaikat pun membaca selawat untuknya sampai hari kiamat.”

      dalam konteks penyingkatan gelar SAW, maupun RA. sya tidak tahu siapa yang memulai itu, mungkin dengan maksud untuk mempermudah dalam penulisan ataupun ejaan dalam kaidah tata bahasa bahasa indonesia. namun semua orang tau saw adalah kepanjangan dari Shalallaahu ‘Alayhi Wasallam – gelar untuk Muhammad,, mungkin penulisan bahasa arab yang ditulis indonesia kwatir salah makhraj dan hurufnya… karena beda satu harakat saja berbeda maknanya…hal hal semacam ini tak perlu diperluas dan dipermasalahkan, karena masalah isyarat dan pemahaman saja.

      begitulah kira-kira penjelasan dari saya..
      maaf saya baru belajar..
      koreksi jika salah…

      • Sebagai seorang muslim beraliran NU, saya bangga dengan anda, anda mengangkat sebuah masalah yang bagi aliran2 baru dianggap bid’ah, oh ya maaf saya sendiri gak ngerti apa itu bid’ah, hehehehe, mas Temon yg saya hormati dan semoga selalu mendapat perlindungan dari Allah SWT, saya minta izin copas artikel anda ini boleh tidak?

  2. mau tanya juga soal Shalawat Nariyah yang menurut ane berhubungan dengan masalah penting, yaitu TAUHID :

    kutipannya sebagai berikut :
    Allahumma sholli sholaatan kaamilatan Wa sallim salaaman taaman ‘ala sayyidinaa Muhammadin Alladzi tanhallu bihil ‘uqadu, wa tanfariju bihil kurabu, wa tuqdhaa bihil hawaa’iju Wa tunaalu bihir raghaa’ibu wa husnul khawaatimi wa yustasqal ghomaamu bi wajhihil kariimi, wa ‘alaa aalihi, wa shahbihi ‘adada kulli ma’luumin laka

    Artinya:

    “Ya Allah, limpahkanlah pujian yang sempurna dan juga keselamatan sepenuhnya, Kepada pemimpin kami Muhammad, Yang dengan sebab beliau ikatan-ikatan (di dalam hati) menjadi terurai, Berkat beliau berbagai kesulitan menjadi lenyap, Berbagai kebutuhan menjadi terpenuhi, Dan dengan sebab pertolongan beliau pula segala harapan tercapai, Begitu pula akhir hidup yang baik didapatkan, Berbagai gundah gulana akan dimintakan pertolongan dan jalan keluar dengan perantara wajahnya yang mulia, Semoga keselamatan juga tercurah kepada keluarganya, dan semua sahabatnya sebanyak orang yang Engkau ketahui jumlahnya.”

    coba perhatikan kalimat ini :

    – ….Kepada pemimpin kami Muhammad, Yang dengan sebab beliau ikatan-ikatan (di dalam hati) menjadi terurai
    – Berkat beliau berbagai kesulitan menjadi lenyap
    – Berbagai kebutuhan menjadi terpenuhi
    – Dan dengan sebab pertolongan beliau pula segala harapan tercapai

    Bukankah semua hal atau 4 point tersebut hanyalah Allah Subhanahu Wata’ala saja yang bisa melakukannya bukan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam,..di sini masyarakat berlebihan terhadap Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

    Mohon koreksi kalau salah 😀

    • saudaraku mas ikhwan yg dimuliakan Allah,
      mengenai shalawat nariyah, tidak ada dari isinya yg bertentangan dg syariah, makna kalimat : yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta”, adalah kiasan, bahwa beliau saw pembawa Alqur’an, pembawa hidayah, pembawa risalah, yg dg itu semualah terurai segala ikatan dosa dan sihir, hilang segala kesedihan yaitu dengan sakinah, khusyu dan selamat dari siksa neraka, dipenuhi segala kebutuhan oleh Allah swt, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik yaitu husnul khatimah dan sorga,

      ini adalah kiasan saja dari sastra balaghah arab dari cinta, sebagaimana pujian Abbas bin Abdulmuttalib ra kepada Nabi saw dihadapan beliau saw : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417), tentunya bumi dan langit tidak bercahaya terang yg terlihat mata, namun kiasan tentang kebangkitan risalah.

      gini mas ikhwan, tu merupakan bentuk cinta kita yang sangat besar kepada nabi muhammad saw.

      Sebagaimana ucapan Abu Hurairah ra : “Wahai Rasulullah, bila kami dihadapanmu maka jiwa kami khusyu” (shahih Ibn Hibban hadits no.7387), “Wahai Rasulullah, bila kami melihat wajahmu maka jiwa kami khusyu” (Musnad Ahmad hadits no.8030)

      semua orang yg mengerti bahasa arab memahami ini, Cuma kalau mereka tak faham bahasa maka langsung memvonis musyrik, tentunya dari dangkalnya pemahaman atas tauhid,

      mengenai kalimat diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, adalah cermin dari bertawassul pada beliau saw para sahabat sebagaimana riwayat shahih Bukhari.
      dalam istilahnya itu adalah tawassul mas..

      Allah swt sudah memerintah kita melakukan tawassul, tawassul adalah mengambil perantara makhluk untuk doa kita pd Allah swt, Allah swt mengenalkan kita pada Iman dan Islam dengan perantara makhluk Nya, yaitu Nabi Muhammad saw sebagai perantara pertama kita kepada Allah swt, lalu perantara kedua adalah para sahabat, lalu perantara ketiga adalah para tabi’in, demikian berpuluh puluh perantara sampai pada guru kita, yg mengajarkan kita islam, shalat, puasa, zakat dll, barangkali perantara kita adalah ayah ibu kita, namun diatas mereka ada perantara, demikian bersambung hingga Nabi saw, sampailah kepada Allah swt. Allah swt berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah/patuhlah kepada Allah swt dan carilah perantara yang dapat mendekatkan kepada Allah SWT dan berjuanglah di jalan Allah swt, agar kamu mendapatkan keberuntungan” (QS.Al-Maidah-35).
      Dan boleh juga tawassul pada Nabi saw atau orang lainnya, sebagaimana yg diperbuat oleh Umar bin Khattab ra, bahwa Umar bin Khattab ra shalat istisqa lalu berdoa kepada Allah dg doa : “wahai Allah.., sungguh kami telah mengambil perantara (bertawassul) pada Mu dengan Nabi kami Muhammad saw agar kau turunkan hujan lalu kau turunkan hujan, maka kini kami mengambil perantara (bertawassul) pada Mu Dengan Paman Nabi Mu (Abbas bin Abdulmuttalib ra) yg melihat beliau sang Nabi saw maka turunkanlah hujan” maka hujanpun turun dg derasnya. (Shahih Bukhari hadits no.964 dan no.3507).

      Tawassul merupakan salah satu amalan yang sunnah dan tidak pernah diharamkan oleh Rasulullah saw, tak pula oleh ijma para Sahabat Radhiyallahu’anhum, tak pula oleh para tabi’in dan bahkan oleh para ulama serta imam-imam besar Muhadditsin, bahkan Allah memerintahkannya, Rasul saw mengajarkannya, sahabat radhiyallahu’anhum mengamalkannya.
      Mereka berdoa dengan perantara atau tanpa perantara, tak ada yang mempermasalahkannya apalagi menentangnya bahkan mengharamkannya atau bahkan memusyrikan orang yang mengamalkannya.

      begitulah kira-kira jwabannya.. maaf saya juga baru belajar.. pertanyaan mas langsung saya tanyakan pada guru saya…

      • sip,..makasih penjelasannya 😀
        tp masih belum puas,..maklum penuntut ilmugak boleh puas 😀

        kira2 perbedaan kalimat ini apa sahabatku :

        – Karena Cahayamu lah dunia bisa terang (menurut ane ini kiasan)
        – Karena Engkaulah dunia bisa terang (menurut ane ini berlebihan, karena menganggap diri (makhluk) yang melakukannya.

        mohon koreksi

        • ya mas itu adalah kiasan, Karena Cahayamu lah dunia bisa terang yang sya tanggkep disini terang karena seperti dalam teks shalawat “anta syamsu anta badrun
          engkau laksana matahari, engkau laksana bulan purnama
          anta nuurun fauqa nuuri
          engkau laksana sinar diatas sinar
          anta iksiiru wa gholii
          engkau laksana emas diantara diantara perak yang mahal

          nabi adalah penerang dari kegelapan keterang benderang yaitu dari zaman kebodohan jahiliyah menjadi jalan yang terang disisi Allah, Maha Suci Allah yang memberikan kita hidayah penerang kegelapan, mengaruniakan nikmat Iman dan Islam kepada kita yang merupakan sebaik-baik nikmat. Maha Suci Allah mengutus Muhammad Bin Abdullah sebagai imam para nabi, pahlawan yang perkasa, penguasa yang adil, guru yang lemah lembut, pelindung yang penyayang, qudwah hasanah untuk manusia.. makna kiasan yang sedetail-detailnya harus paham seluk beluk tata bahasa arab, saya belum sampai sejauh sana…

      • sebetulnya Islam itu mudah dan simple hanya terkadang kita saja termasuk ane yang barangkali kurang faham dan kurang teliti,.. jujur ane belajar dan ikut ta’lim secara merdeka alias gak berpatokan terhadap apa yang diajarkan guru kami,..tapi dibebaskan meneliti semua sumber yang ada dan yg telah dijelaskan oleh guru kami,.. tapi terkadang ane yang gak sanggup untuk meneliti beberapa isi kitab.. :D.

        • saya juga demikian mas, meskipun saya punya ribuan ebook kitab dan buku2, namun semua kadang saya kepentok dengan apa yang dijelaskan dalam kitab tersebut. kadang makna yang tersirat lebih dalam maknanya daripada makna yang tersurat. dan orang jika mengambil dalil hanya mengacu pada arti indonesia kadang tidak sesuai.. karena tafsiran bisa saja berbeda… untuk itulah guru saya berpesan. hati-hati itu lebih baik. berkata para ahli hadits: “Tiada ilmu tanpa sanad” makanya setiap segala sesuatu harus punya guru… guru punya guru punya guru hingga sampai pada rosullullah… inilah yang baik

          • yup betul..guru kita teliti dari mana mengambilnya,..dan guru di atasnya diteliti kembali dari mana mengambilnya sampai kepada para Tabiin Rahimahullah, lalu Sahabat Rhadiyallahu ‘Anhum,..baru sampai kepada Nabi yang Mulia muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

            menarik memang untuk bahan diskusi,.. 😀

          • seperti periwayatan hadist.. maka setiap hadist ada perowinya.. dan para ahli hadist meneliti perawi tersebut, sanad juga matanya.. baru kemudian bisa ditetap hadist shahih, dhoif dan sebangainya….

          • yup betul,..itu dia di zaman para 4 imam ulama pun banyak yang berbeda pendapat terutama dalam jalur periwayatannya dan juga sanad yang terputus. kadang dalam satu kitab sang ulama mendho’ifkan sebuah hadist tp dalam kurun waktu mendatang sang ulama menshahihkan hadist tersebut dan ruju’ terhadap yg shahih,..dikarenakan meneliti terus-menerus dan akhirnya mendapatkan titik terang periwayatan. kalo ane wah gak sanggup,..berat 😀

          • hanya orang-orang pilihan Allah lah yang bisa sampai derajat seperti itu mas,…karena tak ada satu daunpun yang jatuh tanpa seijin Allah…

          • yup betul,..nah tugas penuntut ilmu itu mesti independen dan selaras dengan Al Qur’an dan As Sunnah,.. kenapa ada yang mem-bid’ahkan (ibadah) dan ada yg tidak membid’ahkan?

            kalau semua berkata menurut Al Qur’an dan As Sunnah,..itulah yang mesti diteliti mana yang lebih mendekati kebenaran :D.

          • seperti apa yang dikatakan habib lutfi pekalongan
            Islam adalah agama yang universal. Ini dapat dibuktikan dengan keuniversalan Al-Qur’an. Orang yang mempelajari Al-Qur’an atas dasar keuniversalannya justru akan selalu melihat bahwa manusia perlu dimodernisasikan. Untuk itu paling tidak diperlukan dan dibekali ilmu yang cukup dalam mempelajari Al-Qur’an.
            Islam itu luwes. Sebab kejadian yang tidak terjadi di zaman Rasulullah bisa saja terjadi di zaman para sahabat. Demikian pula, kejadian yang tidak terjadi di zaman sahabat, bisa terjadi di zaman tabi’in yaitu orang-orang yang hidup pada generasi setelah para sahabat Nabi (saw), dan begitupun seterusnya.
            Mestinya para ulama itu dapat memberikan jawaban sesuai dengan generasinya karena adanya sebuah perkembangan zaman. Namun itu bukan berarti bahwa Al-Qur’an tidak bisa menjawab persoalan. Al-Qur’an siap menjawab persoalan sepanjang masa. Tapi siapakah yang sanggup memberi penjelasan jika tanpa dibekali ilmu Al-Qur’an yang cukup.

            lah inilah yang sulit mempelajari alquran dan hadist secara mendalam… namun dewasa ini banyak yang tak tahu kandungan kiasan quran dan hadist.. hafal ja tidak langsung membidahkan semena-mena, tanpa dikaji dan diteliti dimana kebenaranya… sungguh orang yang berilmu memiliki beberapa derajat kemulyaan…

          • nah itu dia,..hak untuk membid’ahkan sesuatu hal ibadah itu adalah hak para ulama yang memang kapasitasnya seperti itu meneliti, mengkaji, mengajarkan. Kalo orang semacam ane bilang ini bid’ah ini enggak itu salah karena bukan haknya mengeluarkan fatwa ilmiah.

          • nah kalo ada ulama yang berfatwa yang membid’ahkan atau tidak membid’ahkan itu tidak berdosa karena salah benarnya fatwa ulama yg berdasarkan ilmu itu tetap akan dapat pahala.

            nah kalau orang awam mengikuti kata hatinya sesuai dengan fatwa ulama masing2 (yang membid’ahkan/tidak) hal tersebut bukanlah sebuah kesalahan,..krn orang awam seperti ane ini bingung mana yang benar maka dibolehkan mengambil pendapat salah satunya sesuai keyakinannya. dan tetap berpahala karena mengikuti ulama yg walaupun salah/benar dpt pahala.

          • kelak orang2 akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya…
            jika kita cinta kepada nabi saw, maka kelak kita pasti akan dikumpulkan bersama nabi saw..
            tugas kita sebagai orang yang masih belajar. kita mengkaji mana yang memperbolehkan dan mana yang menselisihkan.. dicari semua referensinya dan di bahas secara berimbang, baru kemudian di ambil kesimpulannya. lebih banyak mana manfaatnya, siapa saja yang memperbolehkannya, siapa yang melarangnbya? apakah ini baik to tidak dan sebagainya, baru kita putuskan kita akan condong kemana..
            pesan guruku mas. jika hatimu menyakini sesuatu hal setelah engkau mengkajinya maka jalankan sungguh pasti km dalam kebenaran, namun jika engkau ragu, maka jangan sekali2 km jalankan, maka akan sia-sia.
            wallahu a’lam.. allah tahu apa yang ada didalam hati, dan Allah lah yang akan membalas niat baik yang telah kita lakukan..

          • sip ajiib,..Allah Subhanahuwata’ala seneng lihat semangat pemuda dan pemudi yg menuntut ilmu Agama Islam ini… Lanjutken mas temon 😀

    • ya.. saya ini baru belajar, masih bodo.. saya pasti mencari referensi diblog-blog para habaib, mencari di kitab-kitab, membaca buku-buku dan rujukan terakhir saya adalah bertanya pada guru maupun dosen. maklum masih belajar. mungkin saya tidak secerdas km mas…

  3. Simpel saja
    Nabi tidak melakukan,maka saya sebagai umatnya juga tidak melakukan.
    Saya juga ogah mengatakan yg suka tahlil sesat & masuk neraka.
    Terserah saja kalau mau tahlil,saya tidak akan melarang & mencaci.

    • dengan menghormati yang menjalankan itulah yang baik… saya takut karena maslah ini ukhuwah islamiah di intern islam terganggu.. itu yang saya khawatirkan… padahal jika islam terpecah maka siapa yang senang, pastinya orang-orang yang membeci islam, ya gak mas?

  4. terima ksih kawan, mau berdiskusi disini..
    kebenaran semata-mata hanya milik Allah.
    kawan sya menghargai pa yang kamu yakini, saya juga tahu km menyakini kebenarannya, begitu pula dengan saya, sya menyakini apa yang saya lakukan dan saya juga membenarkan apa yang saya lakukan, tentunya tidak serta merta menyakini tanpa dasar, karena semua itu dicontohkan guru-guru sya, sya tahu antum juga punya guru, guru kita punya guru, dan guru-guru terus punya guru hingga bersambung sanadnya pada Rasulullah saw. ini masalah khilafiah yang bukan bagian kita membuat fatwa, mengharamkan, membidahkan dan menyesatkan, karena kita tidak sampai pada derajat itu, namun kita bisa meneliti dan mengkaji apa yang telah para imam dan muhaddist fatwakan, tentunya para imam adalah orang yang paham jelas akan ilmu agama, bukan kita yang kadang membidahkan, menyesatkan seakan-akan hanya kita yang tahu bidah, ulama tidak, kawan, mari hargai bagi yang menjalankan maupun tidak, pahala itu hak Allah, dan semuanya pasti kembali pada Allah, jangan sampai masalah ini menjadi maslah besar yang bisa mengancam ukhuwah islamiah kita, sungguh itu sangat tidak baik, dan orang yang membenci islma pasti akan tertwa terbahak-bahak melihat jika itu terjadi. jalani apa yang kita yakini dengan sebaik-baiknya, hormati dengan cara yang baik pula, dan jika menasehati maka nasehatilah dengan cara yang ma’ruf, ingat sesama seorang muslim tidak boleh menyakiti hati muslim lainya. jaga itu baik-baik. mari jaga diri, mari perbaiki hati, mari mantapkan iman, mari tegakkan amar ma’ruf, mari perangi kebathilan, mari jaga persatuan insyaAllah ridho Allah kan selalu menemani…

  5. Assalamu’alaykum. Maaf saya ikutan ya, jika sy berlebihan tlg ingatin aja. Begini, memang sy termasuk yang meyakini acara maulid, tahlilan, dan sejenisnya adalah bid’ah. hal ini karena sy kaji dulu beragam pendapat yang bilang baik (sunnah) maupun yang bilang bid’ah dan ternyata alasan yg mengatakan bid’ah lebih kuat. trus yang jadi masalah sebenarnya yang sy ketahui di tempat sy justeru yang sering (maaf) mencaci maki adalah orang yang mengatakan bhw tahlilan baik (sunnah) padahal kita hanya tidak mau datang ketika diundang tahlilan (itupun kita sdh minta maaf lbh dulu dan senyum manis mengembang). Trus ceramah-ceramah yg bilang tahlilan bid’ah menurut sy halus dan sopan lho…gak percaya datangi aja.
    Nah katanya kita harus menghargai perbedaan pendapat (alhamdulillah) sy dan kawan-kawan sdh mempraktekkannya, tapi mengapa orang yang bilang tahlilan bid’ah malah tdk dihargai (malah dicela macam-macam).
    Apa coba ruginya jika kita tidak mempraktekkan maulid dan tahlilan dengan alasan bid’ah. Jika memang ada ruginya jika kita tidak melakukan tahlilan kan kita yang rugi bukan yang ikut tahlilan iya to.
    Jadi begini, yang meyakini tahlilan itu baik ya sudah itu adalah urusannya sendiri kita gak cela kok. Tapi mbok yao kita juga boleh meyakini dan menerangkan kalo tahlilan itu bid’ah jadi kita gak boleh dicela ya to. Semoga Alloh Ta’ala memberi hidayah kpd kita semua dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya.

    • waaliakumsalam wr.wb
      kawanku yang dirahmati Allah, untuk menambah apa yang kamu kaji. alangkah baiknya kamu membaca ini http://majelisrasulullah.org/media/meniti_kesempurnaan_iman.pdf downloadlah dulu.. itu merupakan penjelasan dari habib munzir almusyawwa mengenai penjelasan sanggahan atas masalah aqidah, kawan cobalah kamu kaji buku itu, gini kawan, sekali-kali alangkah baiknya kamu menghargai orang yang mengundang km itu, baik dalam acara hajatan dan sebagainya. untuk apa harus datang? saya bukan bermaksud menjerumuskanmu bukan? hanya bermaksud menghargai orang yang telah bersusah payah mengundang kamu, sungguh itu baik. meskipun engkau menolak dengan cara baik, namun pasti ada rasa kecewa pada orang yang telah datang bertamu kerumahmu dengan maksud mengundangmu, cobalah datang, jika kamu dengan maksud bukan tahlilan, coba datang dengan maksud baca alquran, dzikir kepada allah, bukankah itu baik, toh semua yang ada didalam tahlil bukan hal yang baru, semua ada dalam alquran maupun hadist cuma dirangkum dalam wadah yang disebut tahlil,. inilah hebatnya ulama serta para wali sanga,
      kawanku yang baik. Kerancuan yang terjadi akibat minimnya ilmu dan lemahnya pemahaman itu, semakin diperparah akhir-akhir ini, oleh maraknya fenomena kalangan yang mudah sekali dalam menjatuhkan hukum dan klaim bid’ah atas segala sesuatu, berdasarkan pandangan yang mensimplifikasikan (menyederhanakan) mafhum (pengertian) bid’ah dengan ungkapan global seperti misalnya: bahwa bid’ah adalah setiap hal yang tidak ada pada zaman Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam, atau tidak pernah dilakukan oleh beliau. Sehingga segala sesuatu yang baru, tidak ada pada masa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam, dan tidak pernah beliau lakukan, langsung dan serta merta dihukumi dan diklaim sebagai bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap yang sesat itu di Neraka! Padahal masalahnya sebenarnya tidak sesederhana itu. Karena sederhana saja misalnya, seandainya setiap yang baru dan tidak ada pada masa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam itu, serta merta dihukumi sebagai bid’ah yang sesat, tentunya tidak perlu ada ijtihad lagi, dan para ulama mujtahid-pun tidak dibutuhkan lagi!
      semoga Allah memberi rahmat pada dirimu dan keluargamu..
      salam ukhuwah…

  6. Sg org awam….
    kalo di daerah ane, tahlilan kelihatan cuman jadi tradisi tok, kadang pas tahlil jg pada tidur wlpun smbil duduk, kadang pak kaum juga gak jelas, orang kristen yg mninggal aja juga ditahlilkan (katanya “nglegani” keluarga n tatangga) apa ini boleh? pak kyainya aja jg diem aja….
    kadang kluarga habis itu punya hutang (biaya tahlil gak kecil, hrus beri snack n makan 200-300org slma 3 malam), kadang jg jor2an buat makan tamu2
    belum lg nanti pas 7hr, 40hr, 100hr, dst juga hutang lagi, kadang antar sodra jd masalah krn perselisihan buat mbiayai smua itu….

    kalo org mampu sih mgkin gak masalah, kalo tdk mampu gmn donk mas…?

    • ada pemahaman yang salah dalam masyarakat yang harus diluruskan…

      Pada hakikatnya majelis tahlil atau tahlilan adalah hanya nama atau sebutan untuk sebuah acara di dalam berdzikir dan berdoa atau bermunajat bersama. Yaitu berkumpulnya sejumlah orang untuk berdoa atau bermunajat kepada Allah SWT dengan cara membaca kalimat-kalimat thayyibah seperti tahmid, takbir, tahlil, tasbih, Asma’ul husna, shalawat dan lain-lain.
      Maka sangat jelas bahwa majelis tahlil sama dengan majelis dzikir, hanya istilah atau namanya saja yang berbeda namun hakikatnya sama. (Tahlil artinya adalah lafadh Laa ilaaha illallah) Lalu bagaimana hukumnya mengadakan acara tahlilan atau dzikir dan berdoa bersama yang berkaitan dengan acara kematian untuk mendoakan dan memberikan hadiah pahala kepada orang yang telah meninggal dunia ? Dan apakah hal itu bermanfaat atau tersampaikan bagi si mayyit ?

      Menghadiahkan Fatihah, atau Yaasiin, atau dzikir, Tahlil, atau shadaqah, atau Qadha puasanya dan lain lain, itu semua sampai kepada Mayyit, dengan Nash yg Jelas dalam Shahih Muslim hadits no.1149, bahwa “seorang wanita bersedekah untuk Ibunya yg telah wafat dan diperbolehkan oleh Rasul saw”, dan adapula riwayat Shahihain Bukhari dan Muslim bahwa “seorang sahabat menghajikan untuk Ibunya yg telah wafat”, dan Rasulullah SAW pun menghadiahkan Sembelihan Beliau SAW saat Idul Adha untuk dirinya dan untuk ummatnya, “Wahai Allah terimalah sembelihan ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari Ummat Muhammad” (Shahih Muslim hadits no.1967).

      • ya harusnya dari para kyai tu ada penyegaran kembali ilmu2 di masyrkt, coz sy kira banyak hal sudah melenceng dr syari’at. daerah sy bnyk kyai Nu tp kok pada diam sj ya klo ada budaya tahlilan yg berlebihan, parahnya sampai ketika mayyit laki2 dimandikan, wanita2 kampung pd melihat (kasihan si mayyit) , tp kyainya jg gak melarang…. wah padahal daerah ane magelang NU-nya kuat bgt,
        gmna mas…?

  7. wah, klo saya alasan datang ya lebih nyaman ngaji rame2, klo food beverage ya ndak usah ngoyo, agama ageming aji – aja lah. soalnya klo ngomongin yang ini jadi suka kapling2an, mending ndengerin sholawatan nya gus Dur di youtube…………………..peace yah

  8. mbok yow do ngaji sing luwih kathah, sing sae…sing sak bener-benere ampun nganti keblinger,,,, ampun nganti salah dalan……ya Allah ilhamkanlah ilmu yang terbaik bagi kami, dan tunjukkanlah kami pada jalan lurusmu, semoga hidayah Allah sampai menyentuh hatimu.. ngaji malehh…ngaji malehh, ampun dadi tyang sing sombong…..

    matursuwun..

  9. KITA MESTI MENGHORMATI SESAMA MUSLIM, SAMA YG KAFIR AJA KITA DISURUH SALING MENGHORMATI. NIAT SUCI KARENA ALLAH…

  10. saya sudah males berdiskusi mengenai masalah ini,tidak ada faedahnya… saya tidak akan membalas apapun, jika kamu mau menjalankan yow monggo” alhamdulillah, jika tidak ya sudah tidak apa-apa, beres kan,jangan diperdebatkan lagi… tidak ada yang merasa paling benar dan pintar bahkan malah merendahkan yang lain, masuk syurga to neraka itu hak Allah, jngn merasa engkau yg benar sendiri, terus kelak masuk syurga…
    lho, saya mendoakan ahli kubur saya agar bisa diringankan siksanya, jika ada yang bilang bahwa doa saya tidak sampai ya sudah, “bagaimana kalau ORANG LAIN doakan ahli kubur anda disiksa malaikat, masuk neraka, dsbenya, tentunya anda tidak terima kan, kan katanya doa tidak sampai PADA ORANG MATI, maka jangan dipermasalahkan ya to, tapi demi Allah saya tidak akan melakukan demikian,
    mau berdebat disini aja https://www.facebook.com/groups/1OMWDI/

    maklum saya ini orang bodoh yang tak kunjung pandai dijalan yg semoga diridhoinya, tidak seperti anda yang pintar segalanya..

    terima kasih,
    semoga Allah merahmati kita semua….

    • nitip sedikit sekedar keluarin uneg uneg. daripada baca novel ya lebih baik baca zarzanji… kan pasti kita sholawatan karena baca itu… ya gaaaak……..

    • Assalamu’alaikum
      Saya lihat jawaban-jawaban mas temon selalu diimbuhi kata-kata yang mencap bahwa yang memberi komenta itu belum belajar, seolah-olah hanya mas temon saja yang sudah belajar, kalau begitu sama saja anda tidak menghormati apa yang telah dipelajari orang lain. anda bilang agar yang tidak suka tahlilan agar menghormati org yang suka tahlilan, dilain sisi jawaban-jawaban anda selalu menghakimi bahwa yang lain itu tidak tahu apa-apa, saya yang lebih tahu makanya kamu harus belajar belajar.. ngaji maleh ngaji maleh.. maaf mas, jika mau diskusi, diskusilah yang baik, jangan diimbuhi dengan statement merendahkan orang lain karena takut nanti jatuh kedalam konteks (maaf) “kesombongan”. wallahua’lam

      • waalaikumsalam. wr. wb
        terima kasih atas koreksinya. sebenarnya bukan mencap dan astagfirullah tidak ada pikiran seperti itu. kata “ngaji malehh…ngaji malehh, ampun dadi tyang sing sombong…..” itu sebenarnya saya tujukan terutama untuk diri saya sendiri, agar saya itu selalu ngaji dan ajakan untuk para yang berkomentar supaya ngaji lagi..bukankah saling nasehat menasehati itu tuntunan dalam islam ? agar menjadi pribadi yang lebih baik? bener gak kawan ?
        saya menghargai yang berbeda, tp cukuplah smpai disini. diskusi ini tak akan habis-nya..tapi apa saya berhenti diskusi…puluhan komnetar menyambangi, saya hapus, muncul lagi. saya hapus muncul lagi, dan terus2an. hingga mau gak mau saya balas komentarnya sekedar menghormati yang sudah meluangkan waktunya singgah disini.
        tpi akhir-akhir ni saya tidak peduli, komentar apapun saya langsung hapus.. jadi seandenya ngajak diskusi masalah ini. maaf ketempat lain saja, pemaparan kajian dan komentar sejauh ini sudah dirasa cukup. masih banyak hal yang banyak membutuhkan perhatian, daripada berkutat masalah ini yang tak ada habis..
        begitulah kira-kiranya..wallahu a’lam..

        semoga Allah selalu menuntun kita menuju jalan lurusnya..
        wassalamualaikum wr. wb.

  11. Mas temon nggak usah di urusi perdebatannya…mereka nggak lebih pintar kok dr habaib…

  12. mas temon…… inilah ujian yang di berikan Alloh….semakin derajat imannya bertambah semakin banyak ujian yang diberikan…..itulah cara Alloh mengajari hambanya dalam meraih kesabaran yang lebih tinggi hingga Alloh menyukaiNya…..dan kemudian mencintaiNya, seperti yang pernah dilakukan Alloh kepada Rosul RosulNya dan hambah hambah yang di cintaiNya pada zaman terdahulu……….

  13. KH. Mustafa Bisri : “Aku Harus Bagaimana ?”

    aku pergi tahlil, kau bilang itu amalan jahil
    aku baca shalawat burdah, kau bilang itu
    bid’ah
    lalu aku harus bagaimana…?

    aku bertawasul dengan baik, kau bilang aku
    musrik
    aku ikut majlis zikir, kau bilang aku kafir
    lalu aku harus bagaimana…?

    aku shalat pakai lafadz niat, kau bilang aku
    sesat
    aku mengadakan maulid, kau bilang tak ada
    dalil yang valid
    lalu aku harus bagaimana…?

    aku gemar berziarah, kau bilang aku alap-
    alap berkah
    aku mengadakan selametan, kau bilang aku
    pemuja setan
    lalu aku harus bagaimana…?

    aku pergi yasinan, kau bilang itu tak
    membawa kebaikan
    aku ikuti tasawuf sufi, malah kau suruh aku
    menjauhi

    ya sudahlah… aku ikut kalian…
    kan ku pakai celana cingkrang, agar kau
    senang
    kan kupanjangkan jenggot, agar dikira
    berbobot

    kan ku hitamkan jidat, agar dikira ahli ijtihad
    aku kan sering menghujat, biar dikira hebat,
    aku kan sering mencela, biar dikira mulia,

    ya sudahlah… aku pasrah pada Tuhan yang
    ku sembah,

  14. Aku seorang wahabi …
    Ciriku tanda hitam di dahi …
    Aku ibadah dimalam sunyi …
    Celanaku cingkrang seperti tukang sapi …
    Kupelihara jenggot ikut sunah nabi …
    Aku tak tahu imam Syafi’i …
    Aku tak tahu imam Maliki …
    Aku tak kenal imam Hanafi …
    Apalagi imam Hambali …

    Aku tafsir Qur’an & Hadits sesuka hati …
    Karena aku tak pernah ngaji …
    Aku tak mau ikut mahzab islami …
    Pokoknya aku bikin mahzab sendiri …
    Aku bisa mengambil hukum sendiri …
    Dengan modal buku dari Saudi …
    Akulah mujtahid abad ini …
    Imam syafi’i dan Imam Bukhari ingin aku saingi …
    Jika pendapat mereka tidak sesuai, bisa aku evaluasi …
    Akulah standar kebenaran hukum islami …

    Aku sering beralasan dengan tindakan nabi …
    Tapi aku tak mau memuliakan turunan nabi …
    Aku sering berkata ikut nabi …
    Tapi kuremehkan sahabat nabi …
    Aku pun tak mau ikut maulid nabi …
    Bahkan tak mau kuziarahi kubur nabi …
    Ya Allah … Bagaimanakah nasibku nanti … ?
    ya Allah terimalah tobatku yg hina ini…

  15. Ya, saya rasa sudah benar penjelasannya, dan yang lebih penting lagi kuncinya ada dalam lubuk hati, apapun itu yang akan dilakukan tergantung dari apa yang ada dalam hati. Suatu ibadah baikpun kalau lain dalam hatinya bukan saja tak bermanfaat, melainkan bisa mendatangkan dosa…

  16. dikit dikit bid’ah… hmmm…. yang suka ngatain bid’ah, jangan suka baca buku terjemahan saja, silahkan belajar memaknai kitab gundul dipesantren.

  17. membaca tahlil itu Sunaah ,., Tahlillan bid’ah ,., Baca yasin itu sunnah sebagai mana membaca surat Al Qur’an lainnya ,… neg yasinan itu Bid’ah ,.,
    1. karena tidak di ajarkan oleh Rosul
    2. ada pengiriman pahala pada si mayit,
    neg mendo’akan ya tidak apa2 tapi pengiriman pahala, ???? kok enak banget, ,.. ,.. ,… ,… *orang bodoh ikut nimbrung*

    • hmmm ayo do ngaji malih,,,,,ngaji malih,,, jangan turuti hawa nafsu….

      saudaraku yg kumuliakan,
      Pada hakikatnya majelis tahlil atau tahlilan adalah hanya nama atau sebutan untuk sebuah acara di dalam berdzikir dan berdoa atau bermunajat bersama. Yaitu berkumpulnya sejumlah orang untuk berdoa atau bermunajat kepada Allah SWT dengan cara membaca kalimat-kalimat thayyibah seperti tahmid, takbir, tahlil, tasbih, Asma’ul husna, shalawat dan lain-lain.
      Maka sangat jelas bahwa majelis tahlil sama dengan majelis dzikir, hanya istilah atau namanya saja yang berbeda namun hakikatnya sama.

      Menghadiahkan Fatihah, atau Yaasiin, atau dzikir, Tahlil, atau shadaqah, atau Qadha puasanya dan lain lain, itu semua sampai kepada Mayyit, dengan Nash yg Jelas dalam Shahih Muslim hadits no.1149, bahwa “seorang wanita bersedekah untuk Ibunya yg telah wafat dan diperbolehkan oleh Rasul saw”, dan adapula riwayat Shahihain Bukhari dan Muslim bahwa “seorang sahabat menghajikan untuk Ibunya yg telah wafat”, dan Rasulullah SAW pun menghadiahkan Sembelihan Beliau SAW saat Idul Adha untuk dirinya dan untuk ummatnya, “Wahai Allah terimalah sembelihan ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari Ummat Muhammad” (Shahih Muslim hadits no.1967).

      semoga jelas dan bermnafaat…
      belajar lagi.. belajar lagi, saya juga masih terus belajar kok… hayooo sama-sama belajar bareng..

      • “seorang sahabat menghajikan untuk Ibunya yg telah wafat” begitu jg dgn bunyi teks hadist yg lain yg semisal, selalu yg ada hubungan darahnya, yg jd pertanyaan sy adalah apakah sampai kalo tidak ada hub. darah….tolong ya mas…dijawab jgn dicuekin.

        • saudaraku yg kumuliakan,
          Allah mengajari kita mendoakan pada semua orang yg beriman yg telah wafat, sebagaimana firman Nya swt : “Wahai Tuhan kami ampunilah dosa kami dan atas saudara2 kami yg telah mendahului kami dalam beriman, dan jangan Kau jadikan pada hati kami kebencian kepada orang2 yg beriman, tuhan kami sungguh engkau maha lembut dan berkasih sayang” (Al hasyr -10).

          Menghadiahkan Fatihah, atau Yaasiin, atau dzikir, Tahlil, atau shadaqah, atau Qadha puasanya maupun meng haji-kan dan lain lain, itu semua sampai kepada Mayyit, dengan Nash yg Jelas dalam Shahih Muslim hadits no.1149, bahwa “seorang wanita bersedekah untuk Ibunya yg telah wafat dan diperbolehkan oleh Rasul saw”, dan adapula riwayat Shahihain Bukhari dan Muslim bahwa “seorang sahabat menghajikan untuk Ibunya yg telah wafat”, dan Rasulullah SAW pun menghadiahkan Sembelihan Beliau SAW saat Idul Adha untuk dirinya dan untuk ummatnya, “Wahai Allah terimalah sembelihan ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari Ummat Muhammad” (Shahih Muslim hadits no.1967).

          dan hal ini (pengiriman amal untuk mayyit itu sampai kepada mayyit) merupakan Jumhur (kesepakatan) Ulama seluruh madzhab dan tak ada yg memungkirinya apalagi mengharamkannya, dan perselisihan pendapat hanya terdapat pada madzhab Imam Syafi’i, bila si pembaca tak mengucapkan lafadz : “Kuhadiahkan”, atau wahai Allah kuhadiahkan sedekah ini, atau dzikir ini, atau ayat ini..”, bila hal ini tidak disebutkan maka sebagian Ulama Syafi’iy mengatakan pahalanya tak sampai.

          Jadi tak satupun ulama ikhtilaf dalam sampai atau tidaknya pengiriman amal untuk mayiit, tapi berikhtilaf adalah pd Lafadznya. Demikian pula Ibn Taimiyyah yg menyebutkan 21 hujjah (dua puluh satu dalil) tentang Intifa’ min ‘amalilghair (mendapat manfaat dari amal selainnya). Mengenai ayat : “DAN TIADALAH BAGI SESEORANG KECUALI APA YG DIPERBUATNYA, maka Ibn Abbas ra menyatakan bahwa ayat ini telah mansukh dg ayat “DAN ORAN ORANG YG BERIMAN YG DIIKUTI KETURUNAN MEREKA DENGAN KEIMANAN”,

          Kita bisa melihat bagaimana para Huffadh (Huffadh adalah jamak dari Alhafidh, yaitu yg telah hafal 100.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya). dan para Imam imam mengirim hadiah pd Rasul saw :
          • Berkata Imam Alhafidh Al Muhaddits Ali bin Almuwaffiq rahimahullah : “aku 60 kali melaksanakan haji dengan berjalan kaki, dan kuhadiahkan pahala dari itu 30 haji untuk Rasulullah saw”.

          • Berkata Al Imam Alhafidh Al Muhaddits Abul Abbas Muhammad bin Ishaq Atssaqafiy Assiraaj : “aku mengikuti Ali bin Almuwaffiq, aku lakukan 7X haji yg pahalanya untuk Rasulullah saw dan aku menyembelih Qurban 12.000 ekor untuk Rasulullah saw, dan aku khatamkan 12.000 kali khatam Alqur’an untuk Rasulullah saw, dan kujadikan seluruh amalku untuk Rasulullah saw,
          ia adalah murid dari Imam Bukhari rahimahullah, dan ia memiliki 70 ribu masalah yg dijawab oleh Imam Malik, beliau lahir pada 218 H dan wafat pada 313H

          • Berkata Al Imam Al Hafidh Abu Ishaq Almuzakkiy, aku mengikuti Abul Abbas dan aku haji pula 7X untuk rasulullah saw, dan aku mengkhatamkan Alqur’an 700 kali khatam untuk Rasulullah saw. (Tarikh Baghdad Juz 12 hal 111).

          hanya wahabi saja yg menolak ini karena kebodohannya dalam syariah, dan yg lebih bodoh lagi adalah yg mengikutinya.

          wallahu a’lam

  18. Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Perlu di ingat bahwa sumber hukum syariat Islam adalah Al Qur’an dan Hadits (Sahih).SEmoga Bermamfaat.Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    • Ijithad para ulama dan qiyas,,,, jngn dilupakan…..berkat para ulama lah,ilmu yang diturunkan Allah melalui nabi muhammad saw bisa sampai ke kita sekarang meski beribu tahun jarak lamanya…
      ;tiada ilmu tanpa sanad…

      wallahua a’lam…

      • bismillahirrohmannirrohiimm,,,,assalamualaikum.wr.wb.”
        maaf mas temon,,sepengetahuan saya,,,kalo baca yasin di setiap malam jumat itu,emang tidak di larang yg saya khawatirkan pengkhususan nya knp
        di malam jumat saja,dan knp yg di baca hanya surat yasin,,pdahal setahu saya
        surat yg harus di baca di malam jumat itu al kahfi yg saya dapati ksohihan hadits nya,,”

        dan kalau mnurut saya jika kita tdk mengetahui yg mana yg bidah dan mana yg sunnah,,alangkah baik nya kita mengambil jalan tengah nya,,?
        yaitu meninggalkan nya,,karna ini bagian dari ijtihad para ulama ahlusunnah wal jmaah..”dan alangkah buruk nya jika kita saling memperdebatkan suatu masalah yg masih dalam ruang lingkup islamiyyah,,karna kita sadar bahwa ahlussunnah itu memntingkan kesatuan umat bukan ego dan juga
        ketenaran para tokoh sandaran,,,”

        kebenaran milik allah dan rosul nya jika dalam perkataan saya ada yg salah mohon di benarkan,,karna saya juga masih belajar dan awam..?
        mohon bimbingan nya,,?

        wassalamualaikum.wr.wb

        • Waalaikumsalam. Wr wb

          Jika sampeyan tahu dalil shohihnya, ya silahkan lakukan yang shahih, namun jngn sampai melarang orang yasinan, ini kan cuma faedah umum dan khusus, yg khusus membaca sesuai dalil, yg umum membaca quran itu sunnah kapanpun waktunya.. dikhususkan itu gpp.. jika kalian menganggp bidah, ya bidah tentunya bidah khasanah yang diperbolehkan, namun jika sudah tahu dalilnya tp tidak menjalankan yg sesuai dalil malah melarang yg yasinan, justru itu yg salah.. Segala sesuatu kan harus ditinjau dari semua segi, apalagi membaca quran itu sunnah, ini faedah umum, jika orang yg sibuk bekerja tiap hari, punya waktu pas malam jumat ingin kirim doa kepada ahli kuburnya, kemudian bisanya dia cuma yasin, familiar dengan yasin tidak surat kahfi, ya jngn sampai sok pinter dalil..kemudian babibu, melarang pembaca yasin dimalam jumat, harus ditinjau dulu,jangan kaku, kebiasaan itu bisa jadi dalil..

          maka bisa kita kedepan kan hadits hadits lain yg mendukung perbuatan ini, yaitu sabda Rasulullah saw : Bila kalian mendatangi yg sakit atau yg wafat, maka ucapkanlah hal yg baik baik, karena malaikat mengaminkan apa apa yg kalian katakan (Shahih Muslim)

          hadits shahihnya bahwa Rasul saw bersabda : Bacakanlah pada yg wafat pada kalian surat Yaasiin (HR Abu Dawud), walaupun sebagian mengatakan hadits ini dhoif, namun berkata Imam Nawawi bahwa Imam Abu Dawud tidak mendhoifkannya.

          maka tentunya tak ada kalimat lebih baik dari Alqur’an,

          tak ada larangan dalam mengkhususkan bacaan Alqur,an disuatu malam atau dimalam jumat, larangan adalah pada ibadah shalat dan puasa di hari jumat, dan hal itu ,makruh, bukan haram, demikian dalam Madzhab syafii, karena Imam Malik dalam madzhabnya justru memperbolehkan puasa di hari jumat, dan ia berkata : kulihat para sahabat melakukannya dan mengkhususkannya di hari jumat

          diriwayatkan oleh Atsa’labiy, dari Abu Hurairah ra bahwa Rasul saw bersabda : Barangsiapa yg membaca surat Yasin di malam jumat maka ia dipaginya sudah diampuni ALLAH” (Tafsir AL Hafidh Al Imam Qurtubiy) dan kita memahami bahwa Ima Qurtubi adalah Imam Besar yg Tsigah fatwanya, dan dijadikan rujukan oleh Imam Ibn Hajar Al Asqal;aniy dan banyak hujjatul islam lainnya.

          sunnah itu dijalankan mendapat pahala jika tidak ya gpp..membaca quran itu sunnah, tetap donk ia mendapt pahala, yang saya tekankan pada pembahasan bid’ah disini adalah pemahaman orang-orang wahabi yang menafsirkan bid’ah dengan kakunya, padahal ulama membagi bidah ada 2, baik dan buruk, namun karena ketidakpahaman orang2 wahabi, menganggap semua bidah itu buruk, tertolak, sesat dan prilakunya masuk neraka, padahal sejatinya mereka sendiri yg melakukan bid’ah terbesar namun tidak pernah sadar. “(Tidak Bermadzhab adalah Sebesar-besar Bid’ah yang Mengancam Syari’ah Islamiyah)”, So islam itu mudah kawan, jngn mempersulitnya, segala sesuatu harus ditinjau dulu, penafsiran jangan kaku, jika kamu ragu jngn dijalankan, tp jika sudah tahu dalilnya, maka jalankan sesuai dalilnya..jngn malah tidak menjalankan, kemudian melarang yang membaca quran, sederhanakan hatimu, engkau kan tahu betapa indahnya islam…

          Dijalankan bagus, tidak gpp.. Tidak ada yg melarang, tp jngn sampai mencoba melarang yang yasinan.

          Semoga bermanfaat.

  19. ISLAM itu lahir karena memberantas kejahiliyahan..terang benderang dan sempurna. Jgn dibikin gelap atau remang2 lg.

    • yang bikin gelap itu diri sendiri yang tidak mau belajar, yang merasa paling benar, yang merasa hebat…
      tapi ilmu-ilmu yang berkaitan untuk mendalami alquran dan hadist, tidak pernah dipelajari…tp sok paham alquran hadist…
      astaqfirullah..

      hayoo ngaji lagi, ngaji lagi…..ngaji maleh…ngaji malehh…

  20. saya bkn ahli agama, keluarga besar sy adalah penganut NU yg sangat2 fanatik. tp sy trmsk yg “KURANG SREG” dgn cara walisongo berdakwah terutama soal TAHLILAN. tdk terbayangkan jika waktu jaman Nabi Muhammad SAW beliau berdakwah dg “meleburkan” tradisi kaum musyrikin dgn ajaran Islam. kl hanya mengejar “kuota” manusia yg mau memeluk Islam lantas mencampur-adukan antara yg benar dan yg salah, mungkin Nabi Muhammad SAW tdk perlu mendapatkan penolakan, cacian, hinaan, upaya pembunuhan, dan lain sebagainya. menurut saya TRADISI bukan AGAMA, jd jgn meng-agamakan TRADISI. cobalah baca buku SANTRI NU MENGGUGAT TAHLILAN.

    • semoga kemuliaan tercurah untukmu…

      sahabatku, saya juga bukan ahli agama, saya cuma seorang yg terus belajr tentang agama…sahabatku yg baik jngn pernah mengatakan tidak baik pada dakwah yang para walisongo lakukan, sungguhnya sombongnya kita,.. kita yang pemahaman ilmunya dibawah mereka tapi dg seenaknya mengatakan mereka salah, tidak sregg dan sebagainya… islam pertama kali muncul di pulau jawa tepatnya di kota demak jawa tengah, (kotaku) disebarkan oleh para walisongo ke penjuru indonesia..dengan cara dan metode yang berbeda-beda, dengan pendekatan kulture budaya menyentuh hati demi hati, sehingga mereka (masyararakt) berbondong2 masuk islam karena kemauan mereka sendiri karena dorongan hatinya, bedalah pada zaman rasulullah saw. pada zaman rasulullah lebih sering dakwah setelah berperang,(karena mereka jelas memusuhi islam yang baru ditegakkan) jngn disama ratakan dengan cara berdakwah walisongo… kan beda masa dan kondisi lingkungannya..
      sungguh mendzalimi diri kita sendiri… cobalah baca sejarah, cobalah kaji semua, jika anda belum pernah mengkajinya jngn sekali-kali bilang tidak baik, tidak sregg dsbebnya.. anda kan tidak hidup pada masa itu, anda pun tidak juga dakwah syiar islam pada masa itu jg ya kan ? memang kita hidup dimasa sekarang, tapi jngn sombonglah, hargailah sejarah, karena dari sejarahlah kita bisa hidup sampai sekarang… berkat jasa para walisongo lah kita kini dalam naungan islam…
      mulane ngaji maleh( belajar lagi) baru baca buku SANTRI NU mengugat tahlilan” terus merasa benar… tanpa menelaah kandungan isi dari buku tersebut, cocokkan isinya apa sesuai dengan hadist, kitab-kitab para muhadist, sesuai dengan alquran gak?,… tafsirannya gmana? sesuai gak? dan satu lagi…kita bisa gak menelaah dari alquran DAN hadist untuk buku tersebut? bisa gak? kan banyak buku yang seringnya mendangkalkan aqidah.. nah kita tahu tidak? …kenalilah aqidahmu dulu, baru dech,,, memvonis aqidah orang lain… maaf jika kata2 saya agak keras…

      soal tradisi dan adat….apakah anda tidak pernah membaca sejarah rosul menyuruh berpuasa pada 10 muharamm ? yang merupakan adat dan tradsi orang yahudi berpuasa pada hari itu ? apakah ini tidak bisa dijadikan acuan ? coba jawab ?
      sebagaimana Rasul saw meniru adat yahudi yang berpuasa pada hari 10 muharram, bahwa Rasul saw menemukan orang yahudi puasa dihari 10 muharram karena mereka tasyakkur atas selamatnya Musa as, dan Rasul saw bersabda : Kami lebih berhak dari kalian atas Musa as, lalu beliau saw memerintahkan muslimin agar berpuasa pula” (HR Shahih Bukhari hadits no.3726, 3727).

      santri nu itu banyak bahkan jutaan, dari latar belakang yang berbeda2.. dari lembaga pendidikan yg berbeda2… baru satu saja yang menggugat… ada jutaan santri nu yang mendukung..gmna hayoo ? mulane ngaji maleh..ngaji maleh…
      saya sedih melihat kenyataan orang yg sering membidahkan… padahal ngaji saja tidak pernah, belajar hanya search google, belajar dari buku yang belum jelas pengarangnya.. yg informasinya kadang menyesatkn terus merasa paling benar sendiri,,, tidak pernah mengkaji dan mempelajari kitab-kitab para muhadsit, ulama yang sudah jelas kapasitas ilmu dan kesholehannya…
      merasa paling tahu tentang BIDAH, emang kamu kira “para muhadist, para ULAMA, tidak tahu tentang bidah,.. ?? hal yang menjadi pokok terpenting dari hukum islam…
      mulane ayoo ngaji malehh, ngaji malehh…

      tiada ilmu tanpa sanad……ingat belajar itu harus pada seorang guru, guru belajar pada gurunya dan bersambung terus hingga sampai Rosulullah saw.
      kelak di akherat ditanyai, darimana kamu belajar…? dg guru saya, guru saya berguru pada gurunya.. gurunya berguru dg gurunya.. hingga gurunya belajar dari rosulullah… inilah yang baik… makanya hati- hati memilih guru, jngn sampai hanya belajar dari google, yg belum jelas siapa gurunya? dimana tanggung jawabnya ?
      karena diakherat yang bertanggung jawab akan suatu ilmu adalah seorang guru,(yg mengajarkan) jika guru kita bersambung sanadnya terus sampai rosulullah saw, sungguh jelaslah kita kita dalam jalur yang benar…

      wallahu a’lam….
      semoga bermanfaat…

  21. ADMINNNNNNN ILMUNYA MANTABS BANGET…..DISINI KELIHATAN SEKALI ANTARA ORANG YG BODOH, DANGKAL DAN YG BERILMU……….BAROKALLOH ADMIN.MOHON IZIN SHARE ILMUNYA SUKRON…….

  22. saya pikir ini sudah jelas dalil2nya yang di paparkan oleh admin dan tidak perlu diperdebatkan lagi,he he,,,
    Jazakumullohu khoiron katsiron atas ilmunya, semoga bermanfaat demi kemaslahatan ummat,,,Aamiiin.

  23. Bagi yang membid’ahkan yasin dan tahlil, saya do’akan orangtua dan keluarga mereka yang meninggal masuk neraka jahannam semua….(toh kata mereka do’a saya nggak nyampe), Yaa Allah aku bertawassul dengan para guru, ulama, wali, syech, sahabat dan juga Nabiku Muhammad..terimalah do’a hamba…amien

  24. sip mantep saya suka.. tanpa wali ga mungkin kita mengenal Allah dan Nabi Besar Kita Muhammad saw ya ga..maka patutlah kita mengkuti ajarannya..sombonglah kita jika kita memvonis ajaran wali sebagai bi’dah

  25. Bersatulah umat islam

    Apapun aliranmu tuhan qt sama rosul qt sama agama qt jg sama

    Mereka yg pcy allah sbg tuhan n muhammad sbg utusan adlh saudara qt

    Jgn condong pada aliran/ faham yg brbd2

    Mari saling menghormati

    Bagimu aliranmu dan bagiku nahdatul ulama (NU) ahlusunah waljama.ah adlh fahamku

  26. Fakta Mengejutkan Tentang Tahlilan yang Dianggap Haram Oleh Salafi Wahabi Published October 4, 2011
    Dari sejak kemunculannya di bumi Nusantara Indonesia, Wahabi paling demen meng umbar vonis atas haramnya (bid’ah) tahlilan. Mungkin mereka tidak menyadari bahwa tindakannya itu terlalu berlebihan yang bisa berakibat merusak Islam. Bagaimana tidak, bukankah itu berarti Wahabi dan pengikut-pengikutnya mengharamkan yang halal atas tahlilan? Bahkan saking rusaknya pemahaman mereka terhadap Islam, mereka tak segan-segan pamer slogan batil: “Pelacur Lebih Mulia daripada Orang-orang Bertahlil (tahlilan). “
    Bahkan demi memperkuat vonis Wahabi atas haramnya tahlilan, mereka dengan gegabah membayar seorang Ustadz dari Pulau Bali untuk membuat klaim bahwa tahlilan adalah tradisi Hindu. Hanya orang-orang bodoh yang bisa dikibuli oleh trik-trik dan rekayasa kebohongan Wahabi. Cara membantah klaim tersebut cukup kita ajukan pertanyaan kepada para pemeluk agama Hindu: “Sejak Kapan di agama Hindu Ada Tradisi Tahlilan?” . Pastilah mereka para pemeluk agama Hindu akan bengong karena tidak kenal apa itu tahlilan .
    Untuk lebih mengenal tradisi tahlilan yang diharamkan Wahabi, mari kita simak paparan artikel ilmiyyah tentang fakta-fakta tahlilan berikut ini….
    Tahlilan sampai tujuh hari ternyata tradisi para sahabat Nabi Saw dan para tabi’in
    Oleh: Ibnu Abdillah Al-Katibiy
    Siapa bilang budaya berssedekah dengan menghidangkan makanan selama mitung dino (tujuh hari) atau empat puluh hari pasca kematian itu budaya hindu ?
    Di Indonesia ini banyak adat istiadat orang kuno yang dilestarikan masyarakat. Semisal Megangan, pelepasan anak ayam, siraman penganten, pitingan jodo, duduk-duduk di rumah duka dan lainnya. Akan tetapi bukan berarti setiap adat istiadat atau tradisi orang kuno itu tidak boleh atau haram dilakukan oleh seorang muslim. Dalam tulisan sebelumnya al-faqir telah menjelaskan tentang budaya atau tradisi dalam kacamata Syare’at di ; http://warkopmbahlalar.com/201 1/strategi-dakwah-wali-songo.h tml ataudi ; http://www.facebook.com/groups /149284881788092/?id=234968483 219731&ref=notif&notif_t=group _activity .
    Tidak semua budaya itu lantas diharamkan, bahkan Rasulullah Saw sendiri mengadopsi tradisi puasa ‘Asyura yang sebelumnya dilakukan oleh orang Yahudi yang memperingati hari kemenangannya NabiMusa dengan berpuasa. Syare’at telah memberikan batasannya sebagaimana dijelaskan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib saat ditanya tentang maksud kalimat “ Bergaullah kepada masyarakat dengan perilaku yang baik “, maka beliau menjawab: “Yang dimaksud perkara yang baik dalam hadits tersebut adalah :
    هو موافقة الناس في كل شيئ ما عدا المعاصي
    “ Beradaptasi dengan masyarakat dalam segala hal selain maksyiat “. Tradisi atau budaya yang diharamkan adalah yang menyalahi aqidah dan amaliah syare’at atau hukum Islam.
    Telah banyak beredar dari kalangan salafi wahhabi yang menyatakan bahwa tradisi tahlilan sampai tujuh hari diadopsi dari adat kepercayaan agama Hindu. Benarkah anggapan dan asumsi mereka ini?
    Sungguh anggapan mereka salah besar dan vonis yang tidak berdasar sama sekali. Justru ternyata tradisi tahlilan selama tujuh hari dengan menghidangkan makanan, merupakan tradisi para sahabat Nabi Muhammad Saw dan para tabi’in.
    Perhatikan dalil-dalilnya berikut ini :
    Imam Suyuthi Rahimahullah dalam kitab Al-Hawi li al-Fatawi -nya mengtakan :
    قال طاووس : ان الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الايام
    “ Thowus berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabt Nabi) gemar (bersedekah) menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut “.
    Sementara dalam riwayat lain :
    عن عبيد بن عمير قال : يفتن رجلان مؤمن ومنافق, فاما المؤمن فيفتن سبعا واماالمنافقفيفتن اربعين صباحا
    “ Dari Ubaid bin Umair ia berkata: “Dua orang yakni seorang mukmin dan seorang munafiq memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin maka ia difitnah selama tujuh hari, sedangkan seorang munafiq disiksa selama empat puluh hari “.
    Dalam menjelaskan dua atsar tersebut imam Suyuthi menyatakanbahwa dari sisi riwayat, para perawi atsar Thowus termasuk kategori perawi hadits-hadits shohih.
    Thowus yang wafat tahun 110 H sendiri dikenal sebagai salah seorang generasi pertama ulama negeri Yaman dan pemuka para tabi’in yang sempat menjumpai lima puluh orang sahabat Nabi Saw. Sedangkan Ubaid bin Umair yang wafat tahun 78 H yang dimaksud adalah al-Laitsi yaitu seorang ahli mauidhoh hasanah pertama di kota Makkah dalam masa pemerintahan Umar bin Khoththob Ra.
    Menurut imam Muslim beliau dilahirkan di zaman Nabi Saw bahkan menurut versi lain disebutkan bahwa beliau sempat melihat Nabi Saw. Maka berdasarkan pendapat ini beliau termasuk salah seorang sahabat Nabi Saw.
    Sementara bila ditinjau dalam sisi diroyahnya, sebgaimana kaidah yang diakui ulama ushul dan ulama hadits bahwa: “Setiap riwayat seorang sahabat Nabi Saw yang ma ruwiya mimma la al-majalla ar-ra’yi fiih (yang tidak bisa diijtihadi), semisal alam barzakh dan akherat, maka itu hukumnya adalah Marfu’ (riwayat yangsampai pada Nabi Saw), bukan Mauquf (riwayat yang terhenti pada sahabat dantidak sampai kepada Nabi Saw).
    Menurut ulama ushul dan hadits, makna ucapan Thowus ;
    ا ن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الايام
    berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabt Nabi) gemar (bersedekah) menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut “, adalah para sahabat Nabi Saw telah melakukannya dan dilihat serta diakui keabsahannya oleh Nabi Saw sendiri.
    ( al-Hawi) li al-Fatawi, juz III hlm. 266-273, Imam As-Suyuthi ).
    Maka tradisi bersedekah selama mitung dino / tujuh hari atau empatpuluh hari pasca kematian, merupakan warisan budaya dari para tabi’in dan sahabat Nabi Saw , bahkan telah dilihat dan diakui keabsahannya pula oleh beliau Nabi Muhammad Saw.

  27. Assalamuallaikum, ada beberapa hal yg mau saya tanyakan…
    1. Begini, terkait dengan tradisi tahlilan dalam Islam yg merupakan ajaran Wali.
    Apa gak dikaji secara perspektif sejarah terlebih dahulu.
    Saya pernah membaca dari beragam sumber dan menelaahnya, sebelum Islam berkembang dan berjaya, umat Hindu-Budha lah yg mayoritas berada pada setiap aspek kemasyarakatan, dan sebelum’a adalah animisme dan dinamisme (ini fakta lho, tidak debatable).
    Dakwah para wali pun pada akhirnya ‘meng-asimilasi’ dgn kebudayaan yg terlebih dahulu melekat pada masyarakat setempat.
    Jelas, masyarakat Hindu-Budha tidak mengenal tahlilan. Tapi mereka lah justru yg mempunyai tradisi penentuan hari-hari tertentu utk dirayakan. 1 hari, 3, 7, 40, 100, 1000 hari dan seterusnya (oleh karena’a kejawen memiliki tradisi yg serupa).
    Hindu-Budha pun dapat diterima oleh masyarakat animis dan dinamis yaa karena prinsip2 ibadah mereka nyaris semisal, serupa tapi tak sama. Oleh karenanya masih mudah diterima.
    Sementara core ajaran Islam, jelas jauh dari tata-cara #mereka. Oleh karena’a ada beberapa hal yg perlu distrategikan.
    Asimilasi, akulturasi dan sejenisnya jelas bukan perkara mudah. Butuh lebih dari sekedar puluhan tahun, bahkan ratusan. Oleh karenanya, para wali (yg bukan hanya 9 org, melainkan sebuah dewan agama yg kebanyakan warga keturunan Arab/timur tengah) me-modifikasi hari2 tersebut dengan ‘nuansa Islam’. Kalo dahulu hari2 tertentu tsb digunakan untuk mendoakan para mendiang/leluhur yg dilengkapi dgn kemenyan, kembang dan semisal. Maka tradisi mengalami modifikasi.
    Tradisi tdk dapat diubah kecuali sudah melekat selama turun-temurun dan berabad-abad. Maka, untuk merubah tradisi, adalah dengan tradisi baru.

    2. Terkait berkumpul pada hari tertentu ini juga tidak dicontohkan oleh Rasul saw. dan para sahabat ra., atau Tabi’i dan Tabi’in (setau saya membaca tarikh loh, mohon koreksi jika saya keliru).
    Secinta-cinta’a Rasul saw. terhadap Khadijah, ra., atau Para sahabat ra., terhadap Rasul saw., atau tabi’i dan tabi’in kpd Rasul saw., dan atau para sahabat ra., tidak pernah ada anjuran untuk mengadakan pengiriman doa dan semacamnya.
    Padahal, jika ini memang adalah bagian dari ibadah (entah akan diberi status hukum wajib atau sunnah), biasa’a terlebih dahulu ada fase ‘diberi contoh’ terlebih dahulu oleh Rasul saw.) dan lagi, bukankah jika ini dianjurkan/dicontohkan terlebih dahulu malah akan lebih baik (baik menurut kita loh), tapi, kenapa tidak?

    Maka hal ini pun berlaku terhadap hari2 besar selain hari 3 (yg udah ada ketentuan hukum’a; idul fitri, idul adha dan jumat mubarak). Selebih’a, Rasul saw., tidak pernah merayakan isra mi’raj, turun’a al Quran (turun’a wahyu Al Alaq 1-5), atau bahkan ulang tahun beliau, atau bahkan tahun baru seperti para non-muslim rayakan di setiap tanggal pertama dan bulan pertama di tahun yang baru. Atau setidaknya 3 perayaan pertama lah, mengingat tahun baru Islam resmi ada ketika Umar ra. membuat ‘kalender versi Islam’. Dan sepengetahuan saya, Umar ra., pun bahkan tidak menganjurkan untuk diadakan pada hari awal tahun tersebut, sebuah perayaan melainkan hanya sebuah tanda pergantian tahun (yang tidak perlu dirayakan). Padahal kalo dicontohin, kan baik (baik menurut kita) untuk memperkuat ukhuwah.

    3. saya sepakat jika telah terjadi mis-konsepsi yang sedemikian jauh pada masyarakat kita. terlihat dari praktik2 yg mereka lakukan mereka anggap sebagai bagian dari ibadah. Contoh: ziarah kubur plus-plus (plus minta2, plus pake kemenyan dan lain2), ziarah’a selama sesuai syar’i mah gak akan pernah salah, tapi plus2’a ini loh. tahlilan yg memiskinkan (udah tau lagi berkabung, besek’a dinanti, makanan’a dikerubutin), dsb-dsb lah.

    Jika memang terjadi hal2 semisal di atas, trus knp bisa terjadi semacam pembiaran. Kenapa tidak diluruskan. Jika memang dakwah adalah berkesinambungan dengan menggunakan 3 prinsip penting;
    1. mengharap ridha Allah
    2. menghidupkan sunnah Rasul
    3. islam sebagai rahmatan lil alamin (yg perlu dipahami, bahwa Islam adalah worldview, frame-thinking yg bisa diaplikasikan bagi keberlangsungan seluruh makhluk, ini berarti kita juga jgn sampe membandingkan apalagi menyandingkan Islam dengan ide2 lain dong; kapitalis, sosialis dan atau budaya temporal manusia. Islam saja sudah cukup bukan? kecuali islam itu dianggap sbg ajaran yg belum sempurna)

    Wallahu’alam.

    • sahabatku yang dirahmati Allah, smoga kemulyan tercurah untukmu..

      Bid’ah adalah hal yg diada adakan setelah wafatnya Rasul saw, Bid’ah terbagi dua, Bid’ah hasanah dan Bid’ah Munkarah
      Bid’ah hasanah adalah hal yg diada adakan setelah wafatnya Rasul saw dengan tanpa melanggar syariah, dan dengan tujuan maslahat Muslimin dengan landasan Hadits Rasul saw : “Barangsiapa yg membuat ajaran kebaikan (pahala) dalam islam (tidak melanggar syariah), maka baginya pahalanya, dan barangsiapa yg membuat ajaran buruk (dosa) maka baginya dosanya”. (HR Muslim).
      (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid;ah dhalalah.

      ini sebagai acuan diblehkannya bidah hasanah…

      sepeti halnya dulu ada imam masjid yang setelah fatehah kemudian diikuti surat al ikhlas, baru surat lainnya, kemudian hal ini diadukan kepada Rosul Saw( padahal rosul tidak pernah mencotohkan seperti itu kan) apa kata Rosul: kecintaaanmu akan itu(surat Al ikhlas) akan mengantarkanmu pada syurga, subhanallah.. indah bukan.. dan masih banyak lagi contoh lainnya..

      Orang yg menafikan Bid’ah hasanah, maka ia menafikan dan membid’ahkan Kitab Al Qur’an, karena tak ada perintah Rasul saw untuk membukukannya dalam satu kitab, dan itu adalah Ijma’ shahabiy radhiyallahu’anhum.

      Demikian pula Kitab Bukhari, Muslim, dan seluruh kitab hadits., karena pengumpulan hadits Rasul saw dalam satu kitab merupakan Bid?ah hasanah yg tak pernah diperintahkan oleh Rasul saw.

      Demikian pula ilmu Nahwu, sharaf, Musthalahulhadits, dan lainnya hingga kita memahami derajat hadits, inipun semua Bid’ah hasanah.

      ingat bidah hasanah hal-hal baru yang tidak melanggar syariat, tujuan dari penetapan waktu-waktu tsb lebih pada upaya untuk secara konsisten mendoakan orang tua yang telah meninggal sebagai salah satu jalan pahala yang tetap mengalir setelah seseorang wafat, ea kebanyakan manusia sekarang kan sibuk dengan urusannya masing-masing, jika bisa sehabis sholat mengirimkan fatehah dan sebagainya kepada ahli kuburnya lebih baik, jika tidak ya setidaknya ada waktu tertentu yang menjadi kebiasaan baik yang bisa dijalankan..

      pertanyaaan ini ?
      Maka hal ini pun berlaku terhadap hari2 besar selain hari 3 (yg udah ada ketentuan hukum’a; idul fitri, idul adha dan jumat mubarak). Selebih’a, Rasul saw., tidak pernah merayakan isra mi’raj, turun’a al Quran (turun’a wahyu Al Alaq 1-5), atau bahkan ulang tahun beliau, atau bahkan tahun baru seperti para non-muslim rayakan di setiap tanggal pertama dan bulan pertama di tahun yang baru. Atau setidaknya 3 perayaan pertama lah, mengingat tahun baru Islam resmi ada ketika Umar ra. membuat ‘kalender versi Islam’. Dan sepengetahuan saya, Umar ra., pun bahkan tidak menganjurkan untuk diadakan pada hari awal tahun tersebut, sebuah perayaan melainkan hanya sebuah tanda pergantian tahun (yang tidak perlu dirayakan). Padahal kalo dicontohin, kan baik (baik menurut kita) untuk memperkuat ukhuwah.

      sahabatku sebelum anda berkomentar, seharusnya anda harus banyak membaca sejarah, terus kitab-kitab kelasik, baca hadist, terus kaji alquran yang sebanyak2nya, karena saya masih melakukan itu semua..

      Allah swt memerintahkan kita bergembira dan membuat perayaan untuk memeriahkan datangnya kenikmatan dan anugerah dari Allah, sebagaimana firman Allah swt : “KATAKANLAH (WAHAI MUHAMMAD), DENGAN DATANGNYA ANUGERAH ALLAH DAN RAHMAT NYA MAKA PERINTAHKAN MEREKA BERGEMBIRA, ITU LEBIH BAIK DARIPADA APA APA YG MEREKA KUMPULKAN (dari harta dlsb) ” (QS Yunus).

      kita diperintahkan Allah swt bergembira, dan pula membesarkasn syiar syiar Islam merupakan perintah Allah swt pula, sebagaimana Firman Nya : “BARANGSIAPA MEMBESAR2 KAN SYIAR ALLAH MAKA ITU MERUPAKAN TANDA KETAKWAAN HATI” (QS Al Hajj – 32)

      lalu Hadits Rasul saw : “Barangsiapa yg membuat buat didalam islam suatu ajaran baru yg baik, dan diikuti pula oleh orang yg sesudahnya, maka baginya pahalanya dan pahala yg mengamalkannya sesudahnya, dan tiadalah pahalanya itu berkurang sedikitpun, dan barangsiapa membuat buat ajaran baru yg buruk, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengamalkannya sesudahnya tanpa dikurangkan sedikitpun dari dosa tersebut” (Shahih Muslim hadits no. 1017).

      maka Rasul saw telah memperbolehkannya, Allah telah memerintahkannya, lalu mereka dari golongan sempalan Abad ke 20 ini melarangnya.

      astaqfirullahh…

      islam adalah agama yang sempurna sahabatku, yang tidak sempurna tu pemahamam kita mengenai islam, kita tidak bisa serta merta mengambil dalil dari alquran, membaca artinya terus dijadikan acuan, tidak bisa seperti itu tanpa ada seorang guru.. karena jika kita memberi kesimpulan sendiri justru kita dalam arah kesesatan…ada beberapa yang harus diterangkan lebih dalam makanya kita butuh guru, tiada ilmu tanpa sanad

      inilah kenapa bahayanya kaum wahabi bagi intern islam itu sendiri,Salah satu ciri atau tanda mereka pengikut ajaran Wahabi adalah menganggap kaum muslim yang mengerjakan kebiasaan-kebiasan yang tidak melanggar satupun laranganNya atau kebiasaan-kebiasaan yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah seperti peringatan Maulid Nabi, sedekah tahlil (tahlilan), pembacaa sholawat Nariyah, sholawat Badar. Maulid Barzanji dianggap sebagai kaum muslim yang menganggap agama Islam belum sempurna sehingga perlu ditambah ibadah-ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

      Inilah akibat mereka terhasut atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi sehingga mereka kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah dengan memahaminya secara dzahir/harfiah/tertulis/tersurat atau memahaminya dengan metodologi “terjemahkan saja” dari sudut arti bahasa (lughot) dan istilah (terminologi) saja. Mereka kurang memperhatikan alat bahasa seperti Nahwu, Shorof, Balaghoh (ma’ani, bayan dan badi’) ataupun ushul fiqih maupun ilmu fiqih

      nahwu, shorof, balaghoh, ushul fiqih gak pernah dipelajari… kok sok paham alquran hadist…berani membidahkan dan menyesatkan, berani angkat dalil. padahal ilmu-ilmu itulah yang bisa mengupas alquran hadist lebih mendalam,.. apakah anda bisa? jika tidak? maka belajar ilmu itu dulu?….

      semoga bermanfaat…

  28. jangan konyol ah saudaraku se muslim, dua2nya DOSA. masa tidak tahlil melanggar syariat. Masa sebagai sesama Muslim mendoakan orang agar masuk neraka gara-gara tidak tahlilan……lho, lho,lho kok kita ikut2an jadi Yahudi…..aku sebagai orang yang dulunya dari luar Islam merasa sedih….mari kehidupan ini diwarnai dengan kehidupan AL QUR’AN. saya pilih ISLAM karena keindahanya. amin

    • mas wiwin yg baik.. anda tu baca di alinea berapa ea>>? kayaknya saya gak pernah berkata “kalo tidak tahlil melanggar syariat”.. anda yg menyimpulkn sendiri seperti itu…terus siapa yang mendoakan orang agar masuk neraka gara2 tidak tahlilan ? tidak ada…. saya hanya menekankan kata..kan mereka menganggap doa kita gak sampai untuk orang yg sudah meninggal..makanya jika seandenya kita mendoakan yang baik sekalipun kan gak pernah nyampe, kan mereka menyakini itu, karena sempitnya pemahaman mereka…

      moga engkau tidak salah tafsir, semoga rahmat Allah menyertaimu..

      • astaqfirullah… astaqfirullah,

        sahabatku semua yang dirahmati Allah,yang aku sayangi…yang aku hormati…sebenarnya kajian yg saya paparkan sudah lebih dari cukup, saya sudah malas jika harus berdiskusi masalah ini terus,
        mari sama-sama kita menghindari masalah ini, masalah khilafiah yang bukan kapasitas kita mendiskusikannya… masalah ini sudah dibahas ulama-ulama terdahulu yang lebih paham kapsitas ilmu dan kesholehannya, siapa yang memunculkan kembali ?, kenapa ingin memecah belah yg islam yang sudah baik ?..Perdebatan itu tidak ada faedahnya, orang yang membiasakan diri dengan memperdebatkan perbedaan-perbedaan tidak akan dapat melahirkan ilmu fiqih yang baru, hanya berkutat pada masalah yang itu-itu saja. Mereka hanya mencari ketenaran dengan dalih ingin mendalami perbedaan madzhab. untuk mencari kemenangan, menundukkan lawan, memperoleh kelebihan dan kemuliaan diri, berargumen pada khalayak ramai, ingin kemegahan dan kebebasan serta ingin menarik perhatian orang, adalah sumber segala akhlak yang tercela menurut Allah dan terpuji dalam pandangan Iblis dan berhubungan dengan sifat-sifat kekejian batin.

        Orang yang didesak oleh keinginan menjatuhkan orang lain, memperoleh kemenangan dalam perdebatan, kemegahan dan keangkuhan, mengajaknya kepada bermacam-macam sifat keji yang tersembunyi dalam jiwanya. Sehingga semua akhlak buruk terpatri dalam sanubarinya. astaqfirullah…astaqfirullah…

        masalah ini yang menjalankan baik, yang tidakpun juga baik, namun jangan sekali-kali mengatakan yang menjalankan adalah pelaku bid’ah, sesat, masuk neraka, jnganlah berkata demikian, hargai yg menjalankan karena sesungguhnya yg menjalankan punya hujjah yang jelas, dan kami pun yang menjalankan sungguh menghormati yang tidak menjalankan…sungguh perbedaan itu rahmat..jangan menggangap diri paling benar, apalagi membidahkan bahkan mengkafirkan sesama muslim… astaqfirullah..

        مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ

        “Barangsiapa meninggalkan perdebatan sedang dia di pihak yang batil, maka dibangun Allah baginya sebuah rumah dalam perkampungan sorga. Dan barangsiapa meninggalkan perdebatan sedang dia di pihak yang benar, maka dibangun Allah baginya sebuah rumah dalam sorga tinggi”

        mari kita jaga ukhuwah kita, ukhuwah islamiah, mari sama-sama mengharap ridho Allah, mari jalankan sunnah nabi sebaik mungkin..
        hindari dengki, maupun mengklaim diri paling benar, jangan suka mengklaim bid’ah pada orang lain….

        الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب

        Dengki itu menghapus kebaikan seperti api memakan kayu kering.

        siapapun harus belajar dari orang lain, Imam Ghozali mengingatkan manusia agar menjauhi masalah perdebatan atau khilafiyyah sebagaimana menjauh dari racun yang berbahaya. Hal ini dapat menimbulkan penyakit yang membawa para fuqoha’ untuk berlomba-lomba mencari popularitas.

        astaqfirullah,astaqfirullah…
        mari sama-sama kita mengharap ridho Allah, intropeksi diri sendiri dulu,sesungguhnya kita itu banyak mendzalimi diri sendiri, banyak dosanya, banyak salahnya,mari mohon ampun kepada Allah,mari merenungkan kedudukan diri kita disisi Allah, dan yang akan kita hadapi, yakni kematian, kebangkitan, hisab, surga dan neraka. semoga Allah meridhoi, semoga cahaya-cahaya islam menyentuh hati kita semua…

        sahabatku, kita semua itu saudara… maka jangan sekali-kali menyakiti, mendzalimi saudaramu sendiri…apalagi jika menggap saudara kita kafir, sungguh betapa gelapnya hati orang itu,
        semoga kita semua dalam ridhonya…dalam hidayah petunjuknya…

        astaqfirullah…astaqfirullah…..
        mari sama-sama merenungkan kedudukan diri kita disisi Allah, siapkah kita menghadpi kematian? berapa banyak dosa kita? siapkah kita dihisap?
        semoga komen saya terakhir ini, dapat membuka hati dan pikiran kita..

        ya Allah maafkan kami, maafkan kedzaliman yang kami perbuat pada diri kami sendiri, tuntun kami ya allah pada jalan lurus yang engkau ridhoi, yang berkilauan cahaya cintamu menuju syurga yang kami dambakan..

        semoga bermanfaat….

  29. Hellow wahabi, Hehehe,,, Alqur’an terjemahan hadist yang ditafsirkan sekarepe udele dwe dan disebarkan melalui, Radio, Tv, Brosur, dll, di cerna mentah-mentah, gak pake ilmu, hanya menerima apa yang mereka dengar dan lihat dengan dogma dan doktrin berdasar logika akal dan retorika hawa nafsu!!! katanya dah ngaji, coba ngaji itu apa?, oh ea! Bukankah kalian sendiri yang menuhankan ustad kalian tanpa sadar ,bukan orang NU!!! masa cium tangan sesama lelaki yang lebih tua untuk menghormati dibilang menuhankan/menabikan, giliran berpegang pada apa yang ustad mereka ucapkan, kok tidak dicap ngakuin ustad nabi, oh ada lagi wahabi lover yang ada di Indonesia atau sempalannya yang tak mau mengakui sebagai wahabi padahal pemahamannya wahabi, ngakunya pemurnian Islam apa pengotoran Islam dengan Bid’ah yang mereka gedar-gedorkan, padahal tak sadar mereka sendiri yang melakukannya, katanya kalian ngikut Alqur’an As Sunah, masa 1 dari 72/73 golongan aja gak tau atau gak bisa bedain, repot dech! eh ciape deech…(lebay dikit lah)! Kalian merasa paling benar menafsirkan dengan mempelajari terjemahan Al qur’an Hadist Indonesianya saja ea! padahal versi Arabnya jika ditafsirkan akan lebih berbeda maknanya, coba syarat menafsirkan Al qur’an sudah memadai belum? Kalau belum, ku ingetin ea, jangan membid’ahkan sesama Muslim dech, sama aja memvonis kesalahan tanpa Ilmu, eit!! yang terakhir, mengenai kitab kuning/gundulan itu, ada lho diantara kalian yang mencap jelek kitab itu dengan sedikit halus sih tapi nggores juga, kalian kalau tidak ada kitab kuning gak akan pernah tau tajwid uraian terjemahan Alqur’an yang dibatasi sekarang, jadi jangan sok bilang berpegang Alqur’an Sunah dech, padahal tau makna didalamnya dari orang yang sepaham dengan nafsu kalian, dasar sok suci, sok berhak, sok menetapkan, jika kalian tak mau ngikut sama NU yang berpegang pada Alqur’an, AsSunah, Ijma’ para Ulama dan Qiyas yang mungkin anda rasa berat, ya sudah!!! Jangan bid’ah2in, kafir2n, sesat2in warga NU. Ya Allah ampunilah hambamu ini yang penuh dosa dan jika hambamu mati nanti, ibakanlah hati mereka untuk mendoakanku dengan zikir dan Tahlil, supaya hambamu ini diringankan siksa kuburnya(Amiiin)

  30. astagfirulloh………….
    kebenaran hanyalah milik Allah SWT, kita hanya hamba dloif yang mencari ridho-Nya. landasan hati (niat) adalah ruh dari apa yang kita perbuat. mari kita perkuat ukhuwah islamiyah dalam ketaudin yang satu (tida tuhan selain allah dan Muhammad adalah utusan Allah). bacaaa dalam tahlillah hak tida ada yang batil. tugas kita adalah bagaimana agar yang hak itu terpisah dari hal2 yang membuatnya tersemar. yang mau tahlillan silahkan laksanakan dengan ihlas, kikislah hal2 yang tidak sesuai dg nilai islam (kejawen/lainnya). bagi yang tidak melaksanakan tahlilan jgn mencibir .
    mari kira perbanyak melihat masalah Ashal (Popok) dari pada memperbesar far’un (Cabang) yg seolah kita dalam jln yang berbeda, padahal kita dalam poros yang sama “mencari riho Allah” wallhu ‘alam bisshowab……..

  31. assalamu’alaikum…. allhamdulilah di malam tahun baru ini saya mendapat ilmu yang bermafaat dari admin nii….. saya berasal dari banda aceh.. dan umumnya di aceh adalah ahlulsunnahwaljama’am.. saya dulu ngaji di hidayatul al-aziziyah cabang dari mudi mesara al-ziziyah. tapi sekarang lagi kuliah… saya pernah bertanya pada guru ngaji saya apabila islam tanpa mazhap bisa dikatakan islam sampurna yang hanya berpegang teguh pada hidist dan al-qur’an saja…. jwab nyaa sudah pasti tidaak… karna dihari kiamat semua pengikut nabi akan berderet…. dari nabi Mumammad SAW dikuti Para Sahabat dan para Ulama-Ulama dan turun temrun sampan didepan kiata adalah guru kita… nah apabila kita tidak mempunyai guru atau pu berderetan dari para guru2 kita maka dikatakan oleh nabi Muhammad SAW dia bukan ummad ku…. saya juga memiliki sawdara yg tdak mengikuti kami… bahkan kami tiap hari debat…. saya gak tau harus bilang seperti apa lagi bahakan dia pernah pesan pada kami kalo dia meninggal jangan ada tahlilan dan baca surat yasin segala…… mohon di balas admin…..

    • semoga kesejahteraan dan rahmat Allah tercurah untukmu dan keluargamu,
      terima kasih sekiranya telah berkunjung disini, maslah yang menyangkut masalah kilafiah, sebenarnya sudah dibahas ulama-ulama terdahulu, yang sangat sholeh, yang kapasitas ilmunnya tidak diragukan lagi, namun golongan sempalan abad ini, yang ngakunya pengikut salafusholeh memunculkan kembali dg berdalih kembali ke alquran dan hadist, mereka hanya memaknai alquran dan hadist secara dhohiriah saja, mengklaim diri paling benar, bahkan sering membidahkan sampai parahnya mengkafirkan sesama muslim lainnya, astagfirullah,
      sebenarnya saya sudah malas, jka melayani diskusi masalah ini, karena yg saya kemukakan insyaallah sudah lebih dari cukup,
      sahabatku, hindarilah berdebat,karena sumber dari berbagai akhak tercela bermula dari berdebat yang tiada habisnya., menjadi orang yang cerdas dan pandai berdebat itu hebat, tapi menjadi seorang yang rendah hati itu mulia,
      saya dipesankan oleh guru saya, cukup menyampaikan saja, hindari berdebat, jika dia mau menerima ya alhamdulillah, jika tidak ya gapapa,
      hormati keputusannya, tapi tetap doakan semoga kita selalu dlm rahmat Allah,

      islam itu indah, mari indahkan hati dengan mendalami islam seutuhnya,
      belajarlah dari para habaib, ulama-ulama dan para kyai yang sanad ilmunya bersambung pada rasululllah,
      kelak, dihari kiamat semua orang akan dikumpulkan kepada yang dicintainya,
      moga kita termasuk golongan ahlisunnah waljamaah yang diridhoi Allah dan Rosulnya,

      salam dari demak-kudus jawa tengah, kotanya para wali,
      saya sekarang kuliah dan kerja di bekasi,

      wassalamualaikum wr, wb,
      temonsoejadi.

  32. mohon maaf saya cuma orang awam yang masih perlu banyak belajar,
    saya ga pernah tahlilan karena tidak ada dalil yang memerintahkannya dan Rasulallah tidak mencontohkannya termasuk saat istrinya yang bernama khodijah meninggal.
    tapi saya tidak bisa menyebutkan hukum tahlilan itu apa, mau melaksanakan atau tidak itu urusan masing-masing.
    kalau masalah mendoakan orang tua, insya Allah saya senantiasa mendoakannya setiap saya berdoa.

    • mau menjalankan, maupun tidak, itu terserah diri masing-masing, hidup itu pilihan, para ulama-ulama yang kapasitas ilmu dan kesholehanya sudah menjelaskan panjang lebar, jumhur ulama membolehkan, dan tidak melanggar syariah, bahkan apa yang dibaca didalamnya adalah anjuran Rasul saw untuk dijalankan , pahamilah makna SUNNAH sedetail-detailnya, sepaham-pahamnya, dan selalu berpegang teguhlah pada Ahlisunnah waljamaah,
      “Sesungguhnya Allah s.w.t. telah memberikan petunjuk kepada setiap manusia, yaitu hatinya, dan memberikan penunjuk jalan, yaitu akalnya. Pergunakanlah keduanya dalam segala hal, pastilah kamu mendapat petunjuk ke jalan yang lurus, dengan karunia Allah.”
      moga Allah selalu menuntun langkah kita,

  33. Assalamu’alaikum …
    Mas Temoensoejadi
    Sejujurnya saya senang dengan blog anda ini yang mengkupas masalah ‘klasik yang lagi dan masih ngetren’ dengan begitu lengkap dan tanpa menghasut dan menghujat. Dan pemahaman anda sebagai warga kota kelahiran Wali juga mengagumkan.
    Tapi sejujurnya pula saya tetap tidak sepaham karena saya sudah sangat nyaman dengan apa yang saya yakini.
    Saya bisa mentolerir perbedaan ini karena saya ada ditengah-tengah keluarga yang menganut paham berbeda.Istri saya pun awalnya juga berbeda dengan saya, tapi Alhamduillah dia bisa bermakmum dengan ikhlas.

    Saya sih cuman ingin menyampaikan beberapa uneg-uneg nih, kan walau kita berbeda, kita tetap harus saling menghormati betul to?
    Misalnya nih:

    1. Penyelenggaraan tahlilan seringkali mengorbankan kepentingan umum, misalnya menutup jalan (batu ditengah jalan saja seyogyanya disingkirkan), volume yang sangat keras (padahal ketentuan bagaimana kita berdzikir sudah jelas). Dan yang paling saya ‘ngeri’ dalam tahlil bagaimana menyebutkan nama Allah dengan nada membentak. Astagfirullah …
    2. Yang juga sudah telah disebutkan pada komentar sebelumnya, bahwa dalam tahlilan yang diselenggarakan karena kematian, seringkali karena ‘ketidaktahuan’ masalah hukum tahlilan, beberapa orang memaksakan diri dengan meminjam uang sana-sini. Dan terutama takut ‘dinilai’ buruk oleh tetangganya bila tidak melaksanakan tahlilan.Mohon masyarakat juga dijelaskan bahwa ini bukan hal yang wajib, kasihan bagi warga yang tidak mampu.
    3. Mbok ya o (bahasa suroboyoan nih) keberadaan kami ini juga diakui sama golongan panjenengan, wong kami ini aja bisa menghormati keberadaan panjengan. Tapi seolah-olah kami ini tidak ada … 🙂
    Kalo yang terakhir ini sih perasaan pribadi mas, mungkin ya gak valid.
    Wis gitu aja mas, semoga kita sama2 bisa menuntaskan perjalanan hidup kita, selamat dunia dan akhirat.

    Wassalamu’alaikum ….

    • sahabatku yang saya mulyakan karena Allah, semoga rahmat dan karunia allah selalu tercurah untukmu dan keluargamu disana

      bukan mengorbakan kepentingan umum, seyogyanya kita memaklumi kalo di situ lagi aada hajat, misal disitu ada pernikahan, pengajian ataupun acara2 lainya yang pas yng punya rumah tak mempunyai teras yg luas, maka terpaksalah bahu jalan digunakan, sbagai orang beriman yg tenggang rasa tentunya memahami keadaan seperti ni, toh bila itu terjadi pada diri kita kemungkinan kita akan sama melakukan dg apa yg mereka lakukan

      Saudaraku yg kumuliakan,

      1. ada juga dalilnya berdzikir dg suara keras,

      Dzikir berjamaah sejak zaman Rasul saw, sahabat, tabiin tak pernah dipermasalahkan, bahkan merupakan sunnah rasul saw, dan pula secara akal sehat, semua orang mukmin akan asyik berdzikir,
      dan hanya syaitan yg benci dan akan hangus terbakar dan tak tahan mendengar suara dzikir. kita bisa bandingkan mereka ini dari kelompok mukmin, atau kelompok syaitan yg sesat.., dengan cara mereka yg memprotes dzikir jamaah, telinga mereka panas, dan ingin segera kabur bila mendengar jamaah berdzikir.

      sebagaimana hadits hadits dibawah ini :
      Hadist Qudsiy Allah swt berfirman : BILA IA (HAMBAKU) MENYEBUT NAMAKU DALAM DIRINYA, MAKA AKU MENGINGATNYA DALAM DIRIKU, BILA MEREKA MENYEBUT NAMAKAU DALAM KELOMPOK BESAR, MAKA AKUPUN MENYEBUT (membanggakan) NAMA MEREKA DALAM KELOMPOK YG LEBIH BESAR DAN LEBIH MULIA. (HR Bukhari Muslim).

      Firman Allah swt : SABARKANLAH DIRIMU BERSAMA KELOMPOK ORANG ORANG YG BERDOA PADA TUHAN MEREKA SIANG DAN MALAM SEMATA MATA MENGINGINKAN KERIDHOAN NYA, DAN JANGANLAH KAU JAUHKAN PANDANGANMU (dari mereka), UNTUK MENGINGINKAN KEDUNIAWIAN?? (QS Alkahfi 28)
      Ayat ini turun ketika Salman Alfarisi ra berdzikir bersama para sahabat, maka Allah memerintahkan Rasul saw dan seluruh ummatnya duduk untuk menghormati orang2 yg berdzikir.

      para sahabat berdoa bersama Rasul saw dengan melantunkan syair (Qasidah/Nasyidah) di saat menggali khandaq (parit) Rasul saw dan sahabat2 radhiyallhu;anhum bersenandung bersama sama dengan ucapan : HAAMIIIM LAA YUNSHARUUN… (Kitab Sirah Ibn Hisyam Bab Ghazwat Khandaq). Perlu diketahui bahwa sirah Ibn Hisyam adalah buku sejarah yg pertama ada dari seluruh buku sejarah, yaitu buku sejarah tertua. Karena ia adalah Tabi?in.

      saat membangun Masjidirrasul saw : mereka bersemangat sambil bersenandung : ?Laa Iesy illa Iesyul akhirah, Allahummarham Al Anshar wal Muhaajirah setelah mendengar ini maka Rasul saw pun segera mengikuti ucapan mereka seraya bersenandung dengan semangat : Laa Iesy illa Iesyul akhirah, Allahummarham Al Anshar wal Muhajirah (Sirah Ibn Hisyam Bab Hijraturrasul saw- bina masjidissyarif hal 116, Shahih Bukhari wa muslim),

      Sabda Rasulullah saw : “akan tahu nanti dihari kiamat siapakah ahlulkaram (orang orang mulia)”, maka para sahabat bertanya : siapakah mereka wahai rasulullah?, Rasul saw menjawab : :”majelis majelis dzikir di masjid masjid” (Shahih Ibn Hibban hadits no.816)

      Sabda Rasulullah saw : “sungguh Allah memiliki malaikat yg beredar dimuka bumi mengikuti dan menghadiri majelis majelis dzikir, bila mereka menemukannya maka mereka berkumpul dan berdesakan hingga memenuhi antara hadirin hingga langit dunia, bila majelis selesai maka para malaikat itu berpencar dan kembali ke langit, dan Allah bertanya pada mereka dan Allah Maha Tahu : “darimana kalian?” mereka menjawab : kami datang dari hamba hamba Mu, mereka berdoa padamu, bertasbih padaMu, bertahlil padaMu, bertahmid pada Mu, bertakbir pada Mu, dan meminta kepada Mu,
      Maka Allah bertanya : “Apa yg mereka minta?”, Malaikat berkata : mereka meminta sorga, Allah berkata : apakah mereka telah melihat sorgaku?, Malaikat menjawab : tidak, Allah berkata : “Bagaimana bila mereka melihatnya”. Malaikat berkata : mereka meminta perlindungan Mu, Allah berkata : “mereka meminta perlindungan dari apa?”, Malaikat berkata : “dari Api neraka”, Allah berkata : “apakah mereka telah melihat nerakaku?”, Malaikat menjawab tidak, Allah berkata : Bagaimana kalau mereka melihat neraka Ku. Malaikat berkata : mereka beristighfar pada Mu, Allah berkata : “sudah kuampuni mereka, sudah kuberi permintaan mereka, dan sudah kulindungi mereka dari apa apa yg mereka minta perlindungan darinya, malaikat berkata : “wahai Allah, diantara mereka ada si fulan hamba pendosa, ia hanya lewat lalu ikut duduk bersama mereka, Allah berkata : baginya pengampunanku, dan mereka (ahlu dzikir) adalah kaum yg tidak ada yg dihinakan siapa siapa yg duduk bersama mereka” (shahih Muslim hadits no.2689),

      dan banyak lagi riwayat shahih lainnya.

      2. memang ada yang harus sedikit diluruskan, tp kita tidak merta menyalahkan yg mau berbuat kebaikan, ini acara baik yang harus dilanggengkan, karena berlimpah keberkahan dan keridhoan, namun syang kebanyakan masyarakat itu gengsi jika menghormati tamu dengan jamuan yg seadanya, itu aja yg harus diluruskan karena semuanya insyaallah sudah lurus, ada contoh kok, dulu tetangga saya, yg maaf”keluarganya kurang mampu” mohon maaf dulu meminta keridhoan, kepada para hadirin yg hadir dalam acara tahlilan,”bahwa mereka tidak bisa menghormati yg hadir pada majelis mulia ini sebaik orang-orang mnghormati/menjamu mereka, para hadirinpun memaklumi dan acara tetap berlangsunng baik seperti biasanya,

      3. maaf jika tidak berkenan dengan kata “mbok yo” bukannya saya sok ngajarin, bukan sya sok pinter dan sebagainya, niat saya tu baik, jika siapa saja yang mau terus menuntut ilmu, Allah akan berikan baginya pemahaman yg sangat luas, sehingga bisa melihat apa yg seringnya tidak bisa dilihat mata,maklum saya ini orang bodo yang tak kunjunng pandai dijalan yg semoga diridhoinya, sekiranya mohon jngn salah diartikan,

      jika anda tidak suka tahlilan ya silahkan itu hak anda, disini kan tujuannya mendoakan yg sudah meninggalkan semoga Allah ampuni dosa-dosanya, moga Allah lapangkan kuburannya, moga ditempatkan ditempat terindah disisinya, sungguh itu sangat mulia,insyaallah doa kami sampai, kan jumhur ulama sepakat demikian,

      sesungguhnya kelak dihari kiamat akan dikumpulkan semua pada apa yg dicintai, semoga saya, keluarga saya, dan orang2 yang menghidupkan tahlilan, maulidan, yasinan dikumpulkan bersama ahlul istiqamah para aulia, para wali allah yang sanad ilmunya bersambung sampai para imam mahzdab- tabiin-tabiut- para sahabat, hingga Rosulullah saw, karena sesungguhnya tiada ilmu tanpa sanad, kelak diakherat ilmu akan dipertanyakan, dari mana kamu belajar, dari guru saya, guru saya ditanyai, siapa yang mengajari kamu, guru sya, guru saya, guru, guru, guru, sampai terus ditanyakan dan akhirnya berakhir sampai rasulullah saw. sungguh indah bukan, ilmu yang bersambung sanadnya pada rasulullah saw,

      ketika seorang sahabat bertanya kepada rosullullah saw, apa yg harus ia lakukan setlah beliau wafat, sedang di alquran dan hadist tidak terdapat apa yg sedang dicari permasalahannya itu,

      nabi menjawab” “Sesungguhnya Allah s.w.t. telah memberikan petunjuk kepada setiap manusia, yaitu hatinya, dan memberikan penunjuk jalan, yaitu akalnya. Pergunakanlah keduanya dalam segala hal, pastilah kamu mendapat petunjuk ke jalan yang lurus, dengan karunia Allah.”

      sahabatku yg aku mulyakan semoga kita semua, tidak termasuk dari apa yg ayat alquran ini jelskan…

      “…mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.” (QS Al-A’raf 179)

      semoga kita semua termasuk golongan yang terus belajar, terus memperbaiki diri guna meraih ridho illahi rabby,amien
      matur suwun,

  34. alhamdulillah mas temon ada teman saya yang share topik ini di FB,
    dari siang tadi baru kelar malam ini saya baca seluruhnya, walaupun ada yg dilewatkan karena saya pikir sudah dijelaskan/diulang2 sebelumnya.
    saya bersyukur dapat ilmu baru tentang bid’ah ini, yg mana saya hanya sekedar tahu saja, dan sempat saya tidak melakukan hal2 yg berbau bid’ah ini dulu, untungnya hanya sebentar, karena ada teman juga yg bilang kalau bid’ah itu ada yg baik dan buruk istilahnya.

    terima kasih telah menyampaikan hal ini, semoga yg membaca dapat memahami lagi, dan yg tidak menyetujui hal ini, kita bisa sama2 menghargai satu sama lain

    wassalam

  35. Assalamualaikum…
    maaf saya sebelumnya mau share pengalaman dulu,
    saya sebelumnya blm pernah ikut acara tahlilan, kemudian setelah saya menikah (dengan istri saya yang lingkungannya selalu melaksanakan tahlilan) saya diajak untuk menghadiri tahlilan. Saya berpikir dalam hati apakah ini bid’ah atau bukan. Kemudian saya membulatkan tekad untuk menghadiri tahlilan dengan niatan untuk mendoakan sesama muslim dan juga doa2 yang dilantuntan dalam acara tahlilan.
    Dengan dasar pemikiran seperti ini, aturan tahlilan yang mengharuskan 100 hari,1000 hari atau berapapun hari untuk mebacakan tahlil bersama2 kepada mayit jelas tidak dituntunkan oleh alquran maupun hadist dan itu jelas ditolak karena memang tidak ada tuntunannya. Namun untuk mendoakan sesama muslim itu memang jelas dianjurkan, maka dari itu saya membulatkan tekad untuk menghadiri tahlilan dengan dasar mendoakan sesama muslim dan tidak diniatkan tahlilan harus di waktu2 tertentu.
    Kemudian saat saya pertama kali melaksanakannya, tahlilan dipimpin oleh kyai sesepuh daerah tersebut. (saya kurang memperhatikan doa2 apa yang dilantunkan namun intinya baik) Kemudian masuk ke “tahlilan”nya dengan pembacaan Laailaahaillallah. Namun apa yang saya dapati, kyai tersebut memimpin untuk membaca lailahaillallah. Pelafalannya dipisah2 la-ila-ha-illallah. Pembacaan lailahaillallah tentu memilik makna yang berbeda jika dibanding laa ilaaha illallah, pelafalan “Laa”(panjang) dengan “La”(pendek) tentu punya makna yang berbeda, CMIIW. Bahkan pelafalan amin antara amin dengan aamiin juga berbeda maknanya. Kemudian saat pelafalan kalimat Laailaahaillallah dilakukan dengan teknik tertentu yaitu dengan geleng2 kepala dan itu dicontohkan oleh kyai tersebut. Saya berfikir untuk apa gerakan tersebut??
    Saya teringat ajaran guru madrasah saya waktu kecil, saya sekolah madrasah dengan basic NU. Guru saya mengatakan bahwa tahlilan itu dibawa oleh wali songo. Wali songo datang untuk menyebarkan ajaran agama islam, yang waktu dulu masih banyak penduduk indonesia yang bergama Hindu/budha. Wali songo menyebarkan islam dengan cara yang sangat halus, yaitu menyelipkan sedikit ritual Hindu/budha didalamnya agar penduduk setempat mau memeluk agama islam dan tidak merasakan perbedaan yang dignifikan. Dan dalam agama yg lama terdapat tradisi memuja tuhan dengan lafal tertentu dengan cara pelaksanaan yang sama dengan apa yg dilakukan saat tahlilan sekarang, yaitu dengan geleng2 kepala dan juga pelafalannya dipisah seperti pengucapan la-ila-ha-illallah yang dilaksanakan saat tahlilan.

    pertanyaan saya:
    1. apa boleh kita menegur mengenai salah pelafalan saat mengucapkan Laailaahaillaah, meskipun memang yg melaksanakan itu maksudnya mengucapkan Laailaahaillallah dengan makna yang sebenarnya. apakah dalam islam pelafalan yang salah diperbolehkan selama maksudnya tidak salah?
    2. Apakah kita tidak dipersalahkan melakukan gerakan “geleng kepala” pada saat melafalkan tahlil. CMIIW ada hadist yg mengatakan : barang siapa menyerupai suatu kaum berarti dia telah masuk dalam kaum tersebut (maaf saya tidak begitu hafal detail hadistnya), lalu bagaimana cara kita supaya tidak menyerupai kaum sebelumnya yg notabene Hindu/budha. Apakah masih masuk dalam toleransi diperbolehkan jika hanya menyerupai tindaka/gerakan suatu kaum. Atau kita dipersilakan/diperbolehkan untuk menegur atau bagaimana?

    Mohon pencerahan dan maaf klo comment saya tidak berkenan, saya masih perlu banyak belajar….

    Wassalamualaikum

    • maaf ada penambahan lagi, kata guru saya sewaktu saya madrasah, wali songo belum selesai misinya untuk menyebarkan agama islam secara utuh (sekarang masih ada unsur2 selain islam) namun beliau2 sudah meninggal dunia, tinggal umat berikut2nya yang mengemban tugas untuk melanjutkannya…
      mohon pencerahannya.

      wassalamualaaikum

    • sahabatku, yang dirahmati Allah, semoga kemuliaan tercurah untukmu..

      1).belajar itu mempunyai adab, dan adab itu penting dalam mempelajari ilmu,begitupun dengan dzikir sekiranya hati-hati dalam pelafadzaanya..
      Orang yang berdzikir hendaknya berhati-hati dalam melafalkan kalimat Tauhidy La Ilaha IllaLlah ini, jangan sampai terjadi salah ucap. Karena kalimat ini bersumber dari al-Qur’an. Maka harakat Lam yang ada pada La Nafi dibaca panjang secukupnya, Hamzah yang ber-kasrah dibaca dengan jelas tanpa dipanjangkan sama sekali, kemudian Lam setelahnya pada lafal Ilah dibaca panjang dengan mad thabi’i, dan Ha’ yang jatuh setelahnya dibaca fathah tanpa dibaca panjang. Kemudian Hamzah yang ada pada istisna’ di-kasrah dengan dibaca ringan tanpa dipanjangkan, dan Lam Alif setelahnya juga tidak dipanjangkan. Dan lafal Jalalah (Allah) Lam-nya dipanjangkan dan berhenti pada Ha’ dengan di-sukun bila di-waqaf-kan. Demikian pula hendaknya tidak memanjangkan huruf Ha’ dari lafal Ilah, yang akibatnya mengubah bacaan al-Qur’an. Demikian pula mengucapkan huruf Ha’ pada lafal Jalalah (Allah) hendaknya tidak dibaca panjang, yang akan memunculkan huruf wawu,

      tapi tidak menafikan bener ato salahnya bacaan tersebut,karena dia mau berdzikir saja itu hal yg luar biasa, barangkali lidahnya susah mengucapkan Laailaahaillallah dengan fasih, sehingga semampunya dia berusaha cuma bisa sebatas itu dan berbagai macam lainyya.. masalah bener ato salah itu kehendak Allah yang menilai, seyogyanya kita sudah berusaha melafadkan sebaik mungkin sebisa kita.

      sampeyan pernah dengar seorang kyai, yg diberi ijayah oleh gurunya untuk melafadzkan ya hayyu ya qoyyum, tp apa karena mungkin pendengarannya kurang baik dan sebagainya yg didengar malah ya kayuku ya kayumu, jelas kan dalam lafadz ini sudah salah besar baik huruf dan makrodnya, tapi apa karena hatinya mantap, khusuk, yakin, itu cara dia mengingat Allah swt, Allah beri kemulian ia bisa berjalan diawang-awang diatas air, subhanaallah.

      pernah mendengar cerita mbah kh kholil bangkalan gak ?

      Suatu hari menjelang sholat magrib. Seperti biasanya Kiai Kholil mengimami jamaah sholat bersama para santri Kedemangan. Bersamaan dengan Kiai Kholil mengimami sholat, tiba-tiba kedatangan tamu berbangsa Arab. Orang Madura menyebutnya Habib. Seusai melaksanakan sholat, Kiai Kholil menemui tamunya, termasuk orang Arab yang baru datang itu. Sebagai orang Arab yang mengetahui kefasihan Bahasa Arab. Habib menghampiri Kiai Kholil seraya berucap ; Kiai, bacaan Al- Fatihah antum (anda) kurang fasih tegur Habib. Setelah berbasa-basi beberapa saat. Habib dipersilahkan mengambil wudlu untuk melaksanakan sholat magrib. Tempat wudlu ada di sebelah masjid itu. Silahkan ambil wudlu di sana ucap Kiai sambil menunjukkan arah tempat wudlu.

      Baru saja selesai wudlu, tiba-tiba sang Habib dikejutkan dengan munculnya macan tutul. Habib terkejut dan berteriak dengan bahasa Arabnya, yang fasih untuk mengusir macan tutul yang makin mendekat itu. Meskipun Habib mengucapkan Bahasa Arab sangat fasih untuk mengusir macan tutul, namun macan itu tidak pergi juga. Mendengar ribut-ribut di sekitar tempat wudlu Kiai Kholil datang menghampiri. Melihat ada macan yang tampaknya penyebab keributan itu, Kiai Kholil mengucapkan sepatah dua patah kata yang kurang fasih. Anehnya, sang macan yang mendengar kalimat yang dilontarkan Kiai Kholil yang nampaknya kurang fasih itu, macan tutul bergegas menjauh. Dengan kejadian ini, Habib paham bahwa sebetulnya Kiai Kholil bermaksud memberi pelajaran kepada dirinya, bahwa suatu ungkapan bukan terletak antara fasih dan tidak fasih, melainkan sejauh mana penghayatan makna dalam ungkapan itu.

      jika ingin meluruskan, monggo silahkan tentunya dengan cara yg lembut, yg ma’ruf, yang bijaksana dengan catatan sudah baikkah pengucapan kita pada kalimat toyyibah tersebut, sudah menembus hati kita belum, to kata itu hanya sebagi lafadz saja tapi tidak menyentuh hati, bisa jadi orang yg tidak fasih itu lebih khusuk bacaaanya daripada kita, silahkan jika mau diingatkan, toh saling mengingatkan itu sejatinya baik kok,

      2).mengenai geleng-geleng kepala, orang-orang menggeleng-gelengkan kepala ketika berdzikir. Ternyata setelah dipertanyakan asal-usul gerakan tersebut, jarang sekali yang dapat menerangkan. Jangan-jangan hal itu merupakan pengaruh tradisi Yahudi dan sebagainya?

      Atau memang murni ajaran Rasulullah SAW. mengingat belum ditemukan hadits yang menerangkan hal itu. Hanya saja sebagian masyarakat mengakui bahwa gerakan itu mempermudah konsentrasi dalam berdzikir. Tentunya hal ini sangat bernilai positif, ya boleh saja.

      saya pernah mndengar cerimah kh achmad asrori, menggelengkan kepala tu ada ketentuannya kok, hendaknya bacaan La Ilaha IllaLlah naik dari atas pusar, kemudian menuju ke nafsu yang terletak di antara dua lambung, kemudian menyambungkannya dengan hati (jantung) yang ada di antara tulang dada dan pencernaan, dan menolehkan kepalanya ke arah kiri dengan disertai kehadiran hati yang maknawi di dalamnya.
      sungguh jika kamu ingin selengkapnya ni dowload videonya http://www.youtube.com/watch?v=GDgU9PdcxOU
      dan pahami spaham-pahamnya..

      mengenai ini,
      ” من تشبه بقوم فهو منهم ”

      Yang artinya: “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum itu”.

      Sekarang yang jadi pembahasan dari hadits di atas adalah; jikalau makna hadits ini mutlak (semua aspek), maka hampir seluruh orang Islam telah masuk ke dalam golongan orang-orang non Islam alias kafir, karena hampir semua kebutuhan orang Islam menyerupai mereka, mulai dari berpakaian sampai penggunaan alat-alat canggih penemuan mereka. Maka, apa sih sebenarnya maksud dari hadits di atas?

      Menyerupai atau meniru dalam berpakain dan penggunaan alat-alat canggih yang telah digunakan oleh orang-orang non muslim tidak akan menjadikan seorang muslim keluar dari agamanya alias murtad. Karena kanjeng Rasul telah bersabda:

      ” ان الله لا ينظر الي صوركم ولا اجسا مكم ولكن الله ينظر الي قلو بكم ”

      Yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk rupa ataupun bentuk badan kamu sekalian akan tetapi Allah melihat hati kamu sekalian”.

      Kemudian Allah juga menegaskan didalam al-Quran :

      ” يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر ”

      Yang artinya;” Allah menghendaki kamu sekalian kemudahan dan tidak menghedaki kamu sekalian kesulitan” (QS: Al-Baqarah : 185).

      ini sesuai dengan hadits Rasulullah :

      ” يسروا ولا تعسروا “

      Yang artinya: ”Permudahlah (urusan kamu sekalian) dan jangan kamu persulit”.
      menyerupai zahir suatu kaum tidak selalu merupakan indikasi terhadap adanya persamaan teologi dengan mereka yang ditiru. Tidak pula merupakan bentuk pengakuan akan superioritas orang yang ditiru, atau indikasi cinta kepada yang ditiru.

      Adapun hadits di atas sesungguhnya memuji orang-orang jelata yang menyerupai atau meniru orang-orang shalih dalam keseharian mereka. Karena seorang penyair mengatakan:

      ” تشبهوا بالكرام إن لم تكونوا مثلهم # إن التشــبه بالكــرام فـلاح ”

      Yang artinya: Walau tak ada kesamaan, tirulah orang-orang mulia Walau sekedar tiruan, yakinlah anda akan jaya!.

      Jadi, hadits di atas jangan ditafsirkan jauh-jauh. Karena orang yang berniat buruk tidak akan mendapat dosa sebelum melakukannya, sedangkan orang yang berniat baik sudah dapat pahala sebelum melakukannya. Begitu juga orang yang meniru orang kafir, tidak akan dinilai kafir jika tidak disertai niat (kesamaan keyakinan), sementara orang yang meniru orang shalih (walau zahirnya saja), insya’allah dapat juga gelar shalih.

      Kesimpulannya; meniru dan menyerupai kaum non-muslim sangat diperbolehkan selama tidak menyerupai dalam aqidahnya,seperti contoh sederhana tidak membuka aurat dan tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

      Wala haula wala quwata illa billah.

      semoga bermanfaat.

  36. saya hanya mau tanya satu hal td admin mnyebutkan bahwa 7hr sampa 1000 hari itu bukan dr islam tp dari hindu..yg ingin saya tnyakan apakah islam kurang sempurna sehingga hrs mngambil syariat hindu padahal setahu saya islam itu sudah sempurna sehingga tdk perlu ditambah syariat lagi ……pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agama-mu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa’idah: 3] terus mengapa kita mau menambah syariat sendiri…????

    • sahabatku semoga engkau dirahmati Allah

      jangan salah menafsirkan al maaidah ayat 3
      siapa yang membuat syariat sendiri ? apakah anda paham apa arti syariah ?
      siapa juga yang mengambil syariat agama lain ?
      yang dasar-dasar saja anda masih bingung menafsirkannya, untuk itu hendaklah banyak belajar.

      sahabatku.

      Syariat Islam (Arab: شريعة إسلامية Syariat Islamiyyah) adalah hukum dan aturan Islam yang mengatur seluruh sendi kehidupan umat Muslim. Selain berisi hukum dan aturan, syariat Islam juga berisi penyelesaian masalah seluruh kehidupan ini. Maka oleh sebagian penganut Islam, syariat Islam merupakan panduan menyeluruh dan sempurna seluruh permasalahan hidup manusia dan kehidupan dunia ini.

      sumber hukum islam ada 3
      -alquran
      -hadist
      -ijtihad ((Ijma’, kesepakatan para-para ulama).(Qiyas diumpamakan dengan suatu hal yang mirip dan sudah jelas hukumnya),(Maslahah Mursalah, untuk kemaslahatan umat).(‘Urf, kebiasaan))

      pahami itu dulu,…ulama ahlussunnah waljamaah berpedoman pada itu semua, tidak sekedar alquran dan hadist,

      Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw : “Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid;ah dhalalah.

      Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yg membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yg tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal hal yg baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yg tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat : “ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM..dst, “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”, maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yg baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam,

      bila yg dimaksud adalah tidak ada lagi penambahan, maka pendapat itu salah, karena setelah ayat ini masih ada banyak ayat ayat lain turun, masalah hutang dll, berkata para Mufassirin bahwa ayat ini bermakna Makkah Almukarramah sebelumnya selalu masih dimasuki orang musyrik mengikuti hajinya orang muslim, mulai kejadian turunnya ayat ini maka Musyrikin tidak lagi masuk masjidil haram, maka membuat kebiasaan baru yg baik boleh boleh saja.

      namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yg bertentangan dg syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa apa yg sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau saw : “Barangsiapa yg membuat buat hal baru yg berupa keburukan…dst”, inilah yg disebut Bid’ah Dhalalah.

      Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yg baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dg hal yg ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yg buruk (Bid’ah dhalalah).

      sahabatku yang aku cintai karena Allah.

      Tidak Mungkin Agama Terlepas dari Tradisi Lokal” (tradisi/adat lho, bukan syariat) syariat mereka kan menyembah berhala, apakah orang islam menyembah berhala, tidak kan, pahami itu saja dulu, ok ) yang termuat dalam majalah Afkar sebagai berikut: “bagaimana sebenarnya pandangan Nahdlatul Ulama terhadap tradisi local ? NU termasuk organisasi Islam yang bisa menerima tradisi lokal. Bahkan bisa dikatakan lebih bisa menerima tradisi lokal ketimbang beberapa organisasi islam yang lain. “Agama apa sih yang bisa diterapkan tanpa pengaruh dan percampuran dengan tradisi lokal ? itu tidak mungkin. Karena agama itu untuk manusia dan manusia dimanapun selalu dipengaruhi oleh lingkungannya”.Dengan dicontohkan “waladun shalihun ya’du lahu” di Indonesia waladun shalihun dirangkaikan dengan cara ritual tahlilan. itu baik (untuk merubah tradisi, adalah dengan tradisi baru. bukan syariat kali, syariat kan sudah jelas… semoga engkau paham),

      sahabatku apakah anda tidak pernah membaca sejarah rosul menyuruh berpuasa pada 10 muharamm ? yang merupakan adat dan tradsi orang yahudi berpuasa pada hari itu ? apakah ini tidak bisa dijadikan acuan ? coba jawab ? apakah anda paham apa definisi SUNNAH ?

      Sunnah (kependekan dari kata Sunnaturrasul, berasal dari kata sunan yang artinya garis) dalam Islam mengacu kepada sikap, tindakan, ucapan dan cara Rasulullah menjalani hidupnya atau garis-garis perjuangan / tradisi yang dilaksanakan oleh Rasulullah. Sunnah merupakan sumber hukum kedua dalam Islam, setelah Al-Quran.

      sebagaimana Rasul saw meniru adat yahudi yang berpuasa pada hari 10 muharram, bahwa Rasul saw menemukan orang yahudi puasa dihari 10 muharram karena mereka tasyakkur atas selamatnya Musa as, dan Rasul saw bersabda : Kami lebih berhak dari kalian atas Musa as, lalu beliau saw memerintahkan muslimin agar berpuasa pula” (HR Shahih Bukhari hadits no.3726, 3727).

      islam itu sudah sempurna sahabatku, yang tidak sempurna adalah pemahamam kita tentang islam,
      tahlilan, maulidan, yasinan menurut jumhur ulama ahlusunnah waljamaah adalah hal yang sangat baik, yang harus dilestarikan.
      hanya golongan mahzab sempalan abad ini saja yang berusaha, mngusik permasalahan yang sudah dibahas ulama-ulama pada masa lalu,
      golongan sempalan yg tidak mengakui mahdzab 4 yng mencoba membuat mahzab sendiri dg sebutan mazhab wahabi, (golongan sesat yang menyesatkan) dengan slogan permurnian aqidah kembali pada alquran dan hadist, hati-hati dengan golongan ini.

      semoga kita dijauhkan dari golongan yg tidak baik itu, semoga kita termasuk dalam golongan ahlussunnah waljaamah..

      semoga jawaban ini bermanfaat.

  37. Sekedar saran….. siapapun/aliran apapun yg berkomentar dengan nada menghina pemahaman lainya baiknya dihapus kalo memang menginginkan persatuan umat …. terima kasih

  38. Betul sekali.jgn saling menghina.walaupun beda.tetap dijaga lisanx,walau hati membara.okay.khoir insya ALLAH.BAROKALLAHU FIIKUM.YA ALLAH,tuntunla kami ke jalan MU yg hanif.amin

  39. Assalamualaikum wr wb, alhamdulillah menambah pemahaman saya, trimakasih sedulur, namun bagi wahabi walaupun diberikan panjanglebar selualangit dan bumi tidak akan mw menerima, yg mana sudah terlampau sombong, amit-2 jabang bayi, trimakasih wassalamualaikum

  40. saya justru sedang menggalakan tahlil dan yasin setiap malam jumat manfaat sungguh luar biasa bisa dirasakan sama saya sendiri dan jamaah, bagi yang belum pernah tahlilan jangan sekali kali bilang bid’ah kalau mau ayo sama sama kalau beda pendapat silahkan aja saya pun sangat menghargai pendapat saudara sekalian.

  41. Pingback: istiqomahkan Tahlilan | Seuntai mutiara nan maha luhur, sehatkan hati, segarkan ruhani, raih kehidupan imani.

  42. maaf saya keluar tema dikit..
    Saya ingin tanya kenaph setiap saya cari di google tentang tahlilan yg timbul banyak yg anti tahlil..?
    knph yg timbul faham wahaby2 lg, dan yg saya khawatirkan banyak yg awam tentang agama terbawa dgn faham2 mereka..?
    aph situs yg adaa di google semua ampir di kuasai faham wahaby..?
    Saya ttp ingin belajar Istiqomah dlm Ahlussunnah WalJama’ah..Syukron Afwan..

    • ya memang begitulah adanya sahabatku, insyaAllah masih banyaknya para habaib, para kyai, para ulama dan para ustadz-ustadz ahlussunnah waljamaah yang akan berupaya meluruskan fitnah-fitnah yang mereka hembuskan untuk jadi perselisihan ummat.

      semoga allah meridhoi. amien

  43. Salam ukhuwwah dari tetangga dari Malaysia,
    1) Saya kira tidak tepat jika dikatakan amalan tahlil ini bermula dari Wali Songo dan para penentang selalu mengatakan bahawa amalan ini adalah satu budaya yang diada-ada kan untuk mengganti adat hindu sebelum Islam, maka membuat kesimpulan bahawa amalan tahlil ini adalah satu amalan yang tiada asasnya dan sesuatu yang bid’ah. Saya pernah terbaca satu artikel bahawa amalan yang seumpama tahlil ini telah bermula sejak awal lagi dan diamalkan di wilayah2 Islam sejak kurun awal Islam. Tetapi sekarang saya tidak lagi mempunyai artikel tersebut, harap2 mas temon bisa cari di internet.
    2) Golongan penentang yang mengkritik amalan baca Yasin malam jumaat ini jika diteliti mereka ini tidak suka baca Quran, dan mungkin disebabkan hasad dengki mereka pada orang yang suka baca Quran maka nya di jatuhkan hukum bid’ah.

    Wallahua’lam

  44. Aku gak mau tahu apa kata kamu
    aku gak peduli apakah tahlilan, yasinan, maulidan itu Bid’ah ato bukan
    aku gak mau tau apakah ziarah kubur itu syirik atau bukan
    aku gak mau melafalkan niat sholat apakah juga bid’ah ato bukan
    aku gak mau tau baca qunut itu bid’ah ato bukan

    dan aku lakukan itu semua
    karena guru-guru aku mengajari aku seperti itu
    aku mengikuti apa yang diajarkan guru-guruku
    karena aku tahu guruku punya guru
    dan gurunya guruku juga punya guru
    hinngga bersanad sampai nabi saw ku

    aku gak mau pusing dengan orang-orang yang mengkafir-kafirkan aku
    memusyrik-musrikan aku
    yang pasti…
    aku bersaksi Tiada Tuhan Selain Allah
    aku bersaksi Bahwa Nabi Muhammad utusan Allah…

  45. Asslmkm saudrqu smua yg drohmti allooh swt.imam malik rha.brkta brgsiapa mghina sahabat nabi saw.hukumxa kafir,jgan dduk dlm mjlis mrka,jgan brtmn dgn mrka,jgn bca bku”mreka dan halal drahxa di tumpahkn. Siapa yg brni mghina para sahbat nabi saw?kcuali wahabi.mhon maaf klo brlbhan.ilmu tanpa sanad apa jdixa???pasti ksstan.

  46. mungkin klo saya bisa berpendapat,
    semua yang kita diskusikan merupakan tata caranya
    yasin boleh, kan surat yasin jga ada didalam AlQuran Nur kharim
    tahlil boleh saja, tapi kan ga hrus di 7hari,100hri,1000hri, bla bla bla
    mendoakan itu boleh dan d anjurkan bukan?
    tpi yg selalu diingat
    orang meninggal meninggalkan 3 perkara bukan,
    semua org akn mengalami mati. Dan apabila kita mati, maka terputuslah segala amalan kita melainkan 3 perkara.
    Sabda Nabi Muhammad S.A.W.
    “apabila mati seseorang anak adam itu .. maka akan terhenti segala amalanya kecuali 3 perkara iaitu sedakah jariah, ilmu yang memberi guna, doa anak – anak yang soleh”
    dan harapan kita adalah menjadi anak yang sholeh, dan memiliki anak2 yang sholeh
    Aamiin

  47. Assalamualaikum ya akhi,

    Senang rasanya ada saudara saya dari Nahdliyin yang mengupas mengenai masalah tahlilan dan lain-lain. Kebetulan saya bukan berlatar belakang NU namun tinggal di daerah mayoritas NU. Saya melihat masalah tahlilan bukan hanya dari segi dalil ataupun masalah bidah atau tidak. Kalo membaca tahlil, saya yakin semua umat islam setuju kalo itu ibadah yang baik. Begitu juga dengan bersodaqoh dll.

    Hanya sungguh sayang beribu sayang, banyak umat kita yang salah mengartikan hal-hal tersebut dan melihat misal:tahlilan sebagai suatu hal yang “harus” dilakukan sehingga menimbulkan kesan kalo tidak melakukan tidak benar. Maka itu yang jadi Bidah. Alangkah baiknya dilakukan pendekatan yang lain misalnya memberi contoh bahwa tidak pakai tahlilan tidak mengapa, atau misalnya bukan tahlilan tetapi diganti pengajian untuk mengingat kematian yang diakhiri dengan doa. Kemudian makanan bukan berasal dari ahli waris tapi dari yang diundang agar menghibur ahli waris yang sedang bersedih. Atau diadakan pada hari ke 10, 17 dll sehingga tidak memberi kesan harus hari2 tsb.Hal itulah yang mungkin harus diberitahukan ke masyarakat luas sehingga pemahamannya menjadi baik.

    Mohon maaf, saya pernah melihat di daerah saya tahlilan diadakan habis maghrib sehingga memotong waktu Isya dan tetap diteruskan. Padahal sholat berjamaah Isya lebih utama dibandingkan tahlilan. Mungkin contoh seperti itu yang tidak pantas.

    Wallahu a’lam

    Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

  48. saya mau nanya mas, gimana anda menjelaskan tentang hadist nabi yg berbunyi ” kullu bid’atin dholalah” artinyaa “setiap bid’ah adalah sesat” mohon jawabannya, karna saya juga termasuk orang yg membid’ahkan tahlilan dll, tapi kalo dengan sholawat dan mengirimkan do’a kepada orang yg sudah meniggal saya melakukannya

Comments are closed.