حاسبوا قبل ان تحاسبوا
“Koreksilah diri kalian sebelum kalian dikoreksi (dihisab)”

Kalau kita ingin melihat wajah kita sendiri, biasanya kita bersendiri dg kaca ajaib yg lazim disebut cermin. Dari cermin itu kita bisa melihat dengan jelas apa saja yg ada diwajah kita, baik yg menyenangkan atau yg tidak; bahkan mungkin yg membuat kita malu. Dengan cermin kita mematut-matut diri, barangkali karena itulah hampir tdk ada rumah yg tdk mnyimpan cermin. Sebab hampir semua orang ingin dirinya patut.

Tanpa bercermin kita tdk bisa melihat noda yg ada pada diri kita, dan tanpa melihat sendiri noda itu bagaimana tergerak menghilangkannya. Didalam islam ada dawuh “almu’muni miraatul mu’min” orang mukmin adalah cermin mukmin yg lain. “Inna ahadakum miraatu akhiihi” sesungguhnya salah seorang diantara kamu adalah cermin saudaranya. Artinya masing masing orang mukmin bisa atau seharusnya menjadi cermin untuk mukmin yg lain.

Seorang mukmin dapat menunjukkan noda saudaranya, agar saudaranya itu bisa menghilangkanya. Dalam pengertian lain untuk mengetahui noda dan aib kita, kita bisa bercermin pada saudara kita.

Umumnya kita hanya dan biasanya lebih suka melihat noda dan aib orang lain. Sering justru karena kesibukan kita melihat lihat aib – aib orang lain, kita tidak sempat melihat aib aib kita sendiri.

Di era medsos dengan keterbukaan segala informasi, banyak sekali aib-aib maupun berita provokatif yg dengan mudah orang tinggal klik share lalu dinikmati ribuan orang kemudian estafet berdampak luas akibatnya timbul keresahan masyarakat, mirisnya seringkali tanpa melalui proses tabayun/klarifikasi maupun pencarian informasi yg lebih akurat tentang kebenaran berita-berita itu.

Jika ada yang berbeda pendapat menyikapi itu dengan argumentasi dan klarifikasi yg bisa dipertanggungjawabkan seringkali tidak di indahkan karena lebih percaya dg berita kebohongan yg sudah berjamaah dinikmati banyak orang.. kan kita kenal ada istilah “kebohongan yg dibenarkan orang banyak akan menjadi sebuah kebenaran yg diakui”

MIRIS SEKALI…

seperti kita ketahui, melihat orang lain adalah lebih mudah dari pada melihat diri sendiri. Marilah kita lihat orang lain. Kita lihat aib-aib dan kekurangannya, lalu kita rasakan respons diri kita sendiri terhadap aib aib dan kekurangan orang lain itu.

Namun kadang memang kita tidak mempunyai waktu untuk sekedar bercermin, melihat diri sendiri hal ini mungkin disebabkan oleh EGO kita yg keterlaluan menganggap bahwa yg penting hanya diri kita sendiri, sehingga melihat orang lain apalagi merasakan perasaannya kita anggap tdak penting.

Apalagi yg sekarang sedang mewabah virus “KEBENCIAN” yg banyak mmbuat orang tdk bisa bersikap adil dalam sikap, pandangan dan pendapatnya.

Orang lain kita anggap figuran, kitalah bintang utama. Ada sebuah hadist sahih yg sering orang khilaf mengartikannya.

Berbunyi ” laa yu’minu ahadukum hatta yuhibbu liaakhihi ma yuhibbu linafsihi” banyak yg khilaf mengartikan dg “belum benar benar beriman salah seorang diantara kamu sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri” pemaknaan ini kelihataanya benar, tapi ada yg terlewatkan dalam mencermati redaksi hadist tersebut. Disana redaksinya yuhibbu liakhiihi (mencintai untuk saudaranya) bukan yuhibbu akhsanu ( mencintai saudaranya) jadi, semestinya diartikan ” belum benar benar beriman salah seorang diantara kamu sampai dia senang atau menyukai untuk saudaranya apa yg dia senang atau menyukai untuk dirinya sendiri” artinya apabila kita senang atau mendapat kenikmatan, kita harus “bila ingin menjadi sebenar benarnya mukmin” juga senang/suka bila saudara kita mendapat kenikmatan.

Bila senang diperlakukan baik, kitapun harus senang bila saudara kita diperlakukan baik, apabila senang jika tdak diganggu maka kita harus senang bila saudara kita tdak diganggu.

Maka medsos bisa jadi miniatur cermin kita sehari hari, miniatur sikap dan pandangan kita dalam menyikapi semua berita berita yg beredar.
Maka disinilah gunanya bercermin, orang selalu bercermin akan nampak indah, akan berhati-hati, akan menjaga perasaan saudaranya. apalagi yg nampak itu aib aib kita yg begitu banyak daripada aib yg ia lihat pada saudaranya.

Maka benar nasehat guruku.

“Setiap manusia memiliki kelemahan dan kekurangan, lihatlah orang lain karena kelebihannya dan lihatlah dirimu karena kekuranganmu, jadilah orang yang baik tapi jangan merasa baik”

| SahabatDuniaAkherat

Advertisements

One thought on “Koreksilah Sebelum Dikoreksi

Tinggalkan Balasan