KAYU GUNG SUSUE ANGIN  [Kayu Besar Rumahnya Angin]
Oleh : Cahaya Gusti
Dalam Serat Dewa Ruci dikisahkan ketika Bima akan menjalani proses perjalanan spritual, suatu ketika  Bima berdialog dengan gurunya yaitu Guru Durna.
Rsi Durna berkata kepada Bima, “Hemm, baiklah. Pertama-tama, kamu harus bisa menemukan Kayu Gung Susuhing Angin.”
“Apa maksudnya aku harus menemukan terlebih dahulu Kayu Gung Susuhing Angin itu, Guru?” Jawab Bima.
“Aku sendiri tidak mengetahui persisnya, Ngger. Hal itu merupakan isyarat dari Dewa.” Sahut Guru Durna.
“Kalau begitu tunjukkanlah di mana aku bisa mendapatkannya, Bapa Guru.”
Guru Durna Menjawab, “Lihatlah ke atas sana, Ngger. Yang terlihat jelas dari sini itu adalah puncak Gunung Candramuka. Di sanalah tempat Kayu Gung Susuhing Angin itu berada, anakku.”
Kayu Gung itu berasal dari kata al-Hayyu yaitu Dzat Yang Maha Hidup, sedangkan Gung itu artinya adalah Yang Maha Besar, jadi Kayu Gung di sini adalah Allah Swt. yang Maha Agung atau Allahu Akbar.

Adapun Susuhing Angin itu artinya rumahnya angin atau udara, yaitu keluar masuknya nafas. Sedangkan gunung candra dimuka adalah perumpamaan; gunung artinya hidung yang lobangnya ada dua, candra artinya penglihatan, muka adalah wajah.
Jadi jika ingin mencari Tuhan maka lakukan dengan cara dzikir nafas atau meditasi merasakan keluar masuknya nafas lewat Hidung.
Meditasi nafas itu termasuk ajaran spiritual yang universal, dalam agama Hindu dikenal dengan Pranayama yaitu pengaturan nafas keluar masuk paru-paru melalui lubang hidung dengan tujuan menyebarkan prana (energi) ke seluruh tubuh.
Dalam agama Buddha disebut dengan Meditasi Anapanasati yaitu meditasi yang fokusnya hanya merasakan keluar dan masuknya nafas dalam hidung. Tanpa adanya pengaturan atau rekayasa nafas.
Sedangkan dalam tasawuf meditasi nafas disebut dengan Hifdzul Nafas  atau dzikir nafas yaitu menjaga keluar –masuknya nafs sambil mengingat Allah. Tehnik ini juga dikenal dengan dzikir nafas, Oleh karena itulah para sufi mengingatkan bahwa:

أفضال الطاعة حفظ الأنفس, دخولها وخروجها بذكر الله

“ Paling utamanya  tha’at kepada Allah adalah menjaga nafas. Yakni masuk dan keluarnya disertai dengan dzikir kepada-Nya.”
Dikalangan Ulama Sufi bahwa nafas adalah kembaran Ruh. Ruh adalah hakikat dan nafas adalah syariatnya di alam ini. Ruh diibaratkan kapal dan ombak bagaikan nafas. Jika ombak tenang maka tenanglah perjalanan kapal, begitu juga dengan Ruh, jika nafas seorang tenang, maka ia memberi kesan pada ruhnya. Oleh sebab itu apabila pernafasan itu baik dan benar maka akan baik pulalah perjalanan ruh dengan Tuhannya.
Dalam al-Qur’an juga dikisahkan proses perjalanan spritual Nabi Musa ketika ingin melihat Tuhan-Nya:
وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke gunung itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya  gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. [QS. Al-A’afaf : 143 ]
Ta’wil dari ayat di atas adalah ketika Nabi Musa  ingin melihat Allah, justru disuruh melihat gunung, jadi gunung adalah simbul hidung manusia tempat keuar-masuknya nafas. Artinya jika kita ingin mencapai makrifatullah maka kerjakanah dzikir nafas.
Akhirnya Nabi Musa pingsan ketika Allah bertajalli (menampakkan) diri di Gunung tersebut. Pingsannya Nabi musa itu bukan pingsan biasa, melainkan kondisi fana’ atau leburnya hawanafsu manusia ketika berdzikir. Sehingga keakuan diri sudah hilang, tidak ada siapapun yang kelihatan, kecuali hanyalah Allah. Itulah hakekat Pingsan yang dialami oleh Nabi Musa as.

Advertisements

Tinggalkan Balasan