merenungbismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang di rahmati Allah, 1 februari 2013, begitu cepat waktu berlalu, mohon maaf sekiranya update artikelnya semakin jarang, tapi akan saya usahakan satu minggu minimal satu artikel, maklum saya sendiri mencari inspirasi kemana-mana, dapat inpirasi kalau tidak segera ditulis maka yang tadinya teringat malah lupa, kemaren sempat menghadiri peringatan maulid bersama AL HABIB JINDAN BIN NOVEL BIN SALIM BIN JINDAN Juga dihadiri AL HABIB JA’FAR BIN ABDULLAH AL HADI dan AL HABIB MUHAMMAD BIN ALWI ALHADAD, sempat mendapatkan bahan yang bagus untuk perenungan bersama, poin-poinnya sudah saya ingat, namun penyakit malas memang yang paling membahayakan apa yang kemaren di ingat sekarang tinggal sisa-sisanya, “berlarilah terus, sampai kemalasan itu malas mengejarmu”

nah sahabatku, andai engkau tahu ? apa yang selama ini tidak engkau ketahui sahabatku ?

andai engkau tahu hidup ini singkat ? andai engkau tahu kenapa datang musibah ? andai engkau tahu mati bisa datang tiba -tiba ? andai engkau tahu dosa dosa yang sudah terlalu banyak engkau lakukan ? andai engkau tahu kapan tiba masamu ? andai engkau tahu harta tidak dibawa mati ? andai engkau tahu jabatan cuma datang lalu pergi ? andai engkau tahu semua itu tentunya engkau kan menjadi manusia yang mawas diri mengharap ridho illahi rabby

tahukah kamu wahai  sahabatku ?  andai engkau tahu…

sebuah kisah sahabat pada zaman Rasulullah saw, semoga engkau lebih tahu ..?

Seperti yang telah biasa dilakukannya ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.

Kemudian Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam berkata,”tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?” Istrinya menjawab, saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal” “Apa yang di katakannya?” “saya tidak tahu, ya Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.

“Bagaimana bunyinya?” desak Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam. Istri yang setia itu menjawab, “suami saya mengatakan “Andaikata lebih panjang lagi….andaikata yang masih baru…. andaikata semuanya….” hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?” Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam tersenyum.”sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru,”ujarnya.

– andai lebih lama..
– andai masih baru..
– andai semuanya
.
.

Rasul tersenyum dan menjelaskan bahwa suaminya adalah salah seorang sahabat yang di ridhoi Allah SWT. Lalu Beliau menjelaskan satu-satu makna dari kata-kata suaminya itu.

Andai lebih lama..
Dulu sebelum sahabat itu meninggal, pernah suatu waktu ketika dia akan melaksanakan sholat subuh. Dijalan dia bertemu dengan seorang kakek tua yang apabila kakek itu terjatuh sudah pasti tidak bisa bangun sendiri, dan kebetulan tidak ada orang disekitar situ hingga tidak akan ada yang menolongnya. Dengan penuh kesabaran dia menolong kakek itu dan menjaganya sampai tiba di mesjid, walaupun konsekuensinya adalah dia terlambat sholat berjamaah di mesjid.

Ternyata Allah ridha dengan perbuatannya dan saat sakaratul maut Allah perlihatkan besarnya balasan pahala yang diperolehnya, sehingga sahabat itu mengucapkan “andai lebih lama..”, maksudnya andai saja jarak ke mesjid masih jauh sehingga dia bisa menjaga kakek itu lebih lama dan balasan yang diperolehnya-pun lebih besar.

Andai masih baru..
Suatu malam yang sangat dingin sekali, sahabat itu melihat ada orangtua yang mengigil kedinginan saat dia akan pergi ke mesjid. Dia sendiri tidak terlalu dingin karena jaket yang dia pakai. Karena tidak tega melihat orang tua tersebut dengan ikhlas dia melepaskan jaketnya dan dipakaikan pada orangtua yang kedinginan tersebut. walaupun akhirnya dia sendiri yang akhirnya kedinginan.

Allah-pun ridho akan perbuatan sahabat tersebut dan saat sakaratul maut Allah perlihatkan besarnya balasan pahala yang diperolehnya, sehingga sahabat itu mengucapkan “andai masih baru..”, maksudnya andai saja jaket yang dia berikan itu jaket yang masih baru tentu saja balasan yang dia dapatkan lebih dari ini.

Andai semuanya..

Selepas bekerja dan sangat lapar sekali sahabat itu pulang kerumahnya dan didapatinya sebuah roti panas yang dihidangkan oleh istrinya. Saat akan menyantapnya tiba-tiba terdengar ketukan dari luar rumah. Setelah dilihat didapatilah seorang musafir yang meminta makan. Dengan ikhlas dia membagi makanan yang hanya cukup untuk satu orang itu.

Perbuatan dia ternyata diridhoi oleh Allah dan saat sakaratul maut Allah perlihatkan besarnya balasan pahala yang diperolehnya, sehingga sahabat itu mengucapkan “andai semuanya..”, maksudnya andai dia memberikan makanan itu semuanya tentu saja pahala yang dia peroleh akan lebih besar dari sekarang.

Begitulah Rasul menuturkan maksud dari ucapan sahabat tersebut sesaat sebelum dia meninggal kepada istrinya. Betapa besarnya balasan dari Allah bila kita ikhlas mau menolong, mau memberi dan mau menyisihkan waktu sejenak untuk membantu orang lain.
Karena itu Allah mengingatkan: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.” (surat Al Isra’: 7)

Berbahagialah kita yang senantiasa bisa menolong, bersedekah dengan apapun, dengan cara bagaimanapun dan kepada siapapun yang kita temui dimanapun. Berbahagia karena Allah telah memilih kita menjadi perpanjangan tangan-Nya dalam menyampaikan rizki-Nya. Subhanallah..

sahabatku semua yang dirahmati Allah

Sahabat, hidup ini seperti berjalan disebuah ‘ Eskalator Waktu ‘ yang terus melaju kedepan hingga ‘ Terminal Tarakhir ’, banyak kita yang lengah hanya menonton dan menikmati segala bentuk permainan yang ada di kanan kiri kita hingga tanpa terasa ternyata kita sudah sampai di Terminal Terakhir tanpa membawa bekal yang berarti karena sudah kita habiskan disepanjang perjalanan.

Padahal disepanjang perjalanan itu bukan hanya permainan saja yang dipertontonkan tetapi ada banyak peluang yang kita dapat terlibat untuk bisa mendapatkan banyak bonus agar di terminal terakhir nanti kita tidak kehabisan bekal bahkan berhamburan bonus dan bisa naik lagi di Eskalator Waktu Berikutnya yang lebih nyaman dengan fasilitas super mewah.

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan”. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan. (Qs. Al Mu’minuun : 99-100)

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?“ Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Munaafiquun : 10-11)

“Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim: “Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul.” (Kepada mereka dikatakan): “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?”(Qs. Ibrahim : 44)

“Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Quran itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu: “Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami,atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?.“ (Qs. Al A’raaf : 53)

“Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.“ (Qs. As Sajdah : 12)

“Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman“, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka.” (Qs. Al An’aam : 27-28)

“Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak ada baginya seorang pemimpinpun sesudah itu. Dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata: “Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?“ (Qs. Asy Syuura :44).

 

sahabatku semua yang dirahmati Allah,

para ulama membagi waktu menjadi 3 bagi

  • waktu lusa
  • waktu sekarang
  • waktu esok

Kita yakini bahwa segala yang ada di dunia ini adalah hanya sebuah titipan Yang Maha Kuasa. Rumah, perhiasan, mobil, motor, deposito, saham, perusahaan, anak, bahkan kesehatan pun adalah titipan yang harus kita jaga, ya gak kawan ?

“Allah bertanya, `Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi? Mereka menjawab, Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman, `Kalian tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kalian benar-benar mengetahui.”[ al-Mu`minun: 112-114 ] 

Ulama Al-Maraghi memberi penjelasan yang amat lugas dalam tafsirnya. Menurutnya, pertanyaan Allah kepada para penghuni neraka itu merupakan celaan dan penghinaan. Maksudnya supaya jelas bagi mereka bahwa kehidupan dunia yang mereka kira panjang sesungguhnya sangat singkat. Apalagi jika dibandingkan dengan azab berkepanjangan yang tengah mereka `nikmati’. Ini akibat ketika di dunia, mereka lalai akan akhirat dan tidak mempergunakan waktu dan kehidupannya sesuai hakikatnya.<

Hasan Al-Bana pernah mengatakan, “Waktu adalah kehidupan. Menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan kehidupan.” Begitu pentingnya waktu, sampai Allah bersumpah dengan waktu. “Wal `ashr, demi masa,” kata Allah dalam surat al-Ashr. Betapa Allah juga mementingkan waktu melalui sumpahnya yang lain dengan menggunakan satuan waktu yang lebih beragam. Misalnya, walfajri, demi waktu fajar (al-Fajr:1), wadhdhuha, demi waktu dhuha (Adh-Dhuha:1), wallaili, demi waktu malam (asy-Syams:3), wannahari, demi waktu siang (asy-Syams: 4).

Sesungguhnya di balik perhatian Allah terhadap waktu terdapat pesan penting buat manusia, yaitu agar mereka juga memperhatikan dan mempergunakan waktu sebagaimana mestinya yakni dengan beribadah secara total dan ikhlas kepada-Nya. Tentu saja untuk bisa memperlakukan waktu dengan semestinya itu harus ada pemahaman yang benar tentang keberadaan dan hakikatnya bagi kehidupan manusia.

sahabatku yang baik hatinya

kita tidak akan pernah bisa mengulang waktu yang telah berlalu. itulah kata kata yang sering kita dengar. betapa beruntung nya seseorang yang dapat memanfaatkan waktu dengan baik dalam hidup nya. so jangan tunda lagi kerjakan lah apa yang bisa dikerjakan sekarang,jangan tunda besok,,lusa ataupun nanti..karena waktu tidak akan pernah menunggu kita

Dalam ajaran Islam, disampaikan bahwa ciri-ciri seorang Muslim yang diharapkan adalah pribadi yang menghargai waktu. Seorang Muslim tidak patut menunggu dimotivasi oleh orang lain untuk mengelola waktunya, sebab sudah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Ajaran Islam menganggap pemahaman terhadap hakikat menghargai waktu sebagai salah satu indikasi keimanan dan bukti ketaqwaan, sebagaimana tersirat dalam surah Al-Furqan/25 ayat 62 yang berbunyi “Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.”

Syiar Islam menempatkan ibadah ritual pada bagian-bagian waktu dalam sehari dari siang hingga malam dan pada waktu-waktu tertentu dalam setahun. Sholat lima waktu diwajibkan dari memulai hingga mengakhiri aktivitas dalam sehari, dan waktu-waktunya selaras dengan perjalanan hari. Dalam syariat Islam dinyatakan, bahwa malaikat Jibril diutus oleh Allah untuk menetapkan waktu-waktu awal dan akhir pelaksanaan sholat lima waktu, agar menjadi panduan dan sistem yang baku dan cermat dalam menata kehidupan islami. Di samping itu, juga berfungsi untuk mengukur detik-detik sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Menurut Yusuf Qardhawi, mengapa begitu pentingnya umat Islam mempelajari manajemen waktu, adalah karena hal-hal sebagai berikut::

Ajaran Islam begitu besar perhatiannya terhadap waktu, baik yang diamanatkan dalam Al Qur’an maupun As Sunnah;
Dalam sejarah orang-orang Muslim generasi pertama, terungkap, bahwa mereka sangat memperhatikan waktu dibandingkan generasi berikutnya, sehingga mereka mampu menghasilkan sejumlah ilmu yang bermanfaat dan sebuah peradaban yang mengakar kokoh dengan panji yang menjulang tinggi;

Kondisi real, kaum Muslimin, belakangan ini justru berbalikan dengan generasi pertama dahulu, yakni cenderung lebih senang membuang-buang waktu, sehingga kita tidak mampu berbuat banyak dalam menyejahterakan dunia sebagaimana mestinya, dan tidak pula berbuat untuk akhirat sebagaimana harusnya, dan yang terjadi adalah sebaliknya, kita meracuni kehidupan dunia dan akhirat sehingga tidak memperoleh kebaikan dari keduanya.Jika kita sadar bahwa pentingya manajemen waktu, maka tentu kita akan berbuat untuk dunia ini seolah-olah akan hidup abadi, dan berbuat untuk akhirat seolah-olah akan mati esok hari, dan tentunya doa ini akan menjadi semboyan dalam hidup kita:

“ Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan perliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Al-Baqarah/2: 201)Di samping itu perlu kita sadari, bahwa Allah SWT telah bersumpah dengan menggunakan waktu untuk menegaskan pentingnya waktu dan keagungan nilainya, seperti yang tersurat dan tersirat dalam Al Qur’an Surah Al-Lail/92:1- 2, Al-Fajr/89:1- 2, Adh-Dhuha/93: 1-2, dan Al-‘Ashr/103: 1-2.

Oleh karena itu, harus kita sadari betapa pentingnya mempelajari manajemen waktu bagi seorang Muslim. Namun sebelum kita mempelajari manajemen waktu, maka perlu kita sadari terlebih dahulu beberapa tabiat waktu agar kita benar-benar dapat memahami esensi dari waktu tersebut, yakni: Cepat berlalu; Tidak Mungkin kembali; Harta termahal. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa waktu adalah modal yang paling unik yang tidak mungkin dapat diganti dan tidak mungkin dapat disimpan tanpa digunakan, serta tidak mungkin mendapatkan waktu yang dibutuhkan meskipun dengan mengeluarkan biaya.

Mengelola waktu berarti menata diri dan merupakan salah satu tanda keunggulan dan kesuksesan. Oleh karena itu, bimbingan untuk mendalami masalah ini adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan kita semua, apapun jabatan dan profesi kita serta tidak memandang tinggi rendahnya kedudukan seseorang.

Dengan demikian, marilah kita mulai mempelajari manajemen waktu, karena memang ajaran Islam menghendaki demikian, sehingga dengan mempunyai bekal pengetahuan tentang waktu, kita dapat terampil mengelolanya. Dengan keinginan yang kuat, maka kita akan dapat menjadikan sebuah kebiasaan dalam pemanfaatan waktu. Namun, sebelum kita mempelajari manajemen waktu lebih lanjut, maka kita harus menyadari urgensi dan nilai waktu dengan tulus. Apabila tanpa mengakui secara tulus kebutuhan untuk mengorganisir dan mengelola waktu, maka sama saja dengan menyia-nyiakan waktu. Sebab, apalah manfaat rambu-rambu jalan bagi orang yang tidak memiliki keinginan untuk melintasi jalan tersebut.

Perlu kita fahami bahwa, apabila seorang Muslim mampu mengelola waktu dengan baik, maka akan memperoleh optimalisasi dalam kehidupannya. Namun, apabila tidak mampu, maka seseorang tidak akan mampu mengelola sesuatu apapun karena waktu merupakan modal dasar bagi kehidupan seorang Muslim yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Yunus: 6)

” Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kau akan hidup selamanya. Dan beramallah untuk akhiratmuseolah-olah kau akan mati besok.”<

Rasulullah SAW memberikan kiat-kiat agar shalat khusyuk.  mengingat kematian ketika dalam shalat. Sabda Rasulullah SAW, ”Ingatlah kalian terhadap mati ketika dalam shalat. Sesungguhnya seseorang yang ingat mati dalam shalat, ia akan memperbaiki shalatnya. Jika tidak mengingat kematian diri kalian, niscaya urusan duniawi akan mengganggu konsentrasi shalat kalian.” (HR Ad-Dailami)

sungguh indah bukan.

Sesungguhnya kita semua mengharap kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun kebahagiaan dunia – akhirat ini tidak akan kita peroleh tanpa usaha dan amal ibadah

“Carilah teman dari perilakumu. Namun sesungguhnya temanmu di dalam kubur adalah amal-amalmu.”

sudahkah engkau tahu duhai sahabatku ?

bagaimana dengan waktumu ?

untuk apa kau gunakana ?

Wahai diri,
Tundukkanlah hatimu selalu dihadapan-Nya, pasrahkan jiwamu selalu kepada-Nya, lihatlah dirimu yang lemah lagi hina itu, pandanglah jasadmu yang rapuh itu, lihatlah apa yang telah engkau usahakan untuk-Nya, dan renungkanlah olehmu untuk apa umurmu engkau habiskan selama ini..

Teruslah engkau bermuhasabah diri dan jangan pernah melewatkannya.

Cobalah ambil cermin olehmu untuk melihat gambaran dirimu dan lihatlah dirimu yang berdiri disana.

Pandanglah dengan seksama semua bagian tubuhmu yang lemah dan fana itu.

Pandanglah ia dengan penuh kerendahan dirimu di hadapan-Nya.

Wahai diri,

Pandanglah kepalamu.
Apakah ia senantiasa engkau tundukkan dan sujudkan dengan penuh harap, takut dan penuh kehinaan di hadapan Rabb-mu, atau apakah ia masih tetap menengadah penuh kesombongan ?

wahai diri, apakah engkau sudah tahu ?

disarikan dari berbagai sumber

semoga bermanfaat