sahabatku semua yang aku sayangi karena Allah, saya teringat akan omongan teman saya” uang memang bisa untuk membeli segalanya tapi semuanya tidak bisa dibeli dengan uang” inilah fenomena kehidupan yang serba sulit, Salah satu fenomena sosial yang sering terjadi di lingkungan kita adalah banyaknya anggapan masyarakat bahwa hidup dengan bergelimang harta membuat hidup mereka lebih bahagia. Harta sering sekali membuat orang-orang di sekeliling kita mengagung-agungkannya. Ataupun sampai membuat mereka gila . tidak sedikit dari kita yang beranggapan dengan harta atau uang dapat menyelesaikan semua masalah, ya to tidak ?
bahkan, saat ini masih banyak masyarakat berpikir menjadi PNS ( maaf bukan bermaksud merendah pekerjaan mulia seorang PNS) dapat menjamin hidup enak. dan tak jarang berbagai cara dilakukan untuk mencapai semua itu, bahkan sampai money politik dsb kadang menyelimuti, Inilah yang menjadi permasalahan yang harus kita pikir bersama bagaimana cara mengatasinya,
ketahuilah sahabatku, kerancuan akan sulitnya hidup janganlah dipikir terlalu jauh, yang hari ini bisa kita lakukan maka lakukanlah yang terbaik sebisa mungkin, banyak orang yang sedih jika terus memikirikan masa depannya yang tidak jelas, padahal yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik dihadapan Allah, lah kenapa kita tidak bersandar kepada Allah ?
kenapa kadang kita bersandar dengan pekerjaan kita, gaji kita, jabatan kita, pangkat kita yang sebenarnya menjadikan kita khawatir setiap saat, kenapa kita tidak bersandar kepada Allah yang karenanya hati menjadi tenang dan bahagia
perlu kamu catat wahai sahabatku “tidak selamanya uang, harta, pangkat dan jabatan mendatangkan kebahagian” ingat tidak selamanya.. ingatlah itu
mari kita merenung dalam kisah dizaman para sahabat semoga kita bisa mengambil kisah yang tersirat didalamnya.
UMAR ibn Al Khattab sedang duduk di bawah sebatang pohon kurma. Serbannya dilepas, menampakkan kepala yang rambutnya mulai tipis di beberapa bagian. Di atas kerikil dia duduk, dengan cemeti imaratnya tergeletak di samping tumpuan lengan. Di hadapannya para pemuka sahabat bertukar fikiran dan membahas berbagai persoalan.
Ada anak muda yang tampak menonjol di situ. Abdullah ibn ‘Abbas. Berulangkali Umar memintanya bicara. jika perbedaan wujud, Umar hampir selalu bersetuju dengan Ibnu abbas. Ada juga Salman Al Farisi yang tekun menyimak. Ada juga Abu Zar Ghifari yang sesekali bicara berapi-api.

































































